Bank Tabungan Haji, Solusi Prabowo-Hatta Meringankan Biaya Ibadah Haji Rakyat Indonesia

Yuk Share di Facebook

(oleh : Alfati Nova) Ibadah haji adalah salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan kaum Muslim yang menjadi mayoritas di Indonesia. Akan tetapi banyak yang belum bisa menjalankannya karena dibutuhkan dana yang besar, ditambah lagi dengan potensi kebocoran dengan sistem yang dilaksanakan sekarang.

Bank Tabungan Haji adalah solusi Prabowo-Hatta untuk meringankan biaya haji yang harus ditanggung rakyat Indonesia, sekaligus meminimalisir peluang kebocoran dalam pengelolaannya. Bagaimana pelaksanaanya?



Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia telah mendapat quota ibadah haji terbanyak dari pemerintah Arab Saudi, yaitu sekitar 200 ribuan orang per tahun. Namun quota ini tidak pernah cukup mengingat  jumlah penduduk muslim Indonesia yang sangat banyak. Akibatnya terjadilah antrian daftar tunggu keberangkatan jemaah haji Indonesia. Apalagi ditambah dengan booming jumlah penduduk kelas menengah dan meningkatnya kereligiusan masyarakat Indonesia, antrian ini menjadi semakin lama. Rata-rata disetiap daerah masa tunggu untuk menunaikan haji sudah mencapai 10 tahun sejak pendaftar ibadah haji mendapat porsi keberangkatan yaitu setelah menyetorkan uang pendaftaran ibadah haji sekitar Rp 25 juta. Woww! Antrian 10 tahun ini masih lebih cepat daripada antrian di Malaysia yang sudah mencapai 50 tahun! Baru lahir harus segera daftar haji yaaa.

Menurut data Kemenag, pendaftar jemaah haji yang telah mendapatkan porsi keberangkatan dan masuk daftar tunggu sampai tahun 2013 berjumlah 2,2 juta orang. Setiap orang telah membayar Rp 20 jt untuk yang mendaftar sebelum tahun 2009 yang berjumlah 200 ribu orang, dan yang membayar Rp 25 jt berjumlah 2 juta orang. Dari data tersebut, dapat kita kalkulasikan, ada dana umat sebesar = (200.000 * Rp 20 jt) + ( 2000.000*Rp 25 jt)= Rp 54 T dalam rekening kemenag. Selama ini dana yang besar tersebut sebagian kecil disimpan dalam bentuk sukuk dan deposito syariah, sebagian besar masih disimpan dalam produk bank konvensional. Tentu saja hal ini menimbulkan pertentangan dengan keyakinan umat muslim yang diajarkan untuk menjauhi sektor ribawi.

Selain tidak sesuai syariat, investasi dana umat saat ini juga menjadi isu panas, kemana hasil investasi dana tersebut dialirkan? Apakah untuk kaum dhuafa? Atau untuk pembangunan? Atau malah untuk subsidi biaya keberangkatan haji pejabat? Tentunya isu-isu ini harus dijelaskan dengan membuat sistem yang transparan dalam pengelolaan dana haji ini.

Malaysia telah dari jauh-jauh hari membuat Bank Tabungan Haji untuk mengelola dana haji ini. Sistemnya seperti tabungan, jadi dana yang disetor masyarakat ini dianggap sebagai setoran tabungan yang kemudian diinvestasikan oleh bank, dan return investasi dikembalikan ke rekening masing-masing pendaftar haji, setelah dipotong pajak dan zakat. Tentu saja sistem seperti ini bisa meringankan masyarakat, karena menghasilkan return yang bisa meringankan biaya haji.


Dengan dana pendaftaran haji sebesar Rp 56 T tersebut ditambah dana abadi umat sekitar Rp 2 T sebagai modal, kita sudah bisa mendirikan Bank Tabungan Haji yang termasuk Bank kelas segmented dengan modal 100 M-10 T, sekelas diatas BPR. Keberadaan bank ini akan menguntungkan banyak pihak, yaitu nasabah yang telah mendaftar haji mendapatkan return dari uang pendaftaran hajinya, membuka lapangan kerja dengan adanya kebutuhan pegawai Bank Tabungan Haji, mengalirkan modal pada sektor real dan membantu pemerintah menggerakkan pertumbuhan ekonomi. Selain itu juga bisa mengurangi praktek korupsi dan kolusi dana haji, karena sistemnya sudah transparan.

Sebagai hitungan kasar, dana 54 T dilarikan pada sektor real dan memberikan return 20% setahun yaitu sekitar 11 T. Return yang 11 T dibagi dua antara pelaku bisnis dengan Bank Tabungan Haji, sehingga masing-masing mendapat 5,5 T. Oleh bank, keuntungan 5,5 T dibagi pada nasabah haji dengan nisbah bagi hasil misalnya 50:50, sehingga return yang akan dibagi pada nasabah sekitar Rp 2,75 T. Jika return 2,75 T ini dibagi pada 2,2 jt orang nasabah, maka masing-masing nasabah haji mendapat return dana pendaftaran hajinya sebesar Rp 1.000.000 setiap tahun. Andaikan nasabah tersebut mendapat jatah keberangkatan 10thn lagi, maka dananya bisa bertambah sekitar Rp 10 jt dari return investasi dana haji. Lumayan bukan?

Dari deskripsi diatas, dapat kita simpulkan, secara urgensi dan profit, dana haji Indonesia sudah harus dikelola secara profesional melalui Bank Tabungan Haji. Tinggal satu hal lagi yang dibutuhkan agar Bank Tabungan Haji ini terealisasi, yaitu komitmen pemerintah. Alhamdulillah Prabowo-Hatta menyadari keadaan ini, sehingga memasukkan program mendirikan Bank Tabungan Haji dalam agenda kepemerintahan jika terpilih menjadi pasangann presiden dan wakil presiden RI ketujuh nanti. Mudah-mudahan mereka bisa segera mewujudkannya [AN]



Tentang Penulis

Alfati Nova adalah Alumni Fisika Institut Teknologi Bandung yang kini tengah mendalami ilmu Ekonomi Syariah di Universitas Indonesia, Jakarta

Share this post

Post a comment

:ambivalent:
:angry:
:confused:
:content:
:cool:
:crazy:
:cry:
:embarrassed:
:footinmouth:
:frown:
:gasp:
:grin:
:heart:
:hearteyes:
:innocent:
:kiss:
:laughing:
:minifrown:
:minismile:
:moneymouth:
:naughty:
:nerd:
:notamused:
:sarcastic:
:sealed:
:sick:
:slant:
:smile:
:thumbsdown:
:thumbsup:
:wink:
:yuck:
:yum:

Next Post
Newer Post
Previous Post
Older Post