Ini Dia Kebiasaan Orang Tua Yang Menyebabkan Anak Berprilaku Negatif


Ini Dia Kebiasaan Orang Tua Yang Kurang Baik Bagi Perkembangan Anak

"Mana yang nakal, Mejanya ya?" Suara seorang Ayah lantang sambil menghampiri balita yang tengah menangis karena terjatuh di dekat meja. Tak lama kemudian terdengar suara Ayah memukul meja, "buk..buk..", lalu si Ayahpun berkata dengan bangga... "Udah...udah ayah pukul mejanya, cup cup yaa..jangan nangis lagi".

Apa Anda familiar dengan peristiwa tersebut? atau Anda pernah melakukannya? Sebetulnya ini adalah kebiasaan yang buruk karena bisa menghilangkan rasa bertanggungjawab anak di kemudian hari. Akibatnya, kelak Orangtua akan kesulitan mengatur perilaku anak, bagaimana cara yang tepat dan apa lagi ya kebiasaan yang buruk bagi tumbuh kembang anak? Sebaiknya Anda membaca artikel ini secara lengkap.



1.  Mengalihkan Tanggung Jawab

Ilustrasi Ayah memukul meja di atas adalah kebiasaan pengalihan tanggungjawab. Kebiasaan ini tampaknya lazim dilakukan. Niat Ayah sih baik, agar anak berhenti menangis, tapi si Ayah telah salah menempatkan perasaan.

Sebagai orang dewasa, kita sangat tidak ingin dianggap salah oleh orang lain. Maka, secara tidak sadar, si Ayahpun menyalahkan meja, kursi, lantai, atau apapun, asal bukan anaknya. Padahal si anak jatuh karena tubuhnya memang sedang belajar untuk menyeimbangkan diri. Secara psikologis, hal ini adalah proses penumpulan logika anak sekaligus melatihnya untuk tidak bertanggungjawab.

Akibatnya di waktu dewasa, di dunia kerja anak sulit mengidentifikasi sebab akibat, akhirnya ia tidak bisa memberikan solusi yang jitu bagi problem perusahaan. Masalah A, Solusinya malah Z. Selain itu, ia juga cenderung menyalahkan orang lain atas kegagalannya, bahkan..menyalahkan kita sebagai orangtuanya.

Saat anak terjatuh adalah momen emas untuk menyadari bahwa ada sebab ada akibat, sekaligus membangun daya juang serta rasa tanggungjawabnya.

Yang Lebih Baik Dilakukan
Saat anak terjatuh lalu menangis, kita harus mengajarinya bangkit. Bahkan saat kita tidak berkata apa apa pun, anak akan berusaha bangkit sendiri. Terkadang tangisan anak malah terjadi karena orangtua terlalu overacting.  Sesekali, diam saja dan berikan anggukan senyum atau berikan tangan Ayah dan Bunda untuk membantunya bangkit. Bila merasa perlu penekanan, maka Ayah dan Bunda bisa katakan kepadanya untuk berhati-hati dan bermain lagi.

Bila ia terluka, cukup peluk untuk menghentikan tangisannya dan ajak dia untuk mengobati lukanya. Tindakan-tindakan ini lebih hemat kata-kata, lebih hemat tenaga, tapi lebih efektif untuk membentuk prilaku positif.


2. Membohongi Anak

Berbohong pada Anak


Saat kecil, anak-anak selalu mendengarkan apa yang kita katakan. Akan tetap semakin besar, kok anak makin susah dinasihati? makin enggan menurut, atau malah melawan. Apa anak-anak sudah tidak mempercayai kita lagi?

Jawabannnya mungkin IYA! Coba tengok ke belakang, apakah kita pernah melakukan kebohongan-kebohongan kecil?

Coba simak kisah ini. Mikaela berusia 1,5 tahun. Setiap ayahnya berangkat kerja, ia selalu menangis meraung-raung. suatu hari Mikaela tertidur ketika saatnya ayahnya berangkat kerja. Ternyata, Mikaela sama sekali tidak menangis. Sejak itu, Ayahnya selalu mengendap-endap saat pergi kerja sehingga Mikaela tidak menyadarinya. Atau untuk membujuk Mikaela, Ayah berkata bahwa Ayah hanya pergi sebentar saja, padahal ternyata pulangnya malam sekali.

Contoh lain adalah menggunakan ancaman yang bohong. Misalnya saat Dodi tidak mau makan, ibupun mengancam Dodi, "kalau nggak mau makan, nanti nggak boleh main perosotan". Padahal akhirnya boleh juga, lagipula, tidak ada hubungan antara makan dan main perosotan, kan?

Anda familiar dengan kebiasaan tersebut? bila iya, mungkin inilah awal ketidakpercayaan anak kepada orangtuanya. Anak tidak lagi percaya dengan apa yang kita katakan, bahkan anak kehilangan rasa amannya akan janji-janji yang kita ucapkan

Yang sebaiknya dilakukan

Jujur dan proporsional dalam berkomunikasi dengan anak. Ungkapkan dengan penuh kasih sayang. Saat pergi ke kantor, sampaikan apa yang sebenernya dengan kata-kata yang mudah ia pahami misalnya seperti

"Ella, Papa mau pergi ke kantor dulu ya,  nanti sore habie Ella mandi, Papa akan pulang kita bisa main lagi sama sama"

Mungkin anak tetap menangis, tapi lama kelamaan dia belajar bahwa Papa memang akan tetap pergi, tapi sore nanti pasti datang. Ini menciptakan rasa aman dalam dirinya.

3. Mengobral Ancaman dan Omelan

"Raka, awas jangan naik tinggi-tinggi, nanti jatuh loh!"
"Awas jangan maen di lapangan, nanti diculik!"
"Ayo dimakan dong makan siangnya, nanti Ayah/Bunda marah kalau nggak makan!"
"Jangan bandel, nanti dipenjara pak polisi!"

Mengancam Anak

Saat kita putus asa setelah berbagai cara tidak dituruti anak, ancaman seringkali menjadi alternatif tindakan. Bedakan antara ancaman dan konsekuensi.

Apabila kita menyampaikannya dengan nada tinggi, tidak mengubah posisi tubuh kita, apalagi dengan menunjuk-nunjuk anak, kita tengah mengancam anak. Selain itu, ancaman biasanya tidaklah dibuktikan. Hanya untuk menakut-nakuti saja. Apalagi kalau mengancam dengan menggunakan institusi tertentu yang seharusnya menjaga keamanan, semisal polisi. Padahal, justru anak harus menghampiri polisi saat ketakutan, bukan sebaliknya.

Apabila kita mengubah posisi sehingga mata kita bisa bertatapan dengan mata anak, mengubah intonasi jadi datar namun tegas, lalu konsekuensi benar-benar kita jalankan terhadap anak, maka kita tengan membuat sebuat konsekuensi.

Anak sangatlah cerdas, ia mempelajari pola tingkah laku kita. Sekali dua kali ia temukan kita mengancam dengan ancaman kosong, maka ia belajar bahwa ancaman orangtua tidaklah serius. Selain itu, anak yang biasa diancam biasanya tumbuh jadi anak yang tidak merasa aman. Anak bisa tumbuh jadi anak yang tidak PD atau sebaliknya, anak yang suka mengganggu dan mengancam orang lain.

Yang sebaiknya dilakukan
Saat anak melakukan kesalahan serius, coba berhenti dari aktivitas kita, lalu minta anak untuk datang. Bicara dengan tegas namun tetap lembut, jelaskan perasaan kita dan tunjukkan prilaku anak yang mana yang harus diperbaiki serta sepakati konsekuensi yang akan didapat apabila anak mengulangi prilaku negatif itu lagi, contohnya.

"Nina, Ibu khawatir kalau Nina main terlalu jauh. Kalau mau main agak jauh, ijin dulu ke Ibu ya supaya nanti Ibu temani"


4. Menyerang Pribadi Anak, Bukan Prilakunya

Bicara tepat sasaran

Kerapkali saat kita sedang capek-capeknya, kita mengomel tak karuan sehingga apa yang kita bicarakan hanya hardikan demi hardikan. Kita tidak bisa menyampaikan dengan jelas prilaku apa tepatnya yang tidak kita inginkan dari anak, misalnya.

"Duuuh....kamu kok begitu sih! Mama sebel kamu begitu lagi begitu lagi". Hal yang sebenarnya terjadi adalah anak pulang main terlalu sore sehingga ia terlambat mandi atau mengerjakan sesuatu.

Atau saat kita berkata "Ihh..kamu ini anak malas! maen melulu!"

Kalau hal ini dibiasakan, maka anak bisa-bisa merasa bahwa SEMUA yang dilakukannya salah, dan SEMUA yang dilakukan akan membuat anda kesal. Akibatnya, anak merasa dia bukan anak yang baik sehingga dia sekalian saja melakukan hal hal yang tidak benar sehingga Anda menjadi kesal.

Yang Sebaiknya Dilakukan

Anak bukanlah peramal yang bisa dengan tepat memperkirakan apa yang kita inginkan. Sebaiknya gunakan kalimat yang spesifik pada prilaku yang kurang tepat dan fokus memperbaiki di sana. Misalya,

"Riana, seharusnya Riana sudah pulang sebelum jam 5 Sore. Kalau Riana terlambat pulang, kamu bisa terlambat mandi dan mengerjakan PR, Riana mengerti, kan?"

Jangan pula membiarkan diri kita larut dalam amarah, apabila anak sudah menunjukkan gelagat akan memperbaiki sikap, kendalikan diri dan terima dia kembali. Ini menegaskan bahwa yang Anda tidak suka adalah prilakunya dan bukan pribadinya.

5. Memberi Dukungan pada Hal yang Salah


Menurut penelitian otak, otak kita memang lebih memperhatikan hal-hal yang negatif. Demikian pula yang terjadi dalam dunia orang tua dan anak. Kerapkali kita lebih tertarik untuk memperhatikan anak, justru saat mereka berbuat hal yang kurang baik.

