Tiga Alasan Simbolik Memilih Prabowo Menjadi Presiden Kita

Yuk Share di Facebook
Prabowo saat Menerima Kunjungan 10 Duta Besar Negara Sahabat di Kantor DPP Gerindra


Presiden itu bukan sekadar pemimpin bagi rakyatnya. Namun, presiden juga akan menjadi sebuah simbol. Karena presiden adalah individu seorang, maka simbol sebagai presiden akan sangat erat kaitannya dengan konstruksi simbol yang melekat pada dirinya sebagai individu.



Pada level interaksi sosial antar individu, mekanisme komunikasi pada dasarnya adalah mekanisme pertukaran simbol-simbol struktur sosial pada masing-masing individu yang terlibat dalam komunikasi. Kongkritnya, bangunan struktur sosial individual itu bisa dimaknai dari penampakan fisiknya, gesture-nya, pilihan berpakaian, cara berbahasa, dan semua detail-detail tampakan individual yang dapat ditangkap panca indera lawan bicara. Kesuksesan komunikasi kemudian akan jadi dipernaruhi bagaimana simbol-simbol struktur individual itu dikonstruksi dan dikomunikasikan.

Pada level sebuah negara, maka presiden sebagai lembaga eksekutif negara juga akan berperan sebagai agen komunikasi dalam interaksi pergaulan antar bangsa. Nah, sebab lembaga presiden dijabat oleh seorang individu tunggal, maka simbol-simbol individual sebagai seorang Presiden juga mau tidak mau akan bisa menjadi sekaligus representasi kesan akan sebuah negara.

Kalau begitu, Prabowo Subianto nampaknya akan lebih pas secara simbolik untuk memimpin sebuah negara. Mengapa? 




Sambutan atas Kunjungan 10 Duta Besar di Markas DPP Gerindra
(1) Bangsa Indonesia sebetulnya sudah lama tetap dalam keterjajahan ekonomi bangsa asing.

Kita masih di eksploitasi asing. Butuh keberanian untuk melawan eksploitasi asing yang merugikan Indonesia. Prabowo Subianto dibesarkan di militer, dan terlibat perang secara langsung di lapangan. Sudah banyak cerita keberanian Prabowo di medan perang. Dalam beberapa cerita lain yang beredar, Prabowo juga sangat tegas jika ada yang meremehkan kemampuan bangsa Indonesia. Maka, kita butuh simbol pemimpin yang berani dan tegas. Kesan simbolik itu juga muncul pada raut wajah Prabowo yang mencirikan sosok berani dan tegas, juga saat dia berbicara. Simbol ini penting untuk sebuah pesan komunikatif saat berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain.

(2) Medium is the message! kata seorang pakar Marshall McLuhann.

Salah satu medium penting saat melakukan tindakan komunikasi dalam pergaulan internasional adalah bahasa. Sementara bahasa yang umum digunakan adalah bahasa Inggris. Semakin seseorang menguasai cara menggunakan mediumnya, maka dia akan memiliki peluang menyampaikan pesan yang lebih baik juga, menjadi lebih utuh. Semakin baik mediumnya dikuasai, semakin baik pula kesan komunikatif yang bisa ditangkap dan disampaikan. Medium bahasa ini juga akan menjadi faktor penting dalam tindakan-tindakan diplomasi. Dalam hal ini, kemampuan Prabowo dalam menggunakan bahasa Inggris tidak perlu diragukan lagi.

(3) Saat pergaulan dengan bangsa-bangsa lain, jangkauan wawasan dan pengetahuan seorang presiden akan terintegrasi dengan medium komunikasi individualnya.

Saat ia berbincang, saat ia berdiplomasi, kekuatan konten juga menjadi penting, sehingga, tiada kesan dari bangsa-bangsa lain meremehkan Presiden kita yang mungkin dianggap kurang berwawasan. Kalau kita belajar dari sejarah, Presiden Soekarno itu adalah orang yang sangat berwawasan dan berpengetahuan. Sejak saat muda berkuliah di Technishe Hoogeschool (TH) te Bandoeng  -ITB sekarang- dulu kala, hari-harinya banyak dihabiskan membaca berbagai buku-buku non-teknik yang banyak tersedia di perpustakaan kampusnya.  Tentu saja Prabowo tidaklah sehebat Soekarno, tapi setidaknya hobi membacanya sama. Prabowo Subianto sendiri adalah anak ahli ekonomi, dan seperti sudah disebut sebelumnya, salah satu hobi utama Prabowo adalah membaca.

Menerima Kunjungan Mahasiswa Unair di Kantor DPP Gerindra

Dengan banyak membaca itulah, Prabowo secara simbolik menjadi lebih berpengetahuan dan berwawasan. Kekuatan wawasan dan pengetahuan yang disampaikan melalui medium bahasa menjadi sebuah simbol lagi terhadap presiden kita, sehingga bangsa-bangsa lain pun akan segan dan lebih menghormati.

Nah, bayangkan jika presiden kita selain tidak cakap berbahasa Inggris sebagai bahasa pergaulan internasional ditambah kurang berwawasan; akan terkesan seperti apa presiden kita dipandang oleh bangsa-bangsa lain? Mungkin juga akan sulit kalau-kalau diundang sebagai pembicara di kampus-kampus ternama dunia untuk berbagi gagasan dan berdiskusi dengan mereka [TTW]

Share this post

Post a comment

:ambivalent:
:angry:
:confused:
:content:
:cool:
:crazy:
:cry:
:embarrassed:
:footinmouth:
:frown:
:gasp:
:grin:
:heart:
:hearteyes:
:innocent:
:kiss:
:laughing:
:minifrown:
:minismile:
:moneymouth:
:naughty:
:nerd:
:notamused:
:sarcastic:
:sealed:
:sick:
:slant:
:smile:
:thumbsdown:
:thumbsup:
:wink:
:yuck:
:yum:

Next Post
Newer Post
Previous Post
Older Post