Kisah Nyata Kapolres Berhati Emas dan Ibu yang Memasak Batu

Yuk Share di Facebook

AKBP Guntur di samping gubug Pak Andun

Kisah di jaman Umar ra. * seakan terulang 1000 tahun kemudian di Indonesia. Terlonjak mendengar ada seorang ibu yang memasak batu demi menenangkan anak-anaknya yang kelaparan  di sebuah gubuk, Pak Kapolres segera bergerak cepat. Rumahpun dibangun dalam 35 hari

Kisah itu diceritakan oleh rekan  AKBP Guntur, nyaris ia tak percaya. Ternyata rengekan itu berasal dari sebuah gubug yang sangat tidak layak. Dihuni oleh sepasang suami isteri Andun (45) dan Iyah (33) dengan ketujuh anaknya.
"Kisah itu disampaikan melalui rekan saya, saya terlonjak tak percaya. Rekan saya itu bilang jika suatu malam ada anak tetangganya yang kelaparan kemudian sang anak merengek minta makan. Ketika rekan saya datang sambil bawa makanan ternyata si anak yang merengek-rengek itu sudah tidur, ketika dilihat lebih jelas oleh rekan saya itu ternyata ibunya lagi pura-pura masak makanan yang direbus padahal makanan itu cuma batu biasa. Biar dikira masak makanan," cerita AKBP Guntur, kepada detikcom sekitar pukul 06.05 WIB, Selasa (3/11/2015).
Anak-anak mereka masih sangat kecil, yang tertua berusia 11 tahun, sementara yang termuda bahkan baru berusia 2 bulan yang kesemuanya perempuan. Mereka adalah  Diana Safitri (11), Dinda Marisa (9), Risma (8), Ai Lestari (7), Ratna (5), Rina Maisaroh (2) dan Dede Siti Nurazizah (2 bulan).

Andun bekerja sebagai buruh serabutan. Ia sudah tak ingat, sejak kapan menghuni gubug itu. Gubug Andun dan keluarga berukuran seluas 6x4 m, namun hanya bagian dapur yang dapat dihuni karena sisanya ambruk.





Hanya berselang sehari setelah pertemuannya dengan Pak Andun, AKBP Guntur langsung menghubungi kepala BPN Cianjur dan Manajer Perumnas.

"Saya hubungi Pak Budi kepala BPN, saya bujuk Beliau (menanyakan) ada nggak lokasi tanah yang bisa diberikan ke Pak Andun ini. Pak Budi juga langsung menuju lokasi dan mengecek ternyata tanah yang ditempati pak Andun ini memang belum bersertifikat," 

Selama ini Pak Andun tinggal di lahan milik Pak Kilin. Lahan milik Pak Kilin cukup luas karenanya AKBP Guntur membujuk Pak Kilin agar memberikan sedikit tanahnya untuk dibangun, sementara seluruh tanah di luar itu dijanjikan akan segera dibuatkan sertifikatnya. Syukurlah, Pak Kilin setuju

AKBP Guntur bersama Pak Andun, Bu Iyah, dan anak-anaknya (dok : Polres Cianjur)


Setelah tanah didapat, Guntur langsung mengontak kepala Perumnas Cianjur termasuk sejumlah pengusaha. Dalam beberapa bulan, mereka berhasil mengumpulkan dana untuk pembangunan rumah. Bahkan salah satu sumber dananya adalah uang yang rutin disisihkan para Anggota Polisi setiap apel pagi.

"Alhamdulillah, pada 30 Oktober kemarin atau bertepatan dengan rangkaian acara Hari kesatuan Gerak Bhayangkari dengan 35 hari pekerjaan pembangunan rumah Pak Andun selesai kita langsung serahkan ke beliau," kata Guntur
Sekarang pak Andun bisa hidup dalam rumah yang lebih layak. Bahkan, Ibu Iyah, isteri pak Andun juga akan diberi bantuan untuk modal usaha. Hati emas pak Guntur diacungi jempol oleh banyak pihak. Walau kesejahteraan warga bukan tugas kepolisian, namun kemanusiaan tak kenal batas tugas. bukan?


*Adapun kisah lengkap yang terjadi pada zaman Umar bin Khaththab adalah sebagai berikut seperti dimuat di dakwatuna.com

Suatu masa dalam kepemimpinan Umar, terjadilah Tahun Abu. Masyarakat Arab, mengalami masa paceklik yang berat. Hujan tidak lagi turun. Pepohonan mengering, tidak terhitung hewan yang mati mengenaskan. Tanah tempat berpijak hampir menghitam seperti abu.

Putus asa mendera di mana-mana. Saat itu Umar sang pemimpin menampilkan kepribadian yang sebenar-benar pemimpin. Keadaan rakyat diperhatikannya saksama. Tanggung jawabnya dijalankan sepenuh hati. Setiap hari ia menginstruksikan aparatnya menyembelih onta-onta potong dan menyebarkan pengumuman kepada seluruh rakyat. Berbondong-bondong rakyat datang untuk makan. Semakin pedih hatinya. Saat itu, kecemasan menjadi kian tebal. Dengan hati gentar, lidah kelunya berujar, “Ya Allah, jangan sampai umat Muhammad menemui kehancuran di tangan ini.”