Misalnya, saat anak bertengkar, baru kita beranjak dari gadget kita. Atau saat anak merusak sesuatu, barulah kita memperhatikannya, menasihati bahkan mengomeli. Sedangkan sebaliknya saat anak menunjukkan prilaku yang baik kita malah biasa-biasa saja.

Anak bisa jadi berpikir bahwa untuk mendapatkan perhatian kita, mereka perlu berbuat sesuatu yang tidak baik! Nah, susah kan kalau begini...

Yang Sebaiknya dilakukan

Beri penghargaan saat mereka berprilaku baik, misalnya saat bermain dengan rukun, atau mereka mau berbagi, atau hal-hal sederhana seperti saat anak meletakkan handuk pada tempatnya, misalnya.

Ungkapkan perasaa anda seperti :

"Bunda senang lihat Ade bisa meletakkan handuk di tempatnya sehabis mandi!"

Anak anda pasti senang dan akan mengulanginya lagi

6. Merendahkan Diri Sendiri/Merendahkan Pasangan



Apa yang anda lakukan kalau melihat anak anda bermain Playstation lebih dari belajar? Mungkin yang sering kita ucapkan pada mereka, “Woy… mati in tuh PS nya, ntar dimarahin loh sama papa kalo pulang kerja!” Atau kita ungkapkan dengan pernyataan lain, namun tetap dengan figur yang mungkin ditakuti oleh anak pada saat itu. Contoh pernyataan ancaman diatas adalah ketika yang ditakuti adalah figur Papa.

Perhatikanlah kalimat ancaman tersebut. Kita tidak sadar bahwa kita telah mengajarkan pada anak bahwa yang mampu untuk menghentikan mereka maen ps adalah bapaknya, artinya figure yang hanya ditakuti adalah sang bapak. Maka jangan heran kalau jika anak tidak mengindahkan perkataan kita karena kita tidak mampu menghentikan mereka maen ps.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Siapkanlah aturan main sebelum kita bicara; setelah siap, dekati anak, tatap matanya, dan katakan dengan nada serius bahwa kita ingin ia berhenti main sekarang atau berikan pilihan, misal “Sayang, Papa/Mama ingin kamu mandi. Kamu mau mandi sekarang atau lima menit lagi?” bila jawabannya “lima menit lagi Pa/Ma”. Kita jawab kembali, “Baik, kita sepakat setelah lima menit kamu mandi ya. Tapi jika tidak berhenti setelah lima menit, dengan terpaksa papa/mama akan simpan PS nya di lemari sampai lusa”. Nah, persis setelah lima menit, dekati si anak, tatap matanya dan katakan sudah lima menit, tanpa tawar menawar atau kompromi lagi. Jika sang anak tidak nurut, segera laksanakan konsekuensinya.

7. Papa dan Mama Tidak Kompak


Mendidik abak bukan hanya tanggung jawab para ibu atau bapak saja, tapi keduanya. Orang tua harus memiliki kata sepakat dalam mendidik anak2nya. Anak dapat dengan mudah menangkap rasa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan bagi dirinya. Misal, seorang Ibu melarang anaknya menonton TV dan memintanya untuk mengerjakan PR, namun pada saat yang bersamaan, si bapak membela si anak dengan dalih tidak mengapa nonton TV terus agar anak tidak stress.



Jika hal ini terjadi, anak akan menilai ibunya jahat dan bapaknya baik, akibatnya setiap kali ibunya memberi perintah, ia akan mulai melawan dengan berlindung di balik pembelaan bapaknya. Demikian juga pada kasus sebaliknya. Oleh karena itu, orang tua harus kompak dalam mendidik anak. Di hadapan anak, jangan sampai berbeda pendapat untuk hal2 yang berhubungan langsung dengan persoalan mendidik anak. Pada saat salah satu dari kita sedang mendidik anak, maka pasangan kita harus mendukungnya. Contoh, ketika si Ibu mendidik anaknya untuk berlaku baik terhadap si Kakak, dan si Ayah mengatakan ,”Kakak juga sih yang mulai duluan buat gara2…”. Idealnya, si Ayah mendukung pernyataan, “Betul kata Mama, Dik. Kakak juga perlu kamu sayang dan hormati….”

8. Campur Tangan Kakek, Nenek, Tante, atau Pihak Lain


Pada saat kita sebagai orang tua sudah berusaha untuk kompak dan sepaham satu sama lain dalam mendidik anak-anak kita, tiba-tiba ada pihak ke-3 yang muncul dan cenderung membela si anak. Pihak ke-3 yang dimaksud seperti kakek, nenek, om, tante, atau pihak lain di luar keluarga inti.



Seperti pada kebiasaan ke-7 (Papa dan Mama tidak Kompak), dampak ke anak tetap negatif bila dalam satu rumah terdapat pihak di luar keluarga inti yang ikut mendidik pada saat keluarga inti mendidik; Anak akan cenderung berlindung di balik orang yang membelanya. Anak juga cenderung melawan orang tuanya.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Pastikan dan yakinkan kepada siapa pun yang tinggal di rumah kita untuk memiliki kesepakatan dalam mendidik dan tidak ikut campur pada saat proses pendidikan sedang dilakukan oleh kita sebagai orang tua si anak. Berikan pengertian sedemikian rupa dengan bahasa yang bisa diterima dengan baik oleh para pihak ke-3.

9. Menakuti Anak

Kebiasaan ini lazim dilakukan oleh para orang tua pada saat anak menangis dan berusaha untuk menenangkannya. Kita juga terbiasa mengancam anak untuk mengalihkan perhatiannya, “Awas ada Pak Satpam, ga boleh beli mainan itu!” Hasilnya memang anak sering kali berhenti merengek atau menangis, namun secara tidak sadar kita telah menanamkan rasa takut atau benci pada institusi atau pihak yang kita sebutkan.



Sebaiknya, berkatalah jujur dan berikan pengertian pada anak seperti kita memberi pengertian kepada orang dewasa karena sesungguhnya anak2 juga mampu berpikir dewasa. Jika anak tetap memaksa, katakanlah dengan penuh pengertian dan tataplah matanya, “Kamu boleh menangis, tapi Papa/Mama tetap tidak akan membelikan permen.” Biarkan anak kita yang memaksa tadi menangis hingga diam dengan sendirinya.

10. Ucapan dan Tindakan Tidak Sesuai



Berlaku konsisten mutlak diperlukan dalam mendidk anak. Konsisten merupakan keseuaian antara yang dinyatakan dan tidakan. Anak memiliki ingatan yang tajam terhadap suatu janji, dan ia sanga menghormati orang-orang yang menepati janji baik untuk beri hadiah atau janji untuk memberi sanksi. So, jangan pernah mengumbar janji ada anak dengan tujuan untuk merayunya, agar ia mengikuti permintaan kita seperti segera mandi, selalu belajar, tidak menonton televisi.

Pikirlah terlebih dahulu sebelum berjanji apakah kita benar-benar bisa memenuhi janji tersebut. Jika ada janji yang tidak bisa terpenuhi segeralah minta maaf, berikan alasan yang jujur dan minta dia untuk menentukan apa yang kita bisa lakukan bersama anak untuk mengganti janji itu.

11. Hadiah untuk Perilaku Buruk Anak



Acapkali kita tidak konsisten dengan pernyataan yang pernah kita nyatakan. Bila hal ini terjadi, tanpa kita sadari kita telah mengajari anak untuk melawan kita. Contoh klasik dan sering terjadi adalah pada saat kita bersama anak di tempat umum, anak merengek meminta sesuatu dan rengekennya menjadi teriakan dan ada gerak perlawanan. Anak terus mencari akal agar keinginnanya dikabulkan, bahkan seringkali membuat kita sebagai orang tua malu. Pada saat inilah kita seringkali luluh karena tidak sabar lagi dengan rengekan anak kita. Akhirnya kita mengiyakan keinginan si Anak. “Ya sudah;kamu ambil satu permennya. Satu saja ya!”

Pernyataan tersebut adalah sebagai hadiah bagi perilaku buruk si Anak. Anak akan mempelajarinya dna menerapkannya pada kesempatan lain bahkan mungkin dengan cara yang lebih heboh lagi.

Menghadapi kondisi seperti ini, tetaplah konsisten; tidak perlu malu atau takut dikatakan sebagai orang tua yang kikir atau tega. Orang beefikir demikian belum membaca buku tentang ini dan mengalami masalah yang sama dengan kita. Ingatlah selalu bahwa kita sedang mendidik anak, Sekali kite konsisten anak tak akan pernah mencobanya lagi. Tetaplah KONSISTEN dan pantang menyerah! Apapun alasannya, jangang pernah memberi hadiah pada perilaku buruk si anak.

12. Merasa Bersalah Karena Tidak Bisa Memberikan yang Terbaik


Kehidupan metropolitan telah memaksa sebagian besar orang tua banyak menghabiskan waktu di kantor dan di jalan raya daripada bersama anak. Terbatasnya waktu inilah yang menyebabkan banyak orang tua merasa bersalah atas situasi ini. Akibat dari perasaan bersalah ini, kita, para orang tua menyetujui perilaku buruk anaknya dengan ungkapan yang sering dilontarkan, “Biarlah dia seperti ini mungkin karena saya juga yang jarang bertemu dengannya…”

Semakin kita merasa bersalah terhadap keadaan, semakin banyak kita menyemai perilaku buruk anak kita. Semakin kita memaklumi perilaku buruk yang diperbuat anak, akan semakin sering ia melakukannya. Sebagian besar perilaku anak bermasalah yang pernah saya (penulis) hadapi banyak bersumber dari cara berpikir orang tuanya yang seperti ini.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Apa pun yang bisa kita berikan secara benar pada anak kita adalah hal yang terbaik. Kita tidak bisa membandingkan kondisi sosial ekonomi dan waktu kita dengan orang lain. Tiap keluarga memiliki masalah yang unik, tidak sama. Ada orang yang punya kelebihan pada sapek finansial tapi miskin waktu bertemu dengan anak, dan sebaliknya. Jangan pernah memaklumi hal yang tidak baik. Lakukanlah pendekatan kualitas jika kita hanya punya sedikit waktu; gunakan waktu yang minim itu untuk bisa berbagi rasa sepenuhnya antara sisa2 tenaga kita, memang tidak mudah. Tapi lakukanlah demi mereka dan keluarga kita, anak akan terbiasa.

