Seorang Fotografer Mengungkap Bagaimana Anak-anak di Syria Tidur part.2

Yuk Share di Facebook



Lanjutan dari artikel Seorang Fotografer Mengungkap Bagaimana Anak-anak di Syria Tidur 



 

Magnuss Wennman, seorang pemenang penghargaan foto-jurnalis asal Stockolm, telah mem-publish foto-foto menyayat hati tentang apa yang telah menerpa anak-anak Syria di Timur Tengah dan Eropa sebagai tempat pengungsian mereka dari konflik di negara asalnya.

Untuk menciptakan karyanya yang berjudul “Where The Children Sleep”, Wenmann berkelana ke daerah-daerah dimana anak-anak ini dan keluarganya mengungsi dan menceritakan kisah mereka.

Dalam sebuah interview dengan CNN, Wenmann berkata bahwa konflik dan krisis memang bisa jadi sulit bagi orang lain untuk memahaminya, “namun tidak ada yang sulit dipahami dari seorang anak membutuhkan tempat yang nyaman untuk tidur. Itu sangat mudah dipahami” tuturnya.

“Mereka telah kehilangan harapan” Tambah Wenmann, “Sangat sulit bagi anak-anak jika harus berhenti menjadi anak-anak dan berhenti bersenang-senang, meskipun di tempat-tempat yang tidak layak”

Inilah mereka para anak-anak Syria yang nasibnya kini sangat menyayat hati :

Ahmad, 7 Tahun, Horgos/Roszke

Bahkan tidur bukanlah zona aman

Itulah yang terjadi kepada Ahmad ketika terror kembali terulang. Dia sedang di rumah ketika bom itu menyerang rumah keluarganya di Idlib. Kepalanya terkena ledakan namun ia selamat. Dan adiknya tidak. Keluarganya sudah bertetangga dengan peperangan selama beberapa tahun, namun tanpa rumah, mereka tidak punya pilihan lain. Mereka terpaksa melarikan diri.

Sekarang Ahmad terdampar bersama pengungsi-pengungsi lainnya di sepanjang jalan menuju perbatasan Hungaria. Ketika foto ini diambil adalah hari ke-16 dari perjuangan mereka disana. Keluarganya terbiasa tidur di halte bus, di jalanan, dan di hutan, terang ayah Ahmad.




 

Shiraz, 9 Tahun, Suruc.

Shiraz (yang sekarang berumur 9 tahun) ketika itu masih berumur 3 bulan ketika ia terserang demam tinggi, dokter mendiagnosanya terjangkit polio dan menasehati orangtuanya untuk tidak terlalu mengeluarkan uangnya terlalu banyak untuk anak gadis yang 'tidak lagi punya kesempatan' itu. Lalu peperangan datang. Ibunya, Leila, mulai menangis ketika ia menceritakan bagaimana ia membungkus anaknya tersebut dengan selimut lalu membawanya melewati perbatasan dari Kobane ke Turki. Shiraz, yang tidak bisa berbicara, menerima ayunan kayu di camp pengungsiannya, dia menggeletakkan dirinya disana, siang dan malam.

Shehd, 7 Tahun.

Shehd sangat suka menggambar, namun akhir-akhir ini segala hal yang ia gambar tak jauh dari satu tema : weapons. "gadis kecil itu melihatnya dimana-mana, senjata selalu ada dimana-mana" jelas ibunya ketika anak itu tidur di jalanan perbatasan Hungaria. Sekarang ia tidak menggambar sama sekali. Keluarganya tidak membawa kertas, crayon, atau alat tulis lainnya bersama mereka di pesawat. Shehd tidak lagi bermain dengan apapun. Segala kondisi ini menjadikan para anak-anak terpaksa menjadi orang dewasa, melupakan kesenangan dan hanya fokus memikirkan apa yang akan terjadi tiap jamnya dalam sehari.

Keluarganya mengalami kesulitan mencari makan ketika mengembara.Terkadang mereka hanya bisa memunguti apel-apel yang jatuh dari sepanjang pohon di jalan. Jika keluarga mereka tahu bagaimana sulitny perjalanan yang dihadapi, mereka lebih memilih untuk tinggal di Syria dan menghadapi segala resiko yang ada.


Amir, 20 Bulan, Zahle Fayda.

Amir, 20 bulan, adalah anak yang terlahir sebagai pengungsi. Ibunya percaya bahwa anaknya itu sudah mengalami trauma sejak masih dalam kandungan. "Amir tidak pernah berkata satu katapun". tutur Shahana, 32.

Di dalam tenda plastiknya dimana keluarga mereka kini tinggal, Amir tidak mempunyai mainan, tetapi ia bermain dengan apapun yang ditemukannya di jalan dan lantai. "Dia suka tertawa, meskipun Amir tidak berbicara". tambah ibunya.


Juliana, 2 Tahun, Horgos, Serbia.

34 derajat Celcius. Lalat-lalat berterbangan dan menggerayangi wajah Juliana, menyulitkan dirinya untuk tidur.

Keluarga Juliana telah berjalan megelilingi Serbia selama 2 hari. Ini adalah fase terkini yang sedang dialami oleh para pengungsi sejak 3 bulan yang lalu. Ibu dari anak perempuan ini menyelimuti anaknya dengan selendang miliknya di atas tanah. Fatima menenangkan diri. Beberapa meter dari tempat istirahat mereka, terdengar hentakan kaki dari aliran arus manusia yang tiada henti. Ketika itu adalah akhir Agustus dan Hungaria hendak membarikade dirinya dengan kawat dan kabel berduri untuk menghentikan arus para pengungsi. Tapi dalam beberapa hari dekat ini, masih memungkinkan untuk menembus batas kota Horgos. Secepatnya setelah sore datang, keluarga juliana akan memanfaatkan kesempatan itu.

Fara, 2 Tahun, Azraq.


Fara yang berumur 2 tahun ini sangat menyukai sepakbola. Ayahnya mencoba membuatkan gadis cantik itu bola-bola dari kumpulan apapun yang ditemuinya, tapi tentu saja bola buatannya itu tidak awet.

Setiap malam, ia memberi ucapan selamat malam kepada Fara dan kakanya Tisam, 9 tahun, sembari berharap esok hari akan bisa membawa bola yang layak untuk dimainkan. Seluruh mimpi terasa sudah tidak mungkin dicapai lagi, namun ia takkan menyerah untuk mimpinya yang satu ini.

---
Semoga mereka selalu diberikan ketabahan, kekuatan, dan kebahagiaan dari segala penderitaan mereka... aamiin. 



Share this post

Post a comment

:ambivalent:
:angry:
:confused:
:content:
:cool:
:crazy:
:cry:
:embarrassed:
:footinmouth:
:frown:
:gasp:
:grin:
:heart:
:hearteyes:
:innocent:
:kiss:
:laughing:
:minifrown:
:minismile:
:moneymouth:
:naughty:
:nerd:
:notamused:
:sarcastic:
:sealed:
:sick:
:slant:
:smile:
:thumbsdown:
:thumbsup:
:wink:
:yuck:
:yum:

Next Post
Newer Post
Previous Post
Older Post