Taktik Prabowo Hatta Keluarkan Indonesia dari "Middle Income Trap" I Bedah Visi Misi

Yuk Share di Facebook

Selama bertahun tahun, Indonesia terus berada dalam jebakan "middle income trap". Istilah ini disematkan pada negara-negara yang menempati posisi pendapatan menengah dalam waktu yang sangat lama. Perkembangan ekonomi Indonesia kini ternyata lebih cepat daripada yang diperkirakan sehingga berpeluang untuk keluar dan menuju negara maju.

APA ITU MIDDLE INCOME TRAP?

Bank Dunia  mengelompokkan negara-negara berdasarkan PNB (produk nasional bruto ) perkapita menjadi  4 kelompok:

Negara berpendapatan rendah ($ 1035 atau kurang),
Negara berpendapatan menengah bawah ($ 1036- $ 4085),
Negara berpendapatan menengah atas ( $ 4086 - $ 12.615) dan
Negara berpendapatan tinggi ( $ 12.616 ke atas).

Berdasarkan pengelompokan tesebut, suatu negara diklasifikasikan sebagai negara yang berada dalam middle income trap jika PNB perkapita  negara tersebut terperangkap dalam kelompok negara berpendapatan menengah dalam waktu yang cukup lama, untuk menuju kelompok berpendapatan tinggi.

Saat ini Indonesia berada pada kelompok menengah kebawah dengan PNB perkapita tahun 2013 sebesar $ 3391,6 dan PDB perkapita sebesar $ 3499,9 atau sebesar Rp 35 juta (sumber: BPS). Posisi ini sudah sangat baik jika dibandingkan dengan prediksi Bank Dunia bahwa Indonesia mencapai PDB perkapita sebesar $ 3000 pada tahun 2020, tapi ternyata kita mampu lebih cepat mencapainya . Namun tantangan kedepan semakin berat, banyak negara berkembang yang tidak mampu keluar dari jeratan middle income trap ini, sehingga butuh strategi yang tepat dan berkelanjutan agar kita mampu mencapai kelompok berpendapatan tinggi.



Ciri-ciri negara yang masuk middle income trap menurut Asian Development Bank (ADB) yaitu: 1. Rasio investasi terhadap PDB rendah 2.Pertumbuhan industri manufaktur rendah 3. Diversifikasi industri rendah 4. Kondisi pasar kerja buruk. Saat ini Indonesia berada pada kondisi dengan rasio investasi terhadap PDB sudah cukup bagus diangka 33,2 %, jika bisa dipertahankan bahkan ditingkatkan, Indonesia bisa berpeluang segera keluar dari middle income trap. Begitu juga dengan pertumbuhan industri manufaktur, diversifikasi industri dan kondisi pasar kerja harus ditingkatkan untuk mencapai keseimbangan ekspor dan impor.

APA VISI MISI PRABOWO-HATTA?

Dalam Visi dan Misi-nya, Prabowo-Hatta memiliki tujuan membangun Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur, serta bermartabat. Dan untuk merealisasikan Visi dan Misi tersebut, Prabowo-Hatta bertekad bulat bersama rakyat melaksanakan ‘Agenda & Program Nyata Untuk Menyelamatkan Indonesia’. 

Salah satu indikator kesuksesan agenda dan program nyata untuk menyelamatkan Indonesia ini adalah meningkatkan PDB  perkapita penduduk dari Rp 35 juta menjadi minimal Rp 60 juta dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 7 persen per tahun menuju pertumbuhan di atas 10 persen. Cara untuk mencapai pertumbuhan  itu adalah dengan strategi  peningkatan pertumbuhan yang ditekankan pada sektor produksi, sehingga dicapai keseimbangan optimal dengan pertumbuhan yang dipicu konsumsi (lebih produktif) di antaranya dengan:
  1. Memperbaiki infrastruktur dan irigasi untuk membuka 2 juta lapangan kerja per tahun. Saat ini daya saing infrastruktur Indonesia menduduki peringkat 82 dari 148 negara (sebelumnya peringkat 96) masih cukup jauh tertinggal, sehingga untuk meningkatkan daya saing infrastruktur ini Prabowo-Hatta bertekad meningkatkan anggaran untuk pembangunan infrastruktur sebesar 10,32% dari total anggaran 2014-2019 untuk membangun irigasi, 3000 km jalan raya nasional baru, 4000 km rel kereta api, pelabuhan laut (samudera dan nusantara) sebagai penghubung pulau-pulau di Indonesia, pelabuhan udara, listrik dan telekomunikasi.
  2. Membangun industri hilir pengolahan SDA untuk menguasai nilai tambah bagi perekonomian nasional sehingga meningkatkan pendapatan ekspor dan mengurangi impor olahan SDA yang menekan pertumbuhan ekonomi, khususnya nikel, tembaga dan bauksit yang memiliki penetrasi pasar cukup tinggi di Singapura, Thailand, Malaysia, Jepang dan Korea (sumber data: Kemenperin).
  3. Meningkatkan pembangunan dan daya saing  industri hilir kelapa sawit, karet, kakao, bubur kayu dan kertas, dan produk primer lainnya, untuk meningkatkan keterkaitan sektoral antara pertanian, sektor primer dan industri serta peluang ekspor. Sementara lahan rusak akibat eksploitasi sebelumnya akan diperbaiki untuk mencetak 2 juta hektar lahan perkebunan untuk bahan etanol/bahan bakar biomasa.
  4. Membangun dan mengembangkan industri nasional: (a) Transportasi darat (kereta api, mobil, dan sepeda motor, (b) Transportasi laut (angkutan kapal laut dan angkutan sungai serta penyeberangan), (c) Transportasi udara (pesawat terbang), (d) Alat berat dan alat mesin pertanian. Diharapkan pembangunan industri nasional ini mampu mengurangi ketergantungan impor modal tetap dan alat transportasi yang membebani neraca perdagangan.
  5. Meningkatkan dan melindungi kesejahteraan buruh dan pegawai sebagai bentuk upaya peningkatan pasar kerja Indonesia.