13. Mudah menyerah dan pasrah



Setiap manusia memiliki watak yang berbeda-beda, ada yang lembut dan ada yang keras. Dominan flegmatis adalah ciri atak yang dimiliki oleh sebagian orang tua yang kurang tegas, mudah menyerah, selalu takut salah dan cenderung mengalah, pasrah. Konflik ini biasanya terjadi bila seorang yang flegmatis mempunyai anak yang berwatak keras.

Dalam kondisi kita sebagai orang tua yang tidak tegas dan mudah menyerah, si anak justru keras dan lebih tegas. Akibatnya dalam banyak hal, si anak jauh lebih dominan dan mengatur orang tuanya. Akibat lebih lanjut, orang tua sulit mengendalikan perilaku anaknya dan cenderung pasrah. Saya [penulis] sering mendengar ucapan dari para orang tua yang Dominan Flegmatis, “Duh… anak saya itu memang keras betul… saya sudah nggak sanggup lagi mengaturnya.” Atau “Biar sajalah apa maunya, saya sudah nggak sanggup lagi mendidiknya.”.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Belajarlah dan berusahalah dengan keras untuk menjadi lebih tegas dalam mengambil keputusan, tingkatkan watak keteguhan hati dan pantang menyerah. Jiak perlu ambil orang orang yang kita anggap tegas untuk jadi penasihat harian kita.

14. Marah Yang Berlebihan


Kita seringkali menyamakan antara mendidik dengan memarahi. Perlu untuk selalu diingat, memarahi adalah salah satu cara mendidik yang paling buruk. Pada saat memarahi anak, kita tidak sedang mendidik mereka, melainkan melampiaskan tumpukan kekesalan kita karena kita tidak bisa mengatasi masalah dengan baik. Marah juga seringkali hanya berupa upaya untuk melemparkan kesalahan pada pihak lain [dan biasanya yang lebih lemah, kalo ama yang lebih kuat ya takut].

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Jangan pernah bicara pada saat marah! Jadi tahanlah dengan cara yang nyaman untuk kita lakukan seperti masuk kamar mandi atau pergi menghindar sehingga amarah mereda. Yang perlu dilakukan adalah bicara “tegas” bukan bicara “keras”. Bicara yang tegas adalah dengan nada yang datar, dengan serius dan menatap wajah serta matanya dalam dalam. Bicara tegas adalah bicara pada saat pikiran kita rasional, sedangkan bicara keras adalah pada saat pikiran kita dikuasai emosi.

Satu contoh lagi yang kurang baik, pada saat marah biasanya kita emosi dan mengucapkan/melakukan hal hal yang kelak kita sesali, setelah ini terjadi, biasanya kita akan menyesal dan berusaha memperbaikinya dengan memberikan dispensasi atau membolehkan hal hal yang sebelumnya kita larang. Bila hal ini berlangsung berulang kali, maka anak kita akan selalu berusaha memancing amarah kita, yang ujung ujungnya si anak menikmati hasilnya. Anak yang sering dimarahi cenderung tidak jadi lebih baik kok.

15. Gengsi untuk Menyapa

Kita pasti pernah mengalami bahwa kita terlanjur marah besar pada anak, biasanya amarah terbawa lebih dari sehari, akibat dari rasa kesal yang masih tersisa dan rasa gengsi, kita enggan menyapa anak kita. Masing masing pihak menunggu untuk memulai kembali hubungan yang normal.

Apa yang harus kita lakukan agar komunikasi mencair kembali? Siapa yang seharusnya memulai? Kita sebagai orangtua lah yang seharusnya memulai saat anak mulai menunjukkan tanda tanda perdamaian dan mengikuti keinginan kita. Dengan cara ini kita dapat menunjukkan pada anak bahwa kita tidak suka pada sikap sang anak, bukan pada pribadinya.

16. Memaklumi yang tidak pada tempatnya

Ini biasanya terjadi pada kebanyakan orang tua konservatif. Misalnya melihat anak laki laki yang suka usil, nakal banget dan suka ngacak, orang tuanya cenderung mengatakan, “Yah… anak cowo emang harus bandel” atau saat melihat kakak adik lagi jambak jambakan, mamanya bilang “maklumlah… namanya juga anak anak”. Atau bahkan ketika si anak memukul teman atau mbaknya, orang tua masih juga sempat berkelit dengan mengatakan “ya begitu deh, maklumlah namanya juga anak anak. Nggak sengaja…”

Bila kita selalu memaklumi tindakan keliru yang dilakukan anak anak, otomatis si anak berpikir perilakunya sudah benar, dan akan jadi sangat buruk kalau terbawa sampai ke dewasa.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Kita tidak perlu memaklumi hal yang tidak perlu dimaklumi kok, kita harus mendidik setiap anak tanpa kecuali sesuai dengan sifat dasarnya. Setiap anak bisa dididik dengan tegas[ingat: bukan keras] sejak usia 2 tahun. Semakin dini usianya, semakin mudah untuk dikelola dan diajak kerja sama. Anak kita akan mau bekerja sama selama kita selalu mengajaknya dialog dari hati ke hati, tegas, dan konsisten. Ingat, tidak perlu menunggu hingga usianya beranjak dewasa, karena semakin bertambah usia, semakin tinggi tingkat kesulitan untuk mengubah perilaku buruknya.

17. Penggunaan istilah yang tidak jelas maksudnya

Seberapa sering kita sebagai orang tua mengungkapkan pernyataan seperti “Awas ya, kalau kamu mau diajak sama mama/papa, tidak boleh nakal!” atau, “awas ya, kalau nanti diajak sama mama/papa, jangan bikin malu mama”, bisa juga terungkap, “kalo mau jalan jalan ke taman bermain, jangan macam macam ya”.

Nah, tanpa disadari kita seringkali menggunakan istilah istilah yang sulit dimengerti ataupun bermakna ganda. Istilah ini akan membingungkan anak kita. dalam benak mereka bertanya apa yang dimaksud dengan nakal, tingkah laku apa yang termasuk dalam kategori nakal, begitu pula dengan istilah “jangan macam macam”, perilaku apa yang termasuk kategori “macam macam”. Selain bingung, mereka juga akan menebak nebak arti dari istilah istilah tersebut.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Bicaralah dengan jelas dan spesifik, misalnya “Sayang, kalau kamu mau ikut mama/papa, tidak boleh minta mainan, permen, dan tidak boleh berteriak teriak di kasir seperti kemarin ya”. Hal ini penting agar anak mengetahui batasan batasan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, serta jangan lupa menyepakati apa konsekuensinya bila kesepakatan ini dilanggar.

18. Mengharap perubahan instan

Kita terbiasa hidup dalam budaya yang serba instant, seperti mie instant, susu instant, teh instant. Sehingga kita anak berbuat salah, kita sering ingin sebuah perubahan yang instant pula, misal ketika biasa terlambat bangun, nggak beresin tempat tidur, sulit dimandikan, kita ingin agar anak kita berubah total dalan jangka waktu sehari.

Apabila kita sering memaksakan perubahan pada anak kita dalam waku singkat tanpa tahapan yang wajar, kemungkinan besar anak sulit memenuhinya. Dan ketika ia gagal dalam memenuhi keinginan kita, ia akan frustasi dan tidak yakin bisa melakukanannya lagi. Akibatnya ia memilih untuk melakukan perlawanan seperti banyak bikin alasan, acuh tak acuh, atau marah marah pada adiknya.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Jika kita mengharapkan perubahan kebiasaaan pada anak, berikanlah waktu untuk tahapan tahapan perubahan yang rasional untuk bisa dicapainya. Hindari target perubahan yang tidak mungkin bisa dicapainya. Bila mungkin, ajaklah ia untuk melakukan perubahan dari hal yang paling mudah. Biarkanlah ia memilih hal yang paling mudah menurutnya untuk diubah. Keberhasilannya untuk melakukan perubahan tersebut memotivasi anak untuk melakukan perubahan lainnya yang lebih sulit. Puji dan jika perlu rayakan keberhasilan yang dicapainya, sekecil dan sesederhana apapun perubahan itu. Hal ini untuk menunjukkan betapa seriusnya perhatian kita terhadap usaha yang telah dilakukannya. Pusatkan perhatian dan pujian kita pada usahanya, bukan pada hasilnya.

19. Pendengar yang buruk

Sebagian besar orang tua adalah pendengar yang buruk bagi anak anaknya. Benarkah? Bila ada suatu masalah yang terjadi pada anak, orang tua lebih suka menyela, langsung menasehati tanpa mau bertanya permasalahannya serta asal usul kejadiannya.

Sebagai contoh, anak kita baru saja pulang sekolah yang mestinya pulangnya siang, dia datang di sore hari. Kita tidak mendapat keterangan apapun darinya atas keterlambatan tersebut. Tentu saja kita kesal menunggu dan sekaligus khawatir. Lalu pada saat anak kita sampai dan masih lelah, kita langsung menyambutnya dengan serentetan pertanyaan dan omelan. Bahkan setiap kali anak hendak bicara, kita selalu memotongnya. Akibatnya ia amalah tidak mau bicara dan marah pada kita.

