Elly Risman : 4 Gaya Disiplin Populer, Betulkah Diperlukan?

Yuk Share di Facebook

Hukuman, Pukulan, Paksaan, dan Hadiah adalah Gaya Disiplin Populer. Maksudnya, paling banyak diterapkan oleh orangtua. Perlukah gaya disiplin tersebut? Bagaimana cara mendisiplinkan yang bijaksana dan tepat?

Elly Risman, seorang psikolog ternama yang terkenal paling keras menyuarakan tentang pentingnya pengasuhan orangtua terhadap anak ini untuk kali ini membahas tentang gaya disiplin populer yang biasanya berupa hukuman, hadiah, pukulan, paksaan dan hal lainnya bergantung pada orangtua masing-masing. Sebenarnya perlukah itu semua?

Biasanya ketika mendengar kata disiplin yang terngiang di benak adalah aturan, pembatasan, pengekangan, hukuman, hadiah dan hal-hal yang kurang lebih serupa seperti itu. tetapi, sebenarnya seperti apakah itu disiplin yang sebenarnya dari sisi parenting?

Dalam disiplin yang perlu diutamakan paling pertama adalah DKS, atau kepanjangannya Disiplin dengan Kasih Sayang. Mungkin beberapa orang bertanya, apa bisa? Tentu bisa. Jusru yang namanya disiplin dalam hal parenting itu haruslah dengan berlandaskan kasih sayang.

Disiplin dalam parenting adalah satu hal yang paling rumit di dunia. Mengapa begitu?

Pertama, karena inkonsisten antar pasangan yang dipengaruhi oleh masa kecil masing-masing ayah dan ibu tentang gaya pendidikan yang diterapkan, antara mau dan tidak maunya bergantung dengan bagaimana mereka dulu didisiplinkan.

Cobalah para orang tua bertanya pada diri masing-masing, benarkah hal ini terjadi pada dirimu?

Nah, untuk memecahkan masalah inkonsistensi ini harus dibentuk suatu konsisten antar pasangan. Bentuk kesepakatan dan kesepahaman untuk disiplin yang diterapkan di rumah.

Kedua, setiap anak itu unik. Mereka berbeda dengan orangtuanya dan para orang tua kebanyakan tidak sadar akan hal itu.

Anak bukanlah The Mini Me. Anak ketika lahir membawa 350 ribu sifat ayah dan 350 ribu sifat ibu. Dan mana yang akan muncul kita tidak akan pernah tau. Beberapa orangtua bergumam "kok anak saya beda yaa sama saya". Loh, bukan hal yang aneh justru, Allah menciptakan segala mahluknya berbeda, maka jangan sampai para orangtua memaksa dan membentuk si anak sebagai mana dirinya persis meskipun ada beberpa persamaan.

Ketiga, banyak diantara para orangtua yang masih tidak tahu, yang mana yang memang wewenang orangtua untuk mengatur, dan mana yang namanya hak anak.

Anak itu punya siapa? Perlu diingat! anak itu adalah Amanah titipan Allah. Kita tidak punya wewenang untuk memperlakukan mereka sesuka kita, mereka tetap memiliki malaikat di kedua sisinya yang mencatat segala hal yang kita lakukan terhadapnya.

Kita harus membentuk kebiasaan dan meninggalkan kenangan yang baik.

Kebiasaan = Perilaku baik yang ingin kita bentuk pada anak

Kenangan = Apa yang anak ingat tentang orangtua & hidupnya.

Jadi, ini adalah soal bagaimana kita membentuk anak dan bagaimana kita ingin dikenang oleh anak, baiknya atau justru buruknya.

Untuk  menjadi pribadi yang baik, anak tidak perlu mengingat rasa sakit yang terjadi dalam hidupnya. Bagaimana lah jadinya pribadi yang dibentuk oleh dendam?

Keempat, orangtua haruslah fleksibel dalam menegakkan aturan dan menyesuaiannya dengan keunikan anak itu sendiri dan tidak terlalu mengekang. Ini bukanlah hal mudah, bahkan sulit. Anak itu unik, terkadang para orang tua juga lelah, dan kurang begitu paham akan ilmu tentang parenting, namun semua itu harus di fleksibelkan. Meskipun ada beberapa disiplin yang utama dan tidak difleksibelkan seperti shalat tepat waktu, makan dengan tangan kanan dan hal-hal utama dan dasar bagi anak lainnya.

Untuk menyeimbangkan antara fleksibilitas dalam menentukan aturan, keunikan anak, dan batasan ketegasan orangtua terhadap anak, diperlukan observasi mendalam terhadap kepribadian anak secara mendalam, dan membedakan cara berkomunikasi terhadap masing-masing kepribadian. Biasakan memahami dan menggunakan bahasa tubuh, dan memahami bahwa kelebihan dan kekurangan anak adalah keunikan.

Namun, meskipun menghargai setiap keunikan anka, tetap harus ada yang namanya batasan tegas, apa itu? Adalah yang berkenaan dengan agama, dan yang menyangkut keselamatan jiwa.

Kelima, orangtua kebanyakan tidak tahu, bagaimana cara yang tepat dan benar dalam mendisiplinkan anak, kapan dan bagaimana, dan akibat jangka pendek dan jangka panjang darinya

Kata kunci dalam menerapkan disiplin adalah 'JANGAN SEPERTI TUKANG BANGUNAN YANG HANYA PUNYA PALU'. Dimana memutar mur dengan palu, mengencangkan kawat dengan palu, dan segala hal dilakukan dengan palu.

