Anak-anak Masih Diajari Menggambar Gunung Kembar? Hati-hati Kreativitasnya Meredup! (+Pemandangan Asli Gunung Kembar)

Yuk Share di Facebook
Uniknya Indonesia. Kalau orang-orang diminta menggambar pemandangan, maka inilah hasilnya

Guru Besar Psikologi UI, Prof Sarlito Wirawan Sarwono mengulas fenomena yang hanya terjadi di Indonesia yakni apabila diminta menggambar pemandangan, maka gambar gunung kembarlah yang muncul! Anda juga begitu? anak anda bagaimana? simak pendapat Prof. Sarlito yang sangat berguna ini

Sejak beberapa tahun terakhir, Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia, Jakarta (biasa dikenal dengan singkatan UPI YAI), tempat saya bekerja selepas pensiun sebagai PNS, mengundang seorang psikolog bangsa Perancis, Dr. Roseline Davido, untuk mengembangkan, meneliti dan memublikasikan sebuah tes psikologi baru yang diciptakan oleh Dr. Davido sendiri dan diberi nama tes CHaD (Children Hands that Disturb).

Intinya, tes ini adalah tes menggambar. Peserta diminta menggambar gambar yang paling sering digambarnya semasa dia kecil, dan sesudah itu menggambar lagi dua gambar tangan. Yang satu tangan yang normal dan yang satu lagi tangan yang mengganggu. Dari hasil tes itu kemudian dianalisis kepribadian orang yang bersangkutan.
Saya tidak akan membahas tes ini karena terlalu teknis. Tetapi ketika Dr Davido untuk pertama kali (pada tahun 2010) mencobakan tes itu di kalangan dosen-dosen psikologi di UPI YAI, dan meminta peserta menggambar yang paling serinfg digambar semasa kecil, semuanya menggambar …… gunung!!! Lebih spesifik lagi, gunungnya kembar, terus ada matahari di tengahnya, ada sawah, dan ada yang menambahkan awan, burung, pohon kelapa, jalan atau sungai.

Betapa terkejutnya Dr Davido, karena selama puluhan tahun beliau mengambil tes ini di seluruh dunia, baru pertama kali ini beliau mengalami pengalaman seperti itu. Awalnya beliau menyangka para dosen itu saling menyontek. Saya sampaikan bahwa itu bukan nyontek tetapi tipikal gambar orang Indonesia kalau diminta membuat gambar semasa kecil. Beliau tidak percaya begitu saja, tetapi setelah melihat gambar-gambar yang dibuat oleh mahasiswa, siswa-siswa SMA, bahkan narapidana dan mantan teroris, semuanya sama saja menggambar gunung kembar (bahkan saya yakin anda sendiri pun akan melakukan hal yang sama), barulah beliau percaya.

Pertanyaan berikutnya dari Dr. Davido adalah bagaimana bisa orang se-Indonesia menggambar gunung semua? Apa ada hubungnnya dengan banyaknya gunung yang meletus akhir-akhir ini? Tidak juga, jawab saya. Itu adalah hasil indoktrinasi dalam pendidikan menggambar sejak saya masih di Sekolah dasar (dulu: Sekolah Rakyat), yang masih berlangsung sampai hari ini. Guru menggambar selalu mencontohkan di papan tulis gambar gunung kembar, lengkap dengan asesorisnya (matahari dan sawah serta jalan atau sungai), dan semua murid disuruh meniru gambar itu, dan semuanya dapat nilai delapan.

Bahkan bukan itu saja, kata saya pada Dr Davido. Cobalah anda minta mereka menggambar bebek, maka pasti semua bebek Indonesia menghadap ke kiri, karena bebek itu digambar dari angka 2 (dua) yang ditambah dengan paruh, badan, sayap dan ekor dan jadilah bebek. Untuk menggambar bebek yang menghadap ke kanan, orang Indonesia akan kesulitan, karena tidak ada angka dua yang menghadap ke kanan.




***
Konon, gunung Sumbing dan Sindoro inilah yang jadi inspirasi gambar gunung kembar legendaris itu. Bagus juga ya (sumber)

Semua orang Indonesia mengambar gunung kembar! Tidak ada yang menggambar gasing, rumah, adiknya, atau ayam di belakang rumahnya, karena yang diajarkan hanya menggambar gunung, jadi tahunya ya hanya menggambar gunung (atau bebek menghadap ke kiri).

Itulah gambaran pendidikan formal Indonesia. Hanya disuruh meniru, dan mencontoh. Tidak ada peluang untuk berpikir sendiri, untuk kreatif, apalagi mengkritik. Pada suatu waktu guru bahasa Inggris saya di SMP berhalangan mengajar untuk beberapa lama. Yang menggantikan adalah guru menggambar dan dia mengucapkan “school” dengan pronounciation “syuul”. Kalau ada yang mencoba pronounciation yang benar dimarahi, harus “syuul”, kata bapak guru menggambar. Maka repotlah ibu guru bahasa Inggris, ketika dia sudah mengajar lagi, untuk meluruskan kembali pronounciation seluruh murid kelas 1 yang sudah terlanjur mengucapkan “syuul” seperti orang bersiul.
Celakanya, kebiasaan untuk mengindoktrinasi murid (dalam bahasa kerennya “peserta didik”) dalam pendidikan formal bukan perbuatan bapak guru menggambar saya saja, atau beberapa orang guru saja, melainkan sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sistem pendidikan di Indonesia.