Bila kita tidak berusaha mendengarkan mereka, maka mereka pun akan bersikap seperti itu pada kita dan akan belajar mengabaikan kita.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Jika kita tidak menghendaki hal ini terjadi, maka mulai saat ini jadilah pendengar yang baik. Perhatikan setiap ucapannya. Ajukan pertanyaan pertanyaan untuk menunjukkan ketertarikan kita akan persoalan yang dihadapinya.

20. Selalu menuruti permintaan anak.

Apakah anak kita adalah anak semata wayang? Atau anak laki laki yang ditunggu tunggu dari beberapa anak perempuan kakak-kakaknya? Atau mungkin anak yang sudah bertahun tahun ditunggu tunggu? Fenomena ini seringkali menjadikan orang tua teramat sayang pada anaknya sehingga ia menerapkan pola asuh open bar, atau mo apa aja boleh atau dituruti.

Seperti Radja Ketjil, semakin hari tuntutannya semakin aneh dan kuat, jika ini sudah menjadi kebiasaan akan sulit sekali membendungnya. Anak yang dididik dengan cara ini akan menjadi anak yang super egois, tidak kenal toleransi, dan tidak bisa bersosialisasi.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Betapapun sayangnya kita pada anak, jangan lah pernah memberlakukan pola asuh seperti ini. Rasa sayang tidak harus di tunjukkan dengan menuruti segala kemauannya. Jika kita benar sayang, maka kita harus mengajarinya tentang nilai baik dan buruk, yang benar dan yang salah, yang boleh dan yang nggak. Jika tidak, rasa sayang kita akan membuat membuatnya jadi anak yang egois dan ‘semau gue’. Inilah yang dalam bahasa awam sering disebut anak manja.

21. Terlalu Banyak Larangan

Ini adalah kebalikan dari kebiasaan di atas. Bila Kita termasuk orang tua yang berkombinasi Melankolis dan Koleris, kita mesti berhati2 karena biasanya kombinasi ini menghasilkan jenis orang tua yang “Perfectionist”. Orang tua jenis ini cenderung ingin menjadikan anak kita seperti apa yang kita inginkan secara SEMPURNA, kita cenderung membentuk anak kita sesuai dengan keinginan kita; anak kita harus begini tidak boleh begitu; dilarang melakukan ini dan itu.

Pada saatnya anak tidak tahan lagi dengan cara kita. Ia pun akan melakukan perlawanan, baik dengan cara menyakiti diri (jika anak kita tipe sensitive) atau dengan perlawanan tersembunyi (jika anak kita tipe keras) atau dengan perang terbuka (jika anak kita tipe ekspresif keras). Oleh karena itu, kurangilah sifat perfeksionis kita, Berilah izin kepada anak untuk melakukan banyak hal yang baik dan positif. Berlatihlah untuk selalu berdialog agar kita bisa melihat dan memahami sudut pandang orang lain. Bangunlah situasi saling mempercayai antara anak dan kita. Kurangilah jumlah larangan yang berlebihan dengan meminta pertimbangan pada pasangan kita. Gunakan kesepakatan2 untuk memberikan batas yang lebih baik. Misal, kamu boleh keluar tapi jam 9 malam harus sudah tiba di rumah. Jika kemungkinan pulang terlambat, segera beri tahu Papa/Mama.

22. Terlalu Cepat Menyimpulkan

Ini adalah gejala lanjutan jika kita sebagai orang tua yang mempunyai kebiasaan menjadi pendengar yang buruk. Kita cenderung memotong pembicaraan pada saat anak kita sedang memberi penjelasan, dan segera menentukan kesimpulan akhir yang biasanya cenderung memojokkan anak kita. Padahal kesimpulan kita belum tentu benar, dan bahan seandainya benar, cara seperti ini akan menyakitkan hati anak kita.

Seperti contoh anak yang pulang terlambat. Pada saat anak kita pulag terlambat dan hendak menjelaskan penyebabnya, kita memotong pembicaraannya dengan ungkapan, “Sudah! Nggak pake banyak alesan.” Atau “Ah, Papa/Mama tahu, kamu pasti maen ke tempat itu lagi kan?!”.

Jika kita emlakukan kebiasaan ini terus menerus, anak akan berpikir kita adalah orang tua ST 001 [alias Sok Tau Nomor Satu], yang tidak mau memahami keadaan dan menyebalkan. Lalu mereka tidak mau bercerita atau berbicara lagi, dan akibat selanjutnya sang anak akan benar benar melakukan hal hal yang kita tuduhkan padanya. Ia tidak mau mendengarkan nasehat kita lagi, dan pada tahapan terburuk, dia akan pergi pada saat kita sedang berbicara padanya. Pernahkah anda mengalami hal ini?

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Jangan pernah memotong pembicaraan dan mengambil kesimpulan terlalu dini. Tak seorang pun yang suka bila pembicaraannya dipotong, apalagi ceritanya disimpulkan oleh orang lain.

Dengarkan, dengarkan, dan dengarkan sambil memberikan tanggapan positif dan antusias. Ada saatnya kita akan diminta bicara, tentunya setelah anak kita selesai dengan ceritanya. Bila anak sudah membuka pertanyaan, “menurut Papa/Mama bagaimana?” artinya ia sudah siap untuk mendengarkan penuturan atau komentar kita.

23. Mengungkit kesalahan masa lalu

Kebiasan menjadi pendengar yang buruk dan terlalu cepat menyimpulkan akan dilanjutkan dengan penutup yang tidak kalah menyakitkan hati anak kita, yakni dengan mengungkit ungkit catatan kesalahan yang pernah dibuat anak kita. Contohnya, “Tuh kan Papa/Mama bilang apa? Kamu tidak pernah mau dengerin sih, sekarang kejadian kan. Makanya dengerin kalau orang tua ngomong. Dasar kamu emang anak bodo sih.”

Kiat berharap dengan mengungkit kejadian masa lalu, anak akan belajar dari masalah. Namun yang terjadi adalah sebaliknya, ia akan sakit hati dan berusaha mengulangi kesalahannya sebagai tindakan balasan dari sakit hatinya.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Jika kita tidak ingin anak berperilaku buruk lagi, jangan lah diungkit ungkit masa lalunya. Cukup dengan tatapan mata, jika perlu rangkullah ia. Ikutlah berempati sampai dia mengakui kesalahan dan kekeliruannya. Ucapkan pernyataan seperti “manusia itu tempatnya salah dan lupa, semoga ini menjadi pelajaran berharga buat kamu”, atau “Papa/mama bangga kamu bisa menemukan hikmah positif dari kejadian ini”. Jika ini yang kita lakukan, maka selanjutnya dia akan lebih mendengar nasehat kita. Coba dan buktikanlah!.

24. Suka Membandingkan

Hal yang paling menyebalkan adalah saat kita dibandingkan dengan orang lain. Bila kita sedang berada di suatu acara dan bertemu dengan orang yang berpakaian hampir sama atau berwarna sama, kita merasa tidak nyaman untuk berdekatan. Apalagi jiak disbanding bandingkan [FTR, saya tidak merasa seperti ini lho!]

Secara psikologis, kita sangat tdiak suka bila keberadaan kita baik secara fisik atau sifat sifat kita dibandingkan dengan orang lain. Coba ingat ingatlah pengalaman kita saat ada orang yang membandingkan kita, bagaimana perasaan kita saat itu?

Tetapi anehnya, kebanyakan orang tua entah kenapa justru sering melakukan hal ini pada anaknya. Misal membandingkan anak yang malas dengan yang rajin. Anak yang rapi dengan yang gedabrus. Anak yang cekatan dengan anak yang lamban. Terutama juga anak yang mendapat nilai tinggi di sekolah dengan anak yang nilainya rendah. Ungkapan yang sering terdengar biasanya seperti, “Coba kamu mau rajin belajar kayak adik mu, maka pasti nilai kamu tidak seperti ini!”.

Jika kita tetap melakukan kebiasaan ini, maka ada beberapa akibat yang langsung kita rasakan; anak kita makin tidak menukai kita. anak yang dibandingkan akan iri dan dengki dengan si pembanding. Anak pembanding akan merasa arogan dan tinggi hati.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Tiap manusia terlahir dengan karakter dan sifat yang unik. Maka jangan sekali kali membandingkan satu dengan yang lainnya. Catatlah perubahan perilaku masing masing anak. Jika ingin membandingkan, bandingkanlah dengan perilaku mereka di masa lalu, ataupun dengan nilai nilai ideal yang ingin mereka capai. Misalnya, “Eh, biasanya anak papa/mama suka merapikan tempat tidur, kenapa hari ini nggak ya?”

25. Paling benar dan paling tahu segalanya

Egosentris adalah masa alamiah yang terjadi pada anak usia 1-3 tahun. Usia tersebut adalah masa ketika anak merasa paling benar dan memaksakan kehendaknya. Tapi entah mengapa ternyata sifat ini terbawa dan masih banyak dimiliki oleh para orang tua. Contoh ungkapan orang tua, “ah kamu ini anak bau kencur, tau apa kamu soal hidup.” Atau, “kamu tau nggak, kalo papa/mama ini sudah banyak makan asam garam kehidupan, jadi nggak pake kamu nasehatin papa/mama!”.

Jika kita memiliki kebiasaan semacam ini, maka kita membuat proses komunikasi dengan anak mengalami jalan buntu. Meskipun maksud kita adalah untuk menunjukkan superioritas kita di depan anak, tapi yang ditangkap anak adalah semacam kesombongan yang luar biasa, dan tentu saja tak seorang pun mau mendengarkan nasehat orang yang sombong.

Apa yang seharusnya kita lakukan?

Seringkali usia dijadikan acuan tentang banyaknya pengetahuan juga banyaknya pengalaman. Pada zaman dulu hal ini bisa jadi benar, namun untuk saat ini, kondisi itu tidak berlaku lagi. Siapa yang lebih banyak mendapatkan informasi dan mengikuti kegiatan kegiatan, maka dialah yang lebih banyak tahu dan berpengalaman.