Menyikapi anak jangan sampai hanya menggunakan satu alat. Palu orangtua umumnya adalah kemarahan, hukuman, hadiah, atau paksaan.

Keenam, hasil dari pendisiplinan tidak akan keliatan dengan segera. Usaha ini tidak akan memunculkan hasil dengan segera seperti membangun jembatan. Hasil baru akan terlihat setelah 5 sampai10 tahun kedepan karena yang dibentuk adalah sifat manusia, bukan jembatan dan sejenisnya.

_____

Hukuman, Pukulan, Paksaan, dan Hadiah adalah Gaya Disiplin Populer. Pertanyaannya adalah benarkah hukuman orangtua terhadap anak akan membuat anak menyesal, belajar dari kesalahan, dan tidak mengulangi kesalahannya lagi atau hanya sekedar menyakitinya? atau bukannya justru itu hanya menjadikan para orangtua sebagai polisi yang harus dihindari?

Jangan sampai orang tua hanya memberi hukuman terhadap anak, tanpa memberikan arahan atau solusi terhadap permasalah yang menyebabkan anaknya tersebut dihukum.

Hukuman yang sekedar hukuman hanya menjadikan :

1. Membuat anak tidak belajar apa yang harus dilakukan jika  situasi yang sama muncul lagi.

2. Anak tidak belajar mengendalikan situasi dan dirinya.

3. Kontrol terhadap diri anak bukan terletak pada dirinya, melainkan pada orangtua.

4. Anak mengenang orangtua sebagai sosok yang galak.

Riset membuktikan bahwa akibat dari hukuman dapat merusak harga diri anak dan menyakiti fisik dan perasaan.

Ujung-ujungnya anak yang terlalu sering dihukum justru akan melawan, berbohong, melakukan segala sesuatu secara diam-diam dan kontrol diri anak itu sendiri tidak terbentuk.

Tidak ada hukuman yang efektif. Ada begitu banyak cara lain untuk menegakkan disiplin, tidak melulu soal hukuman, Hukuman yang efektif hanya untuk anak dibawah umur 7 tahun dan itupun jangan sampai dilakukan berlebihan. Kenapa dibawah 7 tahun? karena diatas umur itu otak anak sudah mulai terbentuk dan anak mulai memiliki cara berfikirnya sendiri.

Lalu kalo tidak dengan hukuman? dengan apa kita mendisiplinkan anak?



Perlu diperhatikan yang namanya hukuman dan konsekuensi. Orangtua tidak selamanya ada dan tidak selamanya para anak selalu bersama orangtuanya. Maka yang perlu dilakukan bukanlah menghukum, tetapi membentuk kontrol diri anak melalui kesepakatan atas konsekuensi.

Selanjutnya adalah disiplin melalui hadiah. Sebenarnya hadiah itu justru mengajarkan anak bahwa mereka berhak mengharapkan bayaran untuk melakukan sesuatu, dan bukan untuk bekerjasama.

Memang itu menyenangkan anak, dan mengikat kasih sayang, namun jangan sampai diberikan terus menerus. Berikan pemahaman yang dalam kepada anak tentang pandangannya terhadap hadiah.

Hadiah bukan 'sogokan'. Boleh memberi hadiah, tapi jangan sampai dijanjikan di depan. Hadiah yang dijanjikan didepan akan menjadikan anak jadi penuntut. Hadiah yang sudah dijanjikan terlebih dahulu di depan sama saja dengan para koruptor yang disogok. Kamu mau anakmu disamakan dengan para koruptor itu?

Hadiah tidak selamanya harus benda. Bisa berupa kasih sayang, kesempatan, dan waktu. sesuaikan dengan umur. Jika sejak kecil hadiah besar, sudah besar dia akan diberi apa? Hadiah akan kehilangan makna.

Lalu bagaimana membedakan cara mendisiplinkan anak di bawah 7 tahun dan diatas 7 tahun?

Mendisiplinkan anak di atas 7 tahun :

Anak yang sudah lebih dari 7 tahun sudah bisa diajak berfikir. Maka perbanyaklah diskusi dalam perumusan kesepakatan aturan dan konsekuensi. Haruslah merupakan keputusan bersama, kecuali aturan yang harga mati.

Mendisiplinkan anak dibawah 7 tahun :

Gunakan AK. Atau Alasan Kenapa. Segala disiplin yang diterapkan pada anak dibawah 7 tahun harus diterapkan. Kenapa ini diharuskan, kenapa ini tidak boleh, dan sebagainya. Papa mau kamu begini karena bla bla bla, kamu gaboleh ini itu sama mama karena bla bla bla semua alasan harus di berikan secara jelas kepada anak.

Dalam Al-quran sendiri dijelaskan bagaimana segala perintah Allah memiliki alasannya kenapa iya dan kenapa tidaknya.

--

Setiap orang punya kesalahan dan tidak sempurna, maka mari bersama-sama kita saling memperbaiki, yang lalu biarlah berlalu, sekarang adalah sekarang. -Elly Risman, Psi

Share this post

Post a comment

:ambivalent:
:angry:
:confused:
:content:
:cool:
:crazy:
:cry:
:embarrassed:
:footinmouth:
:frown:
:gasp:
:grin:
:heart:
:hearteyes:
:innocent:
:kiss:
:laughing:
:minifrown:
:minismile:
:moneymouth:
:naughty:
:nerd:
:notamused:
:sarcastic:
:sealed:
:sick:
:slant:
:smile:
:thumbsdown:
:thumbsup:
:wink:
:yuck:
:yum:

Next Post
Newer Post
Previous Post
Older Post