Hatta Rajasa, Pemimpin yang Lahir dan Tumbuh dari Rakyat

Yuk Share di Facebook
Hatta Rajasa, Pemimpin yang Lahir dan Tumbuh dari Rakyat

(oleh :  Sidrotun Naim) Di antara empat capres-cawapres, hanya Muhammad Hatta (Rajasa) yang lahir dan tumbuh di kalangan wong cilik. Prabowo dan JK jelas-jelas anak juragan. Sedangkan Jokowi, kakeknya adalah kepala desa di Karanganyar, yang meninggalkan warisan untuk masing-masing anaknya.


Cerita Jokowi pernah digusur di bantaran Sungai boleh jadi benar. Artinya kakeknya tokoh masyarakat setempat dan cukup berada, sedangkan bapaknya orang biasa. Ada beberapa buku yang sudah ditulis, tapi saya belum membeli/membaca. Dalam Bahasa Jawa, kakek Jokowi termasuk balung gajah (keluarga mampu di atas rata-rata). Sangat wajar untuk kepala desa pada masa itu punya sawah/tanah luas. Itu tentang kakeknya. Tentang bapaknya, belum banyak bahan yg saya baca, dan juga belum pernah mendengar cerita langsung. JK lahir di keluarga pengusaha yang bisnisnya makin sukses di era beliau. Jadi tidak perlu dibahas lagi apakah beliau tumbuh sebaagai wong cilik karena sejak makprocot sudah kaya.

Tulisan ini, seperti biasa lebih fokus di Prabowo-Hatta.

Peran Keluarga Djojohadikusumo dalam Sejarah Bangsa

Kalau dilacak sejarah tentang peran kepada bangsa, maka keluarga besar Djojohadikusumo selalu mengambil bagian dalam sejarah, kadang di pihak pemerintah, tak jarang berseberangan. Leluhur Prabowo adalah Panglima perang Diponegoro. Kakeknya (Margono) adalah anggota BPUPKI (yang mempersiapkan kemerdekaan Indonesia) sekaligus pendiri BNI (dulu BNI 46) yang prioritasnya (waktu itu) membantu nelayan, petani, dan pedagang kecil. Makanya, sebelum diganti, dulu logonya perahu. Bapaknya (Sumitro) adalah menteri pada zaman Soekarno, tetapi ketika tidak cocok memilih mengasingkan diri (1958-1968). Bukan hanya Sumitro, bahkan tahun 1956 Bung Hatta sudah mendahului minta cerai, berakhirnya dwitunggal yang hanya bertahan 11 tahun.

Sumitro adalah ekonom tulang punggung Bung Karno, juga salah satu delegasi Indonesia di Konferensi Meja Bundar yang dipimpin Bung Hatta. Setelah pemerintahan berganti Orde Baru, Pak Cum tetap menjadi bagian pemerintah, tetapi tak jarang mengkritisi. Kalau Pak Harto jengah, maka akan minta tolong puterinya untuk 'bicara' ke mertuanya agar tidak vokal. Prabowo mewarisi darah 'kiri' keluarga. Entah berapa anak negeri dan orang-orang yang sudah dia bantu untuk sekolah dan hidup (bekerja) tanpa harus koar-koar. Posisinya sebagai mantu Suharto membuatnya serba salah di ujung Orba. Kedekatannya dengan tokoh-tokoh Islam dan reformis membuat Suharto jengkel. Sebaliknya, rakyat melihatnya sebagai bagian dari klan Cendana. Selain kiprah leluhur dan kake-bapaknya, dua orang pamannya (Subianto dan Sujono) gugur dalam mempertahankan kemerdekaan.





Kisah Hatta Rajasa

Bagaimana dengan Hatta? Dia anak kedua dari dua belas bersaudara. Sejak kecil terbiasa bekerja keras dan 'menghidupi' adik-adiknya yang sepuluh orang setelah beranjak dewasa. Sejak kecil Hatta terbiasa membantu ibunya, termasuk menggendong adik dan mengerjakan pekerjaan rumah. Bapaknya (M. Thohir) adalah tentara. Tumbuh di keluarga besar sebagai rakyat kebanyakan, satu saja doanya di masa kecil, membahagiakan emaknya karena begitu tinggi rasa sayangnya, karena ia tahu menjadi ibu itu perjuangan dan pengorbanan. Setelah ibunya meninggal, maka pengabdian dicurahkan untuk Ibu Pertiwi.

Prabowo memang lahir dari keluarga berada, tetapi bukan pengusaha kaya raya karena mereka lebih sebagai keluarga cendekiawan (saya tidak membahas bisnis adiknya, Hashim). Keluarga cendekiawan ini punya jejak rekam dalam memperhatikan wong cilik, dari dulu hingga sekarang. Sedangkan Hatta, dia mengalami sendiri menjadi orang kebanyakan, bahkan cenderung miskin karena beban besar yang harus ditanggung orang tuanya.