Jadi janganlah merasa menjadi orang yang paling tahu, paling hebat, paling alim. Dengarkanlah setiap masukan yang datang dari anak kita.

26. Saling melempar tanggung jawab

Mendidik anak terutama menjadi tanggung jawab orang tua, yaitu ayah dan ibu. Bila kedua belah pihak merasa kurang bertanggung jawab, maka proses pendidikan anak akan terasa timpang dan jauh dari berhasil. Celakanya lagi, bila orang tua sudah mulai merasakan dampak perlawanan dari anak anaknya, yang sering terjadi malah saling menyalahkan satu sama lain.

Pernyataan yang kerap muncul adalah, “kamu emang nggak becus ngedidik anak”, dan kemudian dibalas “enak aja lo ngomong begitu, nah kamu sendiri, selama ini kemana aja?!”. Jika cara ini yang dipertahankan di keluarga, akankah menyelesaikan masalah? Tunggu saja hasilnya, pasti orang tua lah yang akan menuai hasilnya, sang anak akan merasa perilaku buruknya adalah bukan karena kesalahannya, tapi karena ketidak becusan salah satu dari orang tuanya. Jelas anak kita akan merasa terbela dan semakin berperilaku buruk.

Apa yang seharusnya kita lakukan?

Hentikan saling menyalahkan. Ambillah tanggung jawab kita selaku orang tua secara berimbang.keberhasilan pendidikan ada di tangan orang tua. Pendidikan adalah kerja sama tim, da bukan individu. Jangan pakai alasan tidak ada waktu, semua orang sama sama memiliki waktu 24 jam sehari, jadi aturlah waktu kita dengan berbagai macam cara dan kompaklah selalu dengan pasangan kita.

Selalu lakukan introspeksi diri sebelum introspeksi orang lain.

27. Kakak harus selalu mengalah

Di negeri ini terdapat kebiasaan bahwa anak yang lebih tua harus selalu mengalah pada saudaranya yang lebih muda. Tampaknya hal itu sudah menjadi budaya. Tapi sebenarnya, adakah dasar logikanya dan dimana prinsip keadilannya?

Ada satu contoh nyata seperti berikut:

Ada seorang kakak beradik, kakak bernama Dita dan adik bernama Rafiq. Neneknya selaku pengasuh utama selalu memarahi Dita ketika Rafiq menangis. Tanpa mengetahui duduk persoalan serta siapa yang salah dan benar, si Nenek selalu membela si adik dan melimpahkan kesalahan pada kakaknya. “Kamu ini gimana sih? Sudah besar kok tidak mau mengalah ama adiknya.” Begitulah ucapan yang keluar dari mulut si Nenek. Terkadang dibumbui dengan cubitan pada kakaknya.

Apa yang terjadi selanjutnya? Dita menjadi anak yang tidak memiliki rasa percaya diri. Ia pun mulai membenci adiknya. Lama kelamaan Dita mulai banyak melawan atas ketidak adilan ini, dan yang terjadi kemudian adalah kedua bersaudara ini makin sering bertengkar. Sementara Rafiq yang selalu dibela bela menjadi makin egois dan makin berani menyakiti kakaknya, selalu merasa benar dan memberaontak. Sang nenek perlahan lahan menobatkan Radja Ketjil yang lalim di tengah keluarga ini.

Apa yang seharusnya kita lakukan?

Anak harus diajari untuk memahami nilai benar dan salah atas perbuatannya terlepas dari apakah dia lebih muda atau lebih tua. Nilai benar dan salah tidak mengenal konteks usia. Benar selalu benar dan salah selalu salah berapapun usia pelakunya.

Berlakulah adil. Ketahuilah informasi secara lengkap sebelum mengambil keputusan. Jelaskan nilai benar dan salah pada masing masing anak, buat aturan main yang jelas yang mudah dipahami oleh anak anak anda.

28. Menghukum secara fisik

Dalam kondisi emosi, kita cenderung sensitif oleh perilaku anak, dimulai dengan suara keras, dan kemudian meningkat menjadi tindakan fisik yang menyakiti anak.

Jika kita terbiasa dengan keadaan ini, kita telah mendidiknya menjadi anak yang kejam dan trengginas, suka menyakiti orang lain dan membangkang secara destruktif. Perhatikan jika mereka bergaul dengan teman sebayanya. Percaya atau tidak, anak akan meniru tindakan kita yang suka memukul. Anak yang suka memukul temannya pada umumnya adalah anak yang sering dipukuli di rumahnya.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Jangan pernah sekalipun menggunakan hukuman fisik kepada anak, mencubit, memukul, atau menampar bahkan ada juga yang pakai alat seperti cambuk, sabuk, rotan, atau sabetan.

Gunakanlah kata kata dan dialog, dan jika cara dialog tidak berhasil maka cobalah evaluasi diri kita. Temukanlah jenis kebiasaan yang keliru yang selama ini telah kita lakukan dan menyebabkan anak kita berperilaku seperti ini.


29. Menunda atau membatalkan hukuman

Kita semua tahu bahaya yang luar biasa dari merokok, mulai dari kanker, impotensi, sampai gangguan kehamilan dan janin. Tapi mengapa masih banyak yang tidak peduli dan tetap membandel untuk terus menjadi ahli hisap? Jelas karena akibat dari rokok itu terjadi kemudian dan bukan seketika itu juga.

Begitu juga dengan anak kita. Jika anda menjanjikan sebuah konsekuensi hukuman atau sanksi bila anak berperilaku buruk, jangan menunggu waktu yang terlalu lama, menunda, atau bahkan membatalkan karena alasan lupa atau kasihan.

Bila telah terjadi kesepakatan antara kita dan anak seperti tidak boleh minta minta dibelikan permen atau mainan dan ternyata anak mencoba coba untuk merengek, kita ingatkan kembali pada kepadanya tentang kesepakatan yang kita buat bersama. Anak biasanya akan berhenti merengek. Namun sayangnya kietika anak berhenti merengek , kita menganggap masalah susah selesai dan akhirnya kita menunda atau bahkan membatalkan hukuman entah karena lupa atau kasihan. Apa akibatnya? Anak akan mempunya anggapan bahwa kita hanya omong doang, maka mereka akan mempunya tendensi untuk melanggar kesepakatan karena hukuman tidak dilaksanakan.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Jila kita sudah mempunyai kesepakatan dan anak melanggarnya, maka sanksi harus dilaksanakan, jika kita kasihan, kita bisa mengurangi sanksinya, dan usahakan hukumanya jangan bersifat fisik, tapi seperti pengurangan bobot kesukaan mereka seperti jam bermain, menonton tv, ataupun bermain video game.

30. Terpancing Emosi

Jika ada keinginannya yang tidak terpenhi anak sering kali rewel atau merengak, menagis, berguling dsb, dengan tujuan memancing emosi kita yang apda kahirnya kita marah atau malah mengalah. Jika kita terpancing oleh emosi anak, anak akan merasa menang, dan merasa bisa megendalikan orang tuanya. Anak akan terus berusaha mengulanginya pada kesempatan lain dengan pancingan emosi yang lebih besar la gi.

Apa yang seharusnya kita lakukan?

Yang terbaik adalah diam, tidak bicara, dan tidak menanggapi. Jangan pedulikan ulah anak kita. Bila anak menangis katakan padanya bahwa tangisannya tidak akan mengubah keputusan kita. Bila anak tidak menangis tapi tetap berulah, kita katakan saja bahwa kita akan mempertimbangkan keputusan kita dengan catatan si anak tidak berulah lagi. Setelah pernyataan itu kita keluarkan, lakukan aksi diam. Cukup tatap dengan mata pada anak kita yang berulah, hingga ia berhenti berulah, Bila proses ini membutuhkan waktu lebih dari 30 menit tabahlah untuk melakukannya. Dalam proses ini kita jangan malu pada orang yang memperhatikan kita; dan jangan pula ada orang lain yang berusaha menolong anak kita yang sedang berulah tadi… SEKALI KITA BERHASIL MEMBUAT ANAK KITA MENGALAH, MAKA SELANJUTNYA DIA TIDAK AKAN MENGULANGI UNTUK YANG KEDUA KALINYA.

31. Menghukum Anak Saat Kita Marah

Hal yang perlu kita perhatikan dan selalu ingat adalah jangan pernah memberikan sanksi atau hukuman apa pun pada anak ketika emosi kita sedang memuncak. Pada saat emosi kita sedang tinggi, apa pun yang keluar dari mulut kita, baik dalam bentuk kata2 maupun hukuman akan cenderung menyakiti dan menghakimi dan tidak menjadikan anak lebih baik. Kejadin tersebut akan membekas meski ia telah beranjak dewasa. Anak juga bisa mendendam pada orang tuanya karena sering mendapatkan perlakuan di luar batas.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

  • Bila kita sedang sangat marah segeralah menjauh dari anak. Pilihlah cara yang tepat untuk bisa menurunkan amarah kita dengan segera.
  • Saat marah kita cenderung memberikan hukuman yang seberat2ya pada anak kita, dan hanya akan menimbulkan perlawanan baru yang lebih kuat dari anak kita, sementara tujuan pemberian sanksi adalah untuk menyadarkan anak supaya ia memahami perilaku buruknya. Setelah emosi reda, barulah kita memberikan hukuman yang mendidik dan tepat dengan konteks kesalahan yang diperbuat. Ingat, prinsip hukuman adalah untuk mendidik bukan menyakiti. Pilihlah bentuk sanksi atau hukuman yang mengurangi aktivitas yang disukainya, seperti mengurangi waktu main game, atau bermain sepeda.