Sistem Ujian Nasional, adalah contohnya. Sudah jelas UN ditolak oleh Mahkamah Agung (berkas perkara Nomor Register 2596 K/PDT/2008) dengan alasan pemerintah lalai memberikan pemenuhan hak asasi manusia (HAM) terhadap warga negara, khususnya hak atas pendidikan dan hak anak yang menjadi korban UN. Tetapi pemerintah terus saja melakukannya dengan berbagai argumentasi tandingan. Kalau pemerintah sendiri sudah tidak menaati hukum, maka jangan heran kalau bangsa ini menjadi Kadarkum (Kadang Sadar, kadang Kumat!).

Maka lihatlah hasil pendidikan kita. Beberapa siswa bunuh diri gara-gara tidak lulus UN dan takut dimarahi atau mengecewakan orangtuanya, atau malu sama teman-temannya. Sekolah-sekolah menyelenggarakan sholat hajat. Di organisir oleh para guru, dan wajib diikuti seluruh murid kelas III. Orangtuanyapun dihadirkan untuk menerima sungkem dari anak-anak mereka masing-masing. Hasilnya, bukan menenangkan pikiran, atau menambah kepercayaan diri, tetapi tetap saja berlangung pernyontekan, tetap saja soal-soal ujian bocor, HP-HP dirampas karena berisi bocoran kunci jawaban, bakan guru-guru dan petugas UN terlibat. Berapapun polisi dikerahkan untuk menjaga kerahasiaan UN, tetap saja terjadi kebocoran, karena kebocoran bukan karena amplop soal disobek, segel dicopot atau gembok digergaji, tetapi karena rencana membocorkan sudah melekat di benak beberapa guru dan petugas UN itu sendiri, sehingga banyak sekali modus operandi pembocoran yang bisa dilakukan. Tentu saja polisi tidak bisa membedah benak orang yang dicurigai satu per satu.

Audria, cucu saya yang baru saja bergembira seusai UN, megomel karena mendengar isyu bahwa UN akan diulang gara-gara bocor. Dia bilang dengan wajah yang sangat marah, “Mengapa mereka yang salah, kami yang harus menanggung bebannya?”. Sama sekali tidak salah keputusan MA bahwa pemerintah telah melanggar HAMnya Audria dan seluruh siswa kelas III SMP yang sudah dirugikan. Tetapi lebih dahsyat lagi, sistem UN telah mencetak manusia-manusia yang bisanya cuma menggambar gunung kembar.

SINDO, 18 Mei 2014

Sumber : status facebook Sarlito Wirawan Sarwono

Ingin turut serta menolak UN? Tandatangani Petisi Tolak UN

Share this post

Post a comment

  1. terus, solusinya gimana pak supaya kreativitas anak tidak meredup, justru bisa meningkat?

    ReplyDelete
  2. Bebasin aja suruh gambar apaan aja,,,, even corat-coret ngak jelas... terus suruh cerita deh anaknya itu gambar apa.... kalopun gambarnya jelek kreatifitas bertutur ceritanya berkembang...

    ReplyDelete
  3. semua anak itu mesum sejak lahir. Sudha menggambar "dua gunung"

    ReplyDelete
  4. Inspirasi gambar gunung berjejer itu juga dari gunung Merapi dan gunung Merbabu dilihat dari Yogyakarta.....Mengapa menyebar pada semua anak-anak yg bukan berasal dari Yogya...ya karena gurunya guru-guru itu banyak yang dari Yogyakarta atau pada sekolah di Yogyakarta.(Ingat dulu Yogyakarta di juluki : Kota Pelajar,Kota Pendidikan selain Kota Gudeg,Kota sepeda dsb).Kalau soal menggambar bebek memulainya dg membuat angka dua....kiranya itu juga terobosan lho...lha kalau ada cara yang mudah mengapa mencari yg sulit,......

    ReplyDelete
  5. UN hanya mengajarkan anak didik cara menghapal jawaban soal......hal ini dimanfaatkan dgn banyaknya bimbingan belajar yang hanya mengajajarkan cara menjawab soal dgn benar..............
    Murid menjadi kurang daya analisis dan krtisnya................berbeda pada jaman sebelum adanya UN...............siswa dihadapkan pada soal yang bersifat kritis dan analisis...................

    ReplyDelete
  6. perhatian sy tertarik pada gambar "gunung Sumbing dan Sindoro". bener juga ya?

    ReplyDelete

:ambivalent:
:angry:
:confused:
:content:
:cool:
:crazy:
:cry:
:embarrassed:
:footinmouth:
:frown:
:gasp:
:grin:
:heart:
:hearteyes:
:innocent:
:kiss:
:laughing:
:minifrown:
:minismile:
:moneymouth:
:naughty:
:nerd:
:notamused:
:sarcastic:
:sealed:
:sick:
:slant:
:smile:
:thumbsdown:
:thumbsup:
:wink:
:yuck:
:yum:

Next Post
Newer Post
Previous Post
Older Post