Maka, kalau memilih pemimpin dari kalangan kita (kalangan kebanyakan), Hatta-lah yang memenuhi kriteria. Dia yang paling tahu apa arti menjadi wong cilik. Hatta adalah contoh, bagaimana pendidikan dan kerja keras adalah modal dan syarat utama untuk berbakti yang terbaik kepada negeri ini. Semoga ke depan, makin banyak pemimpin yang lahir dari rahim rakyat kebanyakan, yang terdidik, dan pejuang keras.

Sebagai sesama alumni ITB dan dibina di Masjid Salman, maka ada 'alasan' personal mengapa saya memilih Prabowo-Hatta, terlepas dari segala kekurangan dan keunggulan mereka. Teman-teman yang punya kisah langsung dengan Bang Hatta, atau tahu cerita tentang beliau, tolong share di komentar. Nanti mau saya kompilasi.

Berikut adalah kompilasi dari sharing kawan-kawan yang sudah masuk di halaman facebook Sidrotun Naim

"Ada 1 momen di tahun 2007, saya bertemu Bang Hatta di salah satu acara kampus, saya sedang makan nasi kotak lauk ayam di lorong, beliau menyapa, "makan sama apa?", saya jawab "ayam", beliau menanggapi, "dulu saya kuliah, makan ayam belum tentu seminggu sekali, awal lulus naik bis kemana-mana buat kerja, belum lagi dapat surat dari rumah, adik-adil saya sepatunya banyak yang jebol" (Farih Mitraningsih)

Hatta Rajasa: "Dulu ketika kuliah merantau di ITB, setiap kali orang tua saya tanya apa cukup uang yang mereka kasih ke saya, selalu saya bilang cukup. Padahal kalau bisa jujur, tidak. Tapi tidak mengapa, selalu saya cukup-cukupkan saja." (Satu Jam Lebih Dekat, Juni 2014, dikutip oleh Fachry Ihdam )

"Dari wawancara dg indosiar kemarin, waktu SMP beliau selalu bangun jam 4 pagi utk ngepel 2 lantai dan ngisi bak mandi di rumah tantenya tempatnya menumpang, setelah itu baru berangkat sekolah yg berjarak 5 km" (Nuril Arrahman)

Saya cuma teringat kisah ketika Ibunda pak Hatta wafat, dan beliau sdg menjalankan tugas negara di negeri orang.

Doa dan keinginan tulusnya untuk bisa melihat dan mengurus jenazah Ibundanya...diijabah Allaah SWT. Di tengah2 kemustahilan mendapatkan tiket pesawat utk kembali ke Indonesia pasca tugas selesai, dia mengetahui PM Malaysia membawa pesawat 'pribadi' dan beliau mendapat tumpangan. Alhamdulillaah..
#sesi yg bikin airmata saya tumpah, (Satu Jam Lebih Dekat" TVOne, diceritakan oleh Dessy Yoediartiny Judono)

Pantesan kalau bicara lemah lembut tutur kata pak hatta, pasti terlatih saat mengasuh ke 10 adek di masa kanak-kanaknya .. harus ekstra sabar  ... terharu bacanya mbak, makasih sudah berbagi (Tunjung Tejorini)



Tentang Penulis :

Sidrotun Naim adalah Direktur Center for Sustainable Aquaculture and Pathology Studies (AquaPath) di Surya University dan Peneliti di Harvard Medical School. Saat ini sedang mempelajari Public Administration, Science and Technology Studies, Political Science di John F. Kennedy School of Government, Amerika Serikat

Share this post

Post a comment

  1. Halo semua...untuk teman2 yang suka nonton berita, bola, dll di TV streaming, yuks nonton gratis di: www.indostreaming.tv (disalin linknya)
    - Channel: Rcti, Global TV, Sindo TV, dll

    Untuk yang suka musik, gabung dan berbagi cerita di forum musik online Musikpedia di: www.musikpedia.co.id

    ReplyDelete

:ambivalent:
:angry:
:confused:
:content:
:cool:
:crazy:
:cry:
:embarrassed:
:footinmouth:
:frown:
:gasp:
:grin:
:heart:
:hearteyes:
:innocent:
:kiss:
:laughing:
:minifrown:
:minismile:
:moneymouth:
:naughty:
:nerd:
:notamused:
:sarcastic:
:sealed:
:sick:
:slant:
:smile:
:thumbsdown:
:thumbsup:
:wink:
:yuck:
:yum:

Next Post
Newer Post
Previous Post
Older Post