32. Mengejek

Orang tua yang biasa menggoda anaknya, seringkali secara tidak sadar telah membuat anak menjadi kesal. Dan ketika anak memohon kepada kita untuk tidak menggodanya, kita malah semakin senang telah berhasil membuatnya kesal atau malu. Hal ini akan membangun ketidaksukaan anak pada kita dan yang sering terjadi anak tidak menghargai kita lagi. Mengapa? Karena ia menganggap kita juga seperti teman2nya yang suka menggodanya,

Apa yang seharusnya kita lakukan?

Jika ingin bercanda dengan anak kita, pilihlan materi bercanda yang tidak membuatnya malu atau yang merendahkan dirinya. Akan jauh lebih baik jika seolah-olah kitalah yang jadi badut untuk ditertawakan. Anak kita tetap aka n menghormati kita sesudah acara canda selesai. Jagalah batas2 dan hindari bercanda yang bisa membuat anak kesal apalagi malu. Bagimana caranya? Lihat ekspresi anak kita. Apakah kesal dan meminta kita segera menghentikannya? Bila ya, segeralah hentikan dan jika perlu meminta maaflah ayas kejadian yang baru terjadi. Katakan bahwa kita tidak bermaksud merendahkannya dan kita berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

33. Menyindir

Terkadang karena saking marahnya orang tua sering mengungkapkannya dengan kata2 singkat yang pedas dengan maksud menyindir, seperti, “Tumben hari gini sudah pulang”, atau “Sering2 aja pulang malem!” atau”Memang kamu pikir Mama/Papa in satpam yang jaga pintu tiap malam?”.

Kebiasaan ini tidak akan membuat anak kita menyadari akan perilaku buruknya tapi malah sebaliknya akan mebuat ia semakin menjadi-jadi dan menjaga jarak dengan kita. Kita telah menyakiti hatinya dan membuatnya tidak ingin berkomunikasi dengan kita.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Katakanlah secara langsung apa yang kita inginkan dengan kalimat yang tidak menyinggung perasaan, memojokkan bahkan menyakiti hatinya. Katakan saja, “Sayang, Papa/Mama khawatir akan keselamatan kamu lho kalo kamu pulang terlalu malam”. Dan sejenisnya.

34. Memberi julukan yang buruk

Kebiasaan memberikan julukan yang buruk pada anak bisa mengakibatkan rasa rendah diri, tidak percaya diri/mimder, kebencian juga perlawanan. Adakalanya anak ingin membuktikan kehebatan julukan atau gelar tersebut pada orang tuanya.

Solusinya

Mengganti julukan buruk dengan yang baik, seperti, anak baik, anak hebat, anak bijaksana. Jika tidak bisa menemukannya cukup dengan panggil dengan nama kesukaannya saja.

35. Mengumpan Anak yang Rewel

Pada saat anak marah, merengek atau menangis, meminta sesuatu de ngan memaksa, kita biasanya mengalihkan perhatiannya kepada hal atau barang lain. Hal ini dimaksudkan supaya anak tidak merengek lagi. Namun yang terjadi malah sebaliknya, rengekan anak semakin menjadi-jadi. Contohnya, anak menangis karena ia minta dibelikan mainan, Kemusian kita berusaha membuatnya diam dengan berusaha mengalihkan perhatiannya seperi, ” Tuh lihat tuh ada kakak pake baju warna apa tuh…”atau” Lihat ini lihat, gambar apa ya lucu banget?”

Ingatlah selalu, pada saat anak kita sedang fokus pada apa yang diinginkannya, ia akan memancing emosi kita dan emosinya sendiri akan menjadi sensitif. Anak kita pada umumnya adalah anak yang cerdas. ia tidak ingin diakihkan ke hal lain jika masalah ini belum ada kata sepakat penyelesaiannya. Semakin kita berusaha mengalihkan ke hal lain, semakin marah lah anak kita.

Apa yang sebaiknya dilakukan?

Selesaikan apa yang diinginkan oleh anak kita dengan membicarakannya dan membuat kesepakatan di tempat, jika kita belum sempat membuat kesepakatan di rumah. Katakan secara langsung apa yang kita inginkan terhadap permintaan anak tesebut, seperti “Papa/Mama belum bisa membelikan mainan itu saat ini. Jika kamu mau harus menabung lebih dahulu. Nanti Papa/Mama ajari cara menabung. Bila kamu terus merengak kita tidak jadi jalan-jalan dan langsung pulang.” Jika kalimat ini yang kita katakan dan anak kita tetap merengek, segeralah kita pulang meski urusan belanja belum selesai, Untuk urusan belanja kita masih bisa menundanya. Tapi jangan sekali-kali menunda dalam mendidik anak.

36. Televisi sebagai agen Pendidikan Anak

Perilaku anak terbentuk karena 4 hal:
  • Berdasar kepada siapa yang lebih dulu mengajarkan kepadanya: kita atau TV?
  • Oleh siapa yang dia percaya: apakah anak percaya pada kata2 kita atau ketepatan wakyu program2 TV?
  • Oleh siapa yang meyampaikannya lebih menyenangkan: apakah kita menasehatinya dengan cara menyenangkan atau program2 TV yang lebih menyenangkan?
  • Oleh siapa yang sering menemaninya: kita atau TV?

Apa yang seharusnya kita lakukan?

  • Bangun komunikasi dan kedekatan dengan mengevaluasi 4 hal tersebut yang menjadi faktor pembentuk perilaku anak kita.
  • Menggantinya dengan kegiatan di rumah atau di luar rumah yang padat bagi anak2nya.
  • Gantilah program TV dengan film2 pengetahuan yang lebih mendidik dan menantang mulai dari kartun hingga CD dalam bentuk permainan edukatif.

37. Mengajari Anak untuk Membalas

Sebagian anak ada yang memiliki kecenderungan suka memukul dan sebagian lagi menjadi objek penderita dengan lebih banyak menerima pukulan dari rekan sebayanya. Sebagian orang tua biasanya tidak sabar melihat anak kita disakiti dan memprovokasi anak kita unutuk membalasnya. Hal ini secara tidak langsung mengajari anak balas dendam. Sebab pada saat itu emosi anak sedang sensitif dan apa yang kita ajarkan saat itu akan membekas. Jangan kaget bila anak kita sering membalas atau membalikkan apa yang kita sampaikan kepadanya.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?:

  • Mengajarkan anak untuk menghindari teman-teman yang suka menyakiti.
  • Menyampaikan pada orang tua yang bersangkutan bahwa anak kita sering mendapat perlakuan buruk dari anaknya.
  • Ajaklah orang tua anak yang suka memukul untuk mengikuti program parenting baik di radio atau media lainnya.

Kalau berminat bisa langsung membelinya di toko buku terdekat.
Sumber: http://tjokroaminoto360.wordpress.com/

Share this post

Post a comment

  1. Artikel ini Kayaknya terlalu SOK tau..,coba anda bandingkan kelakukan anak sekarang dengan anak generasi dahulu, anak generasi dahulu kebanyakan kalo dikasih tau orang tua pada manut dan nurut kata ortu, kalo anak jaman sekarang kebanyakn banyak yg gak nurut, menurut saya ini akibat terlalu banyak pendapat2 dokter ahli anak atau psikiater anak yg sebagian besar terlalu memanjakan anak, satu contoh...,jika seorang anak melakukan kesalahan sudah pasti kita marah (tp tidak berlebihan) supaya anak nanti tau kalau itu merupakan suatu kesalahan sehingga dia tdk berani melakukan lagi, tp kalau pendapat dokter anak /psikiater malah sebaliknya...,anehh...makanya anak2 sekarang banyak yg gak nurut kata2 oarang tua.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo yg belum punya anak mungkin belum tau gimana sulitnya mendidik anak..

      Delete
    2. Mas Sabar Widodo ini pendidikannya apa dan sudah punya anak berapa? mungkin bisa di-share bagaimana cara yang baik mendidik anak berdasarkan pengalaman yang dipunya...

      Delete
    3. Yang SOK tau yang mana ni? :-).. Sabar.. Sabar... #usapdada

      Delete
    4. anak yang manut dan nurut sama orang tua? maaf yah... saya gak mau punya anak yg seperti itu. Saya mau anak saya punya pribadi yang merdeka dan punya argumen atas semua tindakannya.

      Delete
    5. Sebetulnya "SokTAu"ini adalah contoh nyata dari hasil salah didik orangtua. Si raja yang tak pernah salah.atau mungkin benar juga spt yg dikatakan tidak semua anak logika nya sampe ya...

      Delete
    6. Seperti mas Widodo ini lebih TAU dalam mendidik anak.share pengalaman nya dong..
      (sebagai orang tua dan masyarakat yg bijak kita hrs sabar dlm menghadapi anak yg kurang pendidikan dr orangtua di masa kecil nya..ya ini salah satu contoh nya).hehe

      Delete
    7. menurut saya mas Widodo ada benernya juga, tapi bukan berarti saya tidak sepakat dengan anonymous sekalian, menurut saya cara terbaik dalam mendidik anak adalah dengan mendidik diri kita sendiri. kita ingin anak kita jujur, ya bersikaplah jujur sebagai ortu, mau anak tekun beribadah, ya kita sebagai ortu harus lebih giat ibadahnya. g suka anak liat TV terus, ya jangan biarkan anak kita liat ortunya nonton infotainment/sinetron di TV dll.
      berikan lingkungan yang kondusif, kalo tidak ingin anak kita terpengaruh oleh anak tetangga, buat anak tetangga terpengaruh oleh keluarga kita, tentunya pengaruh yang baik, kalo ndak pengen anak terpengaruh paman, bibi, kakek, nenek dll, jangan biarkan anak kita menyaksikan apa yang kita larang di lakukan oleh pihak2 ke-3 tadi, atau beri pengertian jika terlanjur anak kita melihatnya.

      kalo kita sudah berusaha menjadi ortu yang baik, kog anak kita tidak baik, liat dulu, mungkin kita kurang dalam mendoakan anak.
      jangan berhenti berdoa, jangankan kita yang manusia biasa, bagi yang muslim pasti tau kisah nabi Nuh a.s, kurang baik apa nabi Nuh a.s?? toh anaknya sendiri tetap membangkang. jaman sekarang juga byk yang seperti itu, anaknya kyai tapi kelakuannya kaya g pnah ngaji. itu semua mengingatkan kita kalo anak itu sebenarnya bukan milik kita, anak kita sejatinya adalah milik ALLAH.

      yang jelas ALLAH tidak akan menutup mata dari apa yang sudah kita usahakan.
      so, tetep semangat menjaga buah hati.

