Material Bangunan Berbahan Dasar Tempe

Yuk Share di Facebook

Sebetulnya 3 tahun yang lalu tidak percaya dengan jamur bisa jadi material bangunan. Namun keraguan itu sedikit hilang setelah riset panjang (2 tahun) dengan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.) Adi Reza Nugroho dan kawan-kawan peneliti berhasil membuat bio-komposit ini tanpa perekat sintetis kimia sedikitpun, membuat material ini aman dan tidak beracun. Menariknya material ini terbuat dari limbah pertanian, dan petani Indonesia setiap tahunnya membuang 1,2 juta ton limbah pertanian. Teknologi nya seperti membuat tempe, miselia atau putih-putih yang kita lihat di tempe sebetulnya perekat antar kedelai. Namun dieksperimen lagi agar ‘tempe’ ini layak jadi material bangunan


tempe2 tempe3 tempe5
Setelah bootstraping (modal dengan duit para peneliti sendiri), alhamdulillah Mycotech selama 2016 – 2018 riset akan didanai sekitar Rp 1.3 Milyar dari dana Riset Produktif LPDP kategori ‘Advance Material’ agar riset Adi Reza Nugroho dan teman-teman bisa naik kelas ke tahap komersialisasi dan akan terus berinovasi dengan BPPT dengan skema ‘joint research’

Setelah lulus kuliah para tim peneliti memang nekat usaha jamur Growbox. Dengan pengetahuan yang minim akan jamur ternyata usaha jualan jamur ini menghasilkan. Semakin dalam kami jamur dipelajari, semakin kagum akan manfaat makhluk ini. Paul Stamet, mikologi dari US mengatakan “mushroom can save the world.” Selain enak dimakan sebetulnya jamur bisa dimanfaatkan sebagai bio-remediasi area ‘ex-mining’, bio-etanol, baterai mobil listrik dan material bangunan. Dari literatur ini lah yang menginspirasi untuk mengembangkan teknologi jamur sehingga bisa bermanfaat bagi masyarakat.


tempe9 tempe10

Sebetulnya banyak tantangan selama teknologi ini dikembangkan. Setiap kali para peneliti menyebut ‘startup technology’ pasti semua orang mengasosiasikannya dengan teknologi berbasis IT atau digital. Hingga pada suatu saat ketika kami ‘pitching’, kami ditanya “ini teknologinya dimana ya?” kemudian mereka memberi contoh startup lain yang hanya punya akun Instagram, Twitter, Facebook adalah startup teknologi sesungguhnya. Antara gondok dan sedih karena mereka menyempitkan makna ‘teknologi’.
Karena sedang ramai investasi bombastis ke teknologi digital di Silicon Valley, kini orang berbondong – bondong investasi ke teknologi digital, dan e-commerce sudah menjamur jumlahnya di Indonesia. Mereka tergiur dengan keberhasilan amazon, alibaba, dll yang jika divaluasi bisa mencapai milyaran dolar.

Namun sebetulnya ‘bio-based material is future blockbuster’ menurut Ellen MacArthur Foundation. Beberapa Venture Capital (VC) di US dan EU sendiri mulai mengubah haluan investasi mereka ke bidang ‘clean tech’, ‘advance material’, ‘bio-technology’, ‘sustainable product’, ‘life science’. Sempat terdata dari para peneliti ‘material tempe’ ini, sebagian aktivitas 15 VC dibidang tersebut, ternyata portofolio investasi mereka dapat mencapai $ 4.8 Milyar (Rp 64 Triliun) , sedangkan masih ada ratusan VC dibidang tersebut. Portofolio investasi terbesar Google Venture (GV) selama 2014 & 2015 (31 – 36%) adalah dalam bidang ‘life scinces’. ” I’m very proud of our life science team here at GV, and this area will remain a key focus for us now and in the future. I can think of no more important mission than to improve human health and global quality of life. Everyone has a right to nutritious food, clean water, and the best medical care — and I believe our team can help by investing in the companies that will make that a reality.” Kutipan CEO Google Ventures. Ternyata tren investasi di Silicon Valley mulai berubah.

Mungkin Indonesia masih jadi target empuk bagi penanam modal untuk menjadikan kita konsumen terbesar se-Asia no.3. Secara tidak sadar kita dibuat konsumtif. Padahal kita memiliki potensi terbesar untuk menjadi bangsa yang mampu memberi nilai tambah atas kekayaan alam kita. Mycotech masih seumur jagung, para peneliti tanah air ini masih ketinggalan jauh dengan beberapa perusahaan material jamur di US. Beberapa sudah mendapat investasi $ 42 juta, Nilai ini kecil sebetulnya dibanding perusahaan kayu imitasi dari beton yang diberi modal $ 52 juta untuk bikin pabrik di Cikarang. Ketika tim peneliti studi banding kesana, teknologi mereka sudah dapat memproduksi material ini dengan skala massal. Bahkan baru baru ini IKEA bekerjasama dengan mereka untuk menggantikan setiap kemasan IKEA yang tidak ramah lingkungan. Sebetulnya belum ada kata terlambat untuk kita mengembangkan teknologi ini, Jepang sendiri pasca perang dunia terinspirasi produk Eropa dan Amerika, alhasil mereka menguasai pasar, kini strategi itu diikuti Korea dan China.

“Towards sustainable and independent Indonesia, Mycotech replace ‘end-of-live’ concept with restoration, shift towards the use of renewable sources, eliminate of toxic chemical, which impair reuse and aims for the elimination of waste through the superior design of material.”

Sumber : Dikutip dari Facebook Page Adi Reza Nugroho

Share this post

Post a comment

:ambivalent:
:angry:
:confused:
:content:
:cool:
:crazy:
:cry:
:embarrassed:
:footinmouth:
:frown:
:gasp:
:grin:
:heart:
:hearteyes:
:innocent:
:kiss:
:laughing:
:minifrown:
:minismile:
:moneymouth:
:naughty:
:nerd:
:notamused:
:sarcastic:
:sealed:
:sick:
:slant:
:smile:
:thumbsdown:
:thumbsup:
:wink:
:yuck:
:yum:

Next Post
Newer Post
Previous Post
Older Post