Umar menabukan makan daging, minyak samin, dan susu untuk perutnya sendiri. Bukan apa-apa, ia khawatir makanan untuk rakyatnya berkurang. Ia, si pemberani itu, hanya menyantap sedikit roti dengan minyak zaitun. Akibatnya, perutnya terasa panas dan kepada pembantunya ia berkata “Kurangilah panas minyak itu dengan api”. Minyak pun dimasak, namun perutnya kian bertambah panas dan berbunyi nyaring. Jika sudah demikian, ditabuh perutnya dengan jemari seraya berkata, “Berkeronconglah sesukamu, dan kau akan tetap menjumpai minyak, sampai rakyatku bisa kenyang dan hidup dengan wajar.”

Hampir setiap malam Umar bin Khattab melakukan perjalanan diam-diam. Ditemani salah seorang sahabatnya, ia masuk keluar kampung. Ini ia lakukan untuk mengetahui kehidupan rakyatnya. Umar khawatir jika ada hak-hak mereka yang belum ditunaikan oleh aparat pemerintahannya.

Malam itu pun, bersama Aslam, Khalifah Umar berada di suatu kampung terpencil. Kampung itu berada di tengah-tengah gurun yang sepi. Saat itu Khalifah terperanjat. Dari sebuah kemah yang sudah rombeng, terdengar seorang gadis kecil sedang menangis berkepanjangan. Umar bin khattab dan Aslam bergegas mendekati kemah itu, siapa tahu penghuninya membutuhkan pertolongan mendesak.

Setelah dekat, Umar melihat seorang perempuan tua tengah menjerangkan panci di atas tungku api. Asap mengepul-ngepul dari panci itu, sementara si ibu terus saja mengaduk-aduk isi panci dengan sebuah sendok kayu yang panjang.

“Assalamu’alaikum,” Umar memberi salam.

Mendengar salam Umar, ibu itu mendongakan kepala seraya menjawab salam Umar. Tapi setelah itu, ia kembali pada pekerjaannya mengaduk-aduk isi panci.

“Siapakah gerangan yang menangis di dalam itu?” tanya Umar.

Dengan sedikit tak peduli, ibu itu menjawab, “Anakku….”

“Apakah ia sakit?”

“Tidak,” jawab si ibu lagi. “Ia kelaparan.”

Umar dan Aslam tertegun. Mereka masih tetap duduk di depan kemah sampai lebih dari satu jam. Gadis kecil itu masih terus menangis. Sedangkan ibunya terus mengaduk-aduk isi pancinya.

Umar tidak habis pikir, apa yang sedang dimasak oleh ibu tua itu? Sudah begitu lama tapi belum juga matang. Karena tak tahan, akhirnya Umar berkata, “Apa yang sedang kau masak, hai Ibu? Kenapa tidak matang-matang juga masakanmu itu?”

Ibu itu menoleh dan menjawab, “Hmmm, kau lihatlah sendiri!”

Umar dan Aslam segera menjenguk ke dalam panci tersebut. Alangkah kagetnya ketika mereka melihat apa yang ada di dalam panci tersebut. Sambil masih terbelalak tak percaya, Umar berteriak, “Apakah kau memasak batu?”

Perempuan itu menjawab dengan menganggukkan kepala.

“Buat apa?”

Dengan suara lirih, perempuan itu kembali bersuara menjawab pertanyaan Umar, “Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Ia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi belum. Lihatlah aku. Aku seorang janda. Sejak dari pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rejeki. Namun ternyata tidak. Sesudah magrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut yang kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar ia bangun dan menangis minta makan.”

Ibu itu diam sejenak. Kemudian ia melanjutkan, “Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya.”

Mendengar penuturan si Ibu seperti itu, Aslam akan menegur perempuan itu. Namun Umar sempat mencegah. Dengan air mata berlinang ia bangkit dan mengajak Aslam cepat-cepat pulang ke Madinah. Tanpa istirahat lagi, Umar segera memikul gandum di punggungnya, untuk diberikan kepada janda tua yang sengsara itu.

Karena Umar bin Khattab terlihat keletihan, Aslam berkata, “Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku saya yang memikul karung itu….”

Dengan wajah merah padam, Umar menjawab sebat, “Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?”

Aslam tertunduk. Ia masih berdiri mematung, ketika tersuruk-suruk Khalifah Umar bin Khattab berjuang memikul karung gandum itu. Angin berhembus. Membelai tanah Arab yang dilanda paceklik.


Share this post

Post a comment

:ambivalent:
:angry:
:confused:
:content:
:cool:
:crazy:
:cry:
:embarrassed:
:footinmouth:
:frown:
:gasp:
:grin:
:heart:
:hearteyes:
:innocent:
:kiss:
:laughing:
:minifrown:
:minismile:
:moneymouth:
:naughty:
:nerd:
:notamused:
:sarcastic:
:sealed:
:sick:
:slant:
:smile:
:thumbsdown:
:thumbsup:
:wink:
:yuck:
:yum:

Next Post
Newer Post
Previous Post
Older Post