      Delete
    8. saya paling setuju ma mas/mb Feri. Kita sebagai orang tua emang harus banyak membaca n berdoa, klo g sesuai menurut mas/mb ya g usah diikuti....tpx jangan pake marah2 to

      Delete
    9. Mas SABAR, sepertinya ngasi liat wataknya sendiri yah dengan kata-kata "SOK TAU", makanya repot sama anak-anaknya.. Mungkin mas SABAR ini tidak liberal dan berkomunikasi yg sehat sama anak-anaknya.. Karna merasa yang paling benar dan paling tau!! Tidak suka mendengar pendapat orang dan belajar dari pengalaman orang!! Berubah dulu mas SABAR, nanti anak-anakmu jadi anak-anak yang menurutimu.. Amin!

      Delete
    10. Cara mendidik anak saat ini gak akan sama seperti kita dididik di masa lalu. Karena jaman pun terus berkembang, informasi mudah didapat menyebabkan anak saat ini lebih kritis.Menuntut kita sebagai orang tua harus lebih bijak dan sabar.

      Delete
    11. Duh mas sabar masih piyik bener..belajar yg byk dl mas spy jadi org yg cerdas.

      Delete
    12. Apa yg Mas Sabar bilang ga sepenuhnya salah, tapi jaman berubah, Mas. Kadang kita sbg orang tua sulit mengikuti semuanya yg anak skrg terexposed with. Media, perngaruh pergaulan, teknologi, dll. Emang bener, kadang saya suka geleng kepala lihat anak2 jaman sekarang. Tapi semua kemabli ke kita sbg orang tua, krn orang tua adalah guru utama anak. Kita nggak bisa jadi diktator thd anak. Gimana anak mau nurut kalau adanya dijejali dogma2 dan aturan2 terus menerus. Sbg manusia, ga bisalah kita spt itu. Kita harus bisa memberikan anak kebebasan yg bertanggung jawab. Sbg orang tua, sedikitnya itu yg kita bisa lakukan spy anak nggak hilang ditelan arus. Orang tua bukan diktator, tapi pembimbing.

      Latar belakang saya: saya punya 2 anak, umur 12 dan 8. Saya berijasah guru Early Education di Amerika dan berjuang menanamkan nilai2 timur dalam perkembangan anak2 saya di negara orang.

      Delete
    13. Anda keberatan nama kayanya nih sdr sabar.. Nama inkonsistensi dgn dirinya sendiri. Ganti aja namanya sdr widodol, peace!

      Delete
    14. SETUJU SEKALI SAMA SABAR WIDODO. ANAK JAMAN SEKARANG EMANG CENGENG. JADI PERLU KITA GEBUKIN. BILA PERLU KITA PATAHIN TANGAN ATAU KAKINYA BIAR HORMAT SAMA KITA. TOH MASIH ANAK2 NTAR JG KALO PATAH CEPAT SEMBUH. JADI UDAH BRAPA KALI ANDA PATAHIN TANGAN N KAKI ANAK ANDA? ADU BANYAK2AN YUK :P

      Delete
    15. Pak Sabar Widodo kayak Nama Penjual Nasi Goreng di dekat Rumahku.

      Delete
    16. ntar kalau orangtuanya maling anaknya juga ikutan dong :v

      Delete
    17. Pengalaman pribadi ya mas sabar widodo, punya anak yg gag nurut...

      Delete
    18. Kata kata "Soktau" yang dikatakan mas sabar itu mencerminkan diri mas sabar sendiri loh,hati hati kalau berkomentar,kalau ga mau diikutin ya sudaah,ga usah ngeliarin kata kata begitu,disini kan kita saling share,ga sependapat ya sudah ga usah diikutin kok repot,silahkan lakukan aturan anda sendiri,cobaa kalo mas sabar merasa pendapat ini salah,kasih tau kaya gimana sih yang bener ?biar kita sama sama belajar,jangan cuma bisanya menyela orang,kata kata kita itu nunjukin personality kita,saya belum punya anak,jadi saya masih belum tau gimana caranya mendidik anak,coba tolong di share mas sabar widodo :)

      Delete
    19. Aku kenal orang skeptis kayak mas sabar. Yang aku tau dia dari keluarga rada broken.

      Delete
    20. Sabar ya mas...sabar...yang sabar aja .... haha

      Delete
    21. Share yg positif itu sangat berguna bagi yang mau belajar...
      jangan yg sok tau bilang orang lain sok tau...
      tidak baik juga hanya berdoa berdoa tapi tidak melakukan yang baik...
      Silahkan ambil yang cocok dihati... Klo ga cocok, pindah "chanel" aja cari yg cocok...
      Didiklah diri sendiri, agar berkenan di lingkungan...
      Praktekkan yang baik baiknya saja, supaya 'zaman' ga ikut di salah2in... :) ...)

      Delete
    22. dia tidak berani melakukannya lagi .. berarti kapan kapan klo dia berani malah melakukannya lagi.

      Delete
  2. Makasi buat artikel nya.. Sangat logis dan mendalam.. Iya, psikologis anak memang bukan sesuatu yang gampang dimengerti orang dewasa.. Mungkin artikel ini tidak 100% berlaku di semua ank, tapi ini garis besar logika mendidik anak.. Yang ngga ngerti mungkin memang logika nya ngga sampe aja..

    ReplyDelete
  3. lha kalo sampeyan termasuk yang mana kak? :innocent:

    ReplyDelete
  4. yg nulis artikel belum punya anak yach ???

    ReplyDelete
  5. Ada benarnya juga, pada waktu masih SMA saya pernah mengalami orang tua yang marah kepada saya kemudian sampai tidak menegur saya dan menyidnir dalam perkataan. Meskipun maksudnya agar saya introspeksi, tapi sebagai anak muda saya masih belum bisa mengartikan makna sindiran itu. Sekarang saya baru mengerti semoga saat saya menjadi orang tua kelak, tidak mengulangi yang orang tua saya lakukan kepada saya. :)

    ReplyDelete
  6. Perwakilan Anak-anak 1February 10, 2014 at 10:10 PM

    sesuai ucapan saudara fajar. anak-anak memang susah untuk paham dan cenderung baru paham ketika sudah kejadian. kita tidak bisa selamanya menganggap anak-anak bersalah atas hal ini. karena pada dasarnya anak-anak sendiri memang masih kurang berpengalaman dari segi usia dan kehidupan. memang sering ada orang tua yang menegur anaknya dengan beralasan bahwa si orang tua lebih tau dan sudah pernah merasakan masa itu.
    tetapi, kalau melihat anak- anak jaman sekarang yang cenderung menuntut bukti konkrit daripada hanya ucapan. maka orang tua akan susah menemukan cara menyadarkan mereka.
    maka, disini yang sangat diperlukan untuk mendidik anak adalah dengan komunikasi yang baik antara orang tua dan anak sejak dini. agar ketika sudah beranjak remaja, sang anak akan mudah untuk berkomunikasi dengan orang tua dan akan jarang menyembuyikan sesuatu.
    untuk anak-anak yang sudah "terlanjur" beranjak remaja dengan kurang terbiasa berkomunikasi dengan orang tua, mereka akan cenderung menyembunyikan sesuatu dari orang tuanya. dan hal terbaik yang bisa dilakukan orang tua hanyalah memperhatikan setiap gerak-gerik anak, agar apabila mulai terjadi keanehan bisa segera diatasi.
    perlu diingat, dalam menegur anak-anak generasi sekarang, salah cara sedikit saja bisa berdampak fatal. baik teguran secara halus, menyindir, ataupun memarahi.
    mohon maaf apabila ada salah kata

    ReplyDelete
  7. Ad benerny... tapi sy malah berfikir sebalikny.... hasil akhir mendidik anak adalah ketika ia dewasa..... berbasil ato tidak bukan tervantung dengan teori...berapa persen sih keberhasilan teori diatas terhadap tingkat kesuksesan anak kelak ketika dewasa... ???? Jawabany pastibelum tau.... kunci jjawabnny hany satu KASIH SYANG.... apapun yg kita lakukan walaupun tidak sesuai dengan teori diatas tapi berlandaskan KASIH SAYANG insyaAllh akan membawa dampak pada anak....

    ReplyDelete
  8. Saya sangat setuju dengan artikel ini..memang ada pro dan kontra..ttp mnrut pandangan saya di mata seorg anak artikel ini mengatakan benar..karena saya mengalami hal trsbut sehingga pengaruh thd psikologis saya..ttp sebg org tua memang ibarat kata ucapan berbeda dengan perilaku mmg benar..mendidik anak memang sulit, ttp bagi or tua knp td untk menyimak maksud artikel ini dgn baik dan tolong jangan berperinsip anda itu palung benar..karena kata benar itu tidak ada yg 100%..manusia tdk ada yg sempurna..dan terimalah dr sisi pandang org lain dan egois di dlm diri

    ReplyDelete
  9. Saya sangat setuju dengan artikel di atas,cuma memang sulit melakukan hal yg benar di atas.butuh kesabaran besar untuk bisa melakuka hal tersebut.akan tetapi jika kita kembali mengingat dan konsekuen dengan hal mendasar seperti tujuan hal2 tersebut yg untuk kebaikan anak kita kelak,aku yakin kita semua mampu.menurut saya cuma butuh beberapa hal untuk bisa mendidik anak dengan baik dan untuk membuat anak menjadi baik :
    1. Harapan (tujuan)
    2, cara (ada di artikel di atas)
    3. Contoh ( beri contoh terbaik)
    4. Power ( kesabaran)

    Salam...

    ReplyDelete
  10. menurutku mendidik anak itu kuncinya mengendalikan emosi. emosi itu tidak bisa dihindari seperti halnya stres, tapi setidaknya bisa dikendalikan.

    ReplyDelete
  11. kok saya merasa aneh dengan pendapat anda ya ?

    " jika seorang anak melakukan kesalahan sudah pasti kita marah (tp tidak berlebihan) supaya anak nanti tau kalau itu merupakan suatu kesalahan sehingga dia tdk berani melakukan lagi, "

    sepanjang saya membaca artikel ini, tidak ada yang melarang ortu untuk marah, bahkan menurut saya artikel ini mengajarkan untuk marah dengan halus apabila ada yang melakukan kesalahan, :).

    mungkin bagi anda artikel ini terkesan SOK TAU, tapi bagaimana klo saya bilang anda pak Sabar Widodo SOK BENAR ?
    seperti poin pertama "Raja Yang Tak Pernah Salah".

    Padahal fungsi artikel ini memberi petunjuk bagaimana mendidik anak dengan baik, dan kalau anda merasa ada yang tidak benar, cukup ambil dan jalankan yang menurut benar .
    Tidak ada manusia di dunia ini yang sempurna, sesuai dengan pendapat artikel ini.

    Menurut saya sih artikel ini banyak bagusnya, bahkan bisa di pelajari, :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. 1000 % sependapat dengan anda

      Delete
    2. Artikel ini bagus dan benar... Hrs konsisten dan hrs ada penjelasan dan beri pengertian pada anak.. bkn hanya asal marah, melampiaskan emosi..
      Memang mengurus dan mendidik anak tdk ada sekolahnya dan tiap anak mempunyai sifat dan pribadi yg berbeda.

      Delete
  12. Ada Beberapa point yg diterapkan di acara televisi nani 911 dan memang berhasil...cara berbicara pada anak..cara menghukum dll. Memang kadang kita juga lupa ilmu kalau lagi capek atau emosi, ya itu susahnya mendidik anak. Anak sekarang banyak yg bandel soalnya niru lingkungan dan orang tuanya...dari kata-kata makian sampai emosiannya :D. Coba liat di jalan raya yg berkendara kaya' apa hehehhee

    ReplyDelete
  13. Thanks buat artikel nya,,

    tp kok sama persis ama yg ada di sini y? :frown:
    http://tjokroaminoto360.wordpress.com/2010/08/29/37-kebiasaan-orang-tua-yang-menghasilkan-perilaku-buruk-pada-anak/

    kalo memang ini cuman kopas, mohon klarifikasi link sumbernya.

    thanks :wink:

    ReplyDelete
    Replies
    1. Isi artikel ini di copas dr buku ahli parenting Ayah Edy yang judul bukux sama dengan judul artikel diatas.Baiknya membaca secara lengkap dulu mas kalimat pengantar dari penulis,soalx sdh dia jelaskan kok sumbernya

      Delete
  14. Ga banyak kata
    Anak adalah cerminan orang tua. Kalau anak salah orang tua juga harus intropeksi siapa tahu telah memberi contoh buruk.
    Buah pasti jatuh gak jauh dari pohonnya.

    ReplyDelete
  15. ilmu yang sangat bagus dan bermanfaat,terus terang saja terkadang kita hampir setiap melakukan ini pada anak-anak kita dan celakanya hal ini tidak kita sadari dengan artikel ini membuka wawasan kita bagaimana bersikap yang lebih baik agar menjadi contoh untuk anak-anak kita.thx

    ReplyDelete
  16. keren ini artikel. ijin printout. penting selaku orang tua yang ingin anaknya menjadi hebat karena kebiasaan orang tua yang tidak keluar jalur

    ReplyDelete
  17. mas sabar ini udh punya anak atau belum kok bisa blg artikel di atas sok tau? saya punya 3 putra umur 7,2 dan 7 bulan, wlpun sy jauh dari orgtua sempurna dan byk banget bikin salah, tp sy dan suami KONSISTEN dalam mendidik anak, alhamdulilah anak pertama saya nurut dan bisa "dikendalikan", selain dia pengertian bgt sm km orgtuanya, benar bgt yg dsajikan artikel di atas kn sy sendiri membuktikannya, dan insyaAllah akan saya terapkan untuk anak kedua dan ketiga dgn tak lupa menerapkan norma-norma agama. salam.

    ReplyDelete
  18. Tumbuh kembang anak harus kita ikuti dengan penuh bijak karena setiap anak mempunyai sifat yang berbeda .Bila sesuai dengan norma yang baik harus kita kembangkan dengan penuh kasih ,namun apabila menjurus ke hal yang kurang baik harus kita arahkan dengan kata lembut tanpa emosi .Orang tua harus jeli juga dengan pola makan dan kesehatan anak ,mungkin gizinya atau juga alat-alat inderanya .Apakah dia mungkin tuli dan rabun matanya .,bicaranya dsb .Orang tua harus cermat ,bila ada kelainan bawa kedokter anak dan psikolog .Trima kasih .

    ReplyDelete
  19. Mas Sabar pernah jadi anak kah? Makanya orang tau Mas memberi nama Sabar, karena orang tau Mas tau bagaimana cara mendidik anak.. Jika tidak mengerti apa yg saya maksud, lambaikan tangan saja hehe :D

    ReplyDelete
  20. saya setuju sama artikel ini dan saya hampir ngakak sama komen (maaf) bapak sabar :v sampe mungkin bikin admin web ini ikutan sabar bacanya #eh bisa saya terapkan untuk anak saya kelak. Saya sendiri pun mendapat beberapa perlakuan yang (sebaiknya nggak dilakuin) dan efeknya ya saya pernah merasa minder, lumayan keras untuk melepaskan diri :D

    ReplyDelete
  21. saya sangat suka sekali dengan tulisan ini..ambil yang positifnya dari tulisan ini..karena sebagai orangtua, saya masih banyak sekali kekurangan bahkan jauh dari sempurna..
    bagi yang tidak setuju atau tidak suka dengan tulisan ini...biarkanlah..! toh tidak ada yang dirugikan..dalam segala sesuatu di dalam kehidupan manusia pastilah ada suatu perbedaan..anggaplah biasa suatu perbedaan itu..
    -dalam kehidupan tetaplah selalu berbagi-

    ReplyDelete
  22. Artikel yang bermutu, sangat bagus untuk panduan orang tua dalam mendidik anak.
    Sama sekali tidak berkesan SOK TAHU karena semua disampaikan dengan baik dan masuk akal
    Bagi yang merasa artikel ini tidak bermutu atau tidak sesuai ya jangan diterapkan
    Bagi yang merasa bagus silahkan diterapkan

    ReplyDelete
  23. ini artikel lebih panjang dari teen commandments yak...

    ReplyDelete
  24. Artikel yg bgs...mampu membuat ortu buat introspeksi diri...jd inget minggu lalu kejadian nyata saya smp sempat beradu mulut sama satu ibu ..hal simpel ngantri bayar ...anak nya umur 4 taonan nyelak masuk kedepan saya dan ibunya ikutan..ya saya tegur ibu nya dgn sopan kalo saya lg ngantri juga..ckp mengejutkan sang ibu menjawab ya maklum la namanya jg anak kecil ..cocok dgn point 16 diatas...saya jg sbg seorang ibu merasa itu perlakuan yg salah berusaha mengingatkan sang ibu kalo itu salah seharusnya diajarkan jgn menyelak bkn nya memaklumkan..tp sang ibu merasa dia benar bahwa saya tdk mau ngalah sama anak kecil..benar2 tragis menurut saya seorang ibu didepan anaknya membenarkan tindakaan anaknya yg salah..karena terpancing emosi jg akhirnya saya ckp menyindir kalo gitu anak ibu nyolong dimall ga masalah dong kan namanya jg anak2..lol..Anyway cm mau berbagi sedikit pengalaman pribadi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keponakan saya juga diperlakukan begitu sama orangtuanya. Urakan sekali, kalau lagi makan bareng bahkan lompat dari kursi ke kursi mengganggu orang. Tapi dibiarkan saja dengan alasan masih kecil. Padahal umurnya sudah 9 tahun, tidak kecil menurut saya. Umur segitu harusnya sudah tahu bagaimana berkelakuan

      Yang parah lagi, orangtuanya juga menganggap nanti makin bertambah umurnya, kelakuannya akan membaik sendiri. Masih 9 tahun, belum bisa kontrol kelakuannya lah.. Nanti mungkin mencapai 11 tahun baru bisa.

      Sebenarnya saya geregetan pengen mendisiplin anak itu. Cuma jadi rikuh karena mindset orangtuanya

      Anak saya masih ada dalam kandungan, semoga nanti kalau sudah lahir, saya tidak melakukan kesalahan seperti itu ya :)

      Delete
  25. Kecoa juga bisa beranak, ngedidik anak ga semuanya bisa.

    ReplyDelete
  26. Ini artikel yang sangat baik, kenapa ada yang enggak senang? Klo anda terapkan setidak tidaknya bermanfaat bagi anak anda dalam pembentukan karakternya.

    ReplyDelete
  27. ternyata mjd org tua bukan lah hal yg mudah, kadang apa yg kt anggap baik utk di contohkan pd anak justru mjd contoh yg buruk tanpa kt sadari, semoga kt bs menjadi org tua yg mampu memberikan contoh yg baik utk titipan tuhan dgn bimbingannya..amin

    ReplyDelete
