Seorang Fotografer Mengungkap Bagaimana Anak-anak di Syria Tidur

Yuk Share di Facebook


Magnuss Wennman, seorang pemenang penghargaan foto-jurnalis asal Stockolm, telah mem-publish foto-foto menyayat hati tentang apa yang telah menerpa anak-anak Syria di Timur Tengah dan Eropa sebagai tempat pengungsian mereka dari konflik di negara asalnya.

Untuk menciptakan karyanya yang berjudul “Where The Children Sleep”, Wenmann berkelana ke daerah-daerah dimana anak-anak ini dan keluarganya mengungsi dan menceritakan kisah mereka.



Dalam sebuah interview dengan CNN, Wenmann berkata bahwa konflik dan krisis memang bisa jadi sulit bagi orang lain untuk memahaminya, “namun tidak ada yang sulit dipahami dari seorang anak membutuhkan tempat yang nyaman untuk tidur. Itu sangat mudah dipahami” tuturnya.

“Mereka telah kehilangan harapan” Tambah Wenmann, “Sangat sulit bagi anak-anak jika harus berhenti menjadi anak-anak dan berhenti bersenang-senang, meskipun di tempat-tempat yang tidak layak”

Lamar, 5 Tahun, Horgos, Serbia.

syr1Boneka, kereta-keretaan, dan mainan bola miliknya tertinggal di rumahnya di Baghdad, Lamar seringkali menceritakan tentang mainan-mainannya tersebut jika rumahnya disebut. Bom mengubah segalanya. Keluarganya sedang dalam perjalanan untuk membeli makan ketika bom tersebut diletakkan di dekat rumahnya.

“Sudah tidak memungkinkan untuk tinggal disana lagi” tutur Sara, nenek Lamar. Setelah dua kali berusaha menembus sungai Turki dengan perahu karet, akhirnya mereka berhasil mencapai pinggiran Hungaria. Sekarang lamar tidur dengan selimutnya di tengah hutan, kedinginan dan penuh kesedihan.

Abdullah, 5 Tahun, Belgrad, Serbia.syr2

Abdullah memiliki penyakit pada aliran darahnya. Pada dua hari terakhir dia selalu tidur di depan stasiun pusat kota Belgrade. Dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketika saudari perempuan kandungnya dibunuh di rumahnya di Daraa. “Dia masih sangat merasa shock dan selalu bermimpi buruk setiap malam”. Tutur ibunya. Abdullah sangat lelah dan tidak dalam keadaan sehat tentunya, tapi ibunya tidak memiliki uang untuk membelikan obat untuknya.

Ahmed, 6 Tahun, Hongos, Serbia.syr3

Itu adalah lewat tengah malam, ketika Ahmed tertidur di hamparan rumput. Orang tua dan kakak-kakaknya duduk di sekitarnya mencari cara untuk bisa keluar dari Hungaria tanpa harus mendaftar diri mereka kepada pengurus setempat.

Ahmad barulah berumur 6 tahun namun ia membawa tas berisi barang-barangnya sendiri melalui perjalanan yang luar biasa karena keluarganya berpindah-pindah dengan berjalan kaki. “Dia sangat berani dan hanya menangis beberapa kali di sore hari” komentar Pamannya, yang selama ini merawat Ahmed sepeninggal ayahnya yang terbunuh di kampung halamannya di Deir ez-zor di utara Syria.

Maram, 8 Y,O, Ammansyr4

Bocah berumur 8 tahun, Maram, baru saja pulang dari sekolah ketika roket menyerang rumahnya. Pecahan atap rumah mendarat tepat diatas kepalanya. Ibunya kemudian membawanya ke rumah sakit terbuka yang terdekat di Syria, dan dari situ dia dirujuk ke Jordan melalui jalur udara. Cedera kepalanya menjadikan ia menderita pendarahan kepala. Pada 11 hari pertama Maram tidak sadarkan diri. Namun sekarang ia telah sadar, tapi dengan cedera pada rahang dan tidak bisa berbicara sama sekali



Ralia 7 tahun, dan Rahaf 13 tahun, Beirutsyr5

Ralia (7 tahun) dan Rahaf (13 tahun) tinggal di jalanan Beirut. Mereka berasal dari Damaskus, dimana sebuah granat membunuh ibu dan saudara kandungnya. Hidup bersama ayahnya mereka menjalani tidur yang sulit selama setahun. Mereka berjubel bersama diatas kardus-kardus.

Moyad, 5 Tahun, Amman.syr6

Moyad dan ibunya membutuh kan tepung untuk membuat pie bayam. Merekapun pergi menuju pusat perbelanjaan terdekat di Dar’a. Mereka melewati taksi yang telah dipasangi bom oleh seseorang. Ibu Moyad tewas di tempat. Moyad, yang telah di bawa ke Jordan mengalami luka bekas senjata api di kepala, punggung dan pinggulnya, yang menjadikannya tidak memiliki posisi tidur lain.

Walaa, 5 Tahun, Dar El-As.syr7

Walaa, 5, memiliki kamarnya sendiri ketika masih tinggal di Aleppo. Katanya, dia dulu sangat menyukai tidur di malam hari, namun tidak dengan saat ini. Dia selalu menangis jika bertemu malam hari. Menurutnya, waktu tidur adalah saat-saat yang sangat mengerikan, karena pada saat itulah penyerangan terjadi. Ibunya sering menenangkannya dengan membuat rumah kecil dari bantal sembari menasehati Walaa bahwa tidak ada yang perlu ditakuti.



Nantikan part.2 nya yaa…

Share this post

Post a comment

:ambivalent:
:angry:
:confused:
:content:
:cool:
:crazy:
:cry:
:embarrassed:
:footinmouth:
:frown:
:gasp:
:grin:
:heart:
:hearteyes:
:innocent:
:kiss:
:laughing:
:minifrown:
:minismile:
:moneymouth:
:naughty:
:nerd:
:notamused:
:sarcastic:
:sealed:
:sick:
:slant:
:smile:
:thumbsdown:
:thumbsup:
:wink:
:yuck:
:yum:

Next Post
Newer Post
Previous Post
Older Post