Dari pemaparan langkah-langkah mencapai VISI dan MISI Prabowo-Hatta diatas terlihat bahwa langkah yang diambil sejalan dengan kriteria yang diberikan oleh Asian Development Bank (ADB) untuk menjadi negara yang mampu keluar dari middle income trap. Secara bertahap kita bisa meningkatkan daya saing infrastruktur sehingga menunjang industri dan aktivitas ekonomi nasional, yang mampu menyerap lapangan kerja lebih banyak dan akhirnya mampu meningkatkan PDB perkapita rakyat Indonesia menuju kelompok negara dengan pendapatan tinggi.

Penulis : Alfati Nova, Mahasiswa Magister Ekonomi Syariah Universitas Indonesia



BAGAIMANA TAKTIK PRABOWO-HATTA?
Tentunya untuk pembangunan yang cukup agresif ini dibutuhkan anggaran yang lebih besar, padahal sebagaimana kita ketahui selama ini kita masih mengalami defisit anggaran yang cukup besar (220 T ditahun 2013). Prabowo-Hatta menyadari hal itu, dan menyiapkan langkah menutup kebocoran 1000 T pendapatan negara melalui:
  1. Menyelamatkan kehilangan potensi penerimaan pajak sebesar Rp 360 Triliun. Referensi  Angka kehilangan berdasarkan realisasi tax ratio penerimaan pajak tahun 2013 sebesar 12,3 % diproyeksikan meningkat menjadi 16,1 % ( Setara Zambia dan negara-negara ASEAN) dari PDB 2013. Tax ratio ini masih dibawah angka yang diperkirakan IMF, seharusnya Indonesia sudah memiliki tax ratio 21,5 % setara Afrika Selatan (sumber www.pajak.go.id).
  2. Kebocoran Anggaran Negara ( APBN) sebesar Rp 500 Triliun. Angka kebocoran berdasarkan asumsi 25 % dari APBNP 2013.
  3. Anggaran Negara Untuk Subsidi Energi sebesar  Rp 300 Triliun. Subsidi Energi (BBM + Listrik+ Cadangan BBM ) di APBN 2013. 
  4. Total Kebocoran pendapatan dan anggaran negara Rp 1.160 Triliun ( * Angka Dibulatkan)
  5. Untuk menyelamatkan anggaran dan pendapatan sebesar 1000 T tersebut Prabowo-Hatta akan melakukan langkah-langkah antara lain:
  • (a) Melaksanakan Reformasi Perpajakan dengan sebenar-benarnya sehingga efektif dalam meningkatkan rasio pajak (tax ratio), baik pada sektor pajak dalam negeri maupun pajak perdagangan internasional. Terkait dengan penerimaan pajak murni dari Ditjen Pajak (DJP), serangkaian langkah strategis disiapkan, mulai dari pemberian insentif dan terobosan tarif pajak, perluasan pajak final, sinergi informasi lintas-sektoral, hingga penajaman hirarki tindakan dalam peningkatan kepatuhan.
  •  (b) Meningkatkan peranan bea dan cukai sebagai alat regulasi dan sekaligus penerimaan negara, melalui antara lain integrasi teknologi informasi.
  •  (c) Mengoptimalkan sumber-sumber penerimaan negara selain dari Penerimaan Perpajakan berdasarkan pada penyisiran dan evaluasi yang ketat.
  • (d) Menyelenggarakan APBN yang Pro-Rakyat. Dari sisi penerimaan, meningkatkan penerimaan negara dari pajak dari sekitar 12 persen hingga mencapai rasio menuju 16 persen dari PDB dengan melaksanakan intensifikasi dan ekstensifikasi pemungutan pajak dan perbaikan sistem perpajakan yang lebih adil; serta menekan pemborosan dan inefisiensi pengeluaran anggaran.
  • (e) Merevisi subsidi untuk anggaran energi agar lebih tepat guna dalam meningkatkan pendapatan masyarakat tanpa mengabaikan perhitungan dampaknya terhadap inflasi yang membebani  masyarakat.

Visi dan Misi Prabowo-Hatta dalam perekonomian ini sangat menarik, karena membahas keterkaitan sekaligus memberikan solusi secara terukur antara pendapatan dan pengeluaran negara dalam APBN secara komprehensif yang kemudian dikaitkan dengan kondisi real perekonomian kita saat ini dan kondisi perekonomian global, sebagai modal menuju negara dengan pendapatan tinggi dengan PDB perkapita minimal RP 60 juta diakhir masa kepemimpinan 2019.

Dengan target pertumbuhan ekonomi rata-rata minimal 7% per tahun dan kenaikan PDB perkapita rata-rata minimal 6% setahun sampai tahun 2031, menurut wamenkeu Bambang Brod jonegoro, Indonesia bisa keluar dari middle income trap. Dan Prabowo-Hatta sangat menyadari itu, yang terlihat dalam visi dan misi bidang perekonomian mereka.

PERKECIL JURANG SI KAYA DAN SI MISKIN
Peningkatan PDB perkapita belum merepresentasikan pemerataan kesejahteraan di Indonesia, karena ada jurang kekayaan yang cukup besar antara penduduk yang pendapatannya tinggi dengan penduduk pendapatan rendah yang diukur dengan indeks GINI.

Hal ini terlihat dari 48 ribu penduduk terkaya (0,02 %) menguasai 25% PDB Indonesia dengan indeks GINI 0,41 (rentang indeks 0-1). Pemerintahan Prabowo-Hatta dalam visi-misinya menargetkan penurunan indeks GINI menjadi 0,31. Langkah-langkah yang ditempuh antara lain: 1. Memperbesar sektor industri hilir yang mampu menyerap tenaga kerja kelas bawah lebih banyak sehingga penduduk kelas bawah memiliki kesempatan meningkatkan perekonomiannya seiring dengan ekonomi kelas atas. Salah satu penyebab kesenjangan pendapatan saat ini adalah tingginya pertumbuhan ekonomi kelas atas diangka 7-8% sementara ekonomi kelas bawah hanya mampu tumbuh diangka 3-4%.  2. Mendorong masyarakat kelas atas menginvestasikan kembali kekayaannya di Indonesia sehingga membuka lapangan kerja untuk kalangan bawah, yang mampu memperbesar postur pendapatan kelas bawah.

Enny Sri Hartati, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), mengatakan postur pendapatan Indonesia 40% untuk pendapatan rendah, dan 40% masyarakat berpendapatan menengah, sisanya berpendapatan tinggi. Dengan membesarnya postur pendapatan untuk kelas bawah, diharapkan perekonomian mereka tumbuh lebih cepat. 3. Dengan memanfaatkan instrumen subsidi dan pajak, agar tercapai pemerataan pendapatan untuk kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia.

PENUTUP

Visi dan Misi perekonomian Prabowo-Hatta mencerminkan visi jang jauh kedepan namun tidak luput memperhatikan realita perekonomian bangsa Indonesia saat ini serta keadaan ekonomi global.

Mereka menyadari kekayaan bangsa ini bisa mengantarkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang sejahtera dan berdaulat jika dikelola dengan tepat. Seperti yang tergambar dalam salah satu quote Prabowo Subianto,

 "Saya percaya dengan doa, visi dan kerja keras, kita dapat mewujudkan Indonesia yang lebih baik".

Penulis : Afati Nova, Peserta Program Pasca Sarjana Ilmu Ekonomi Syariah, Universitas Indonesia

Share this post

Post a comment

:ambivalent:
:angry:
:confused:
:content:
:cool:
:crazy:
:cry:
:embarrassed:
:footinmouth:
:frown:
:gasp:
:grin:
:heart:
:hearteyes:
:innocent:
:kiss:
:laughing:
:minifrown:
:minismile:
:moneymouth:
:naughty:
:nerd:
:notamused:
:sarcastic:
:sealed:
:sick:
:slant:
:smile:
:thumbsdown:
:thumbsup:
:wink:
:yuck:
:yum:

Next Post
Newer Post
Previous Post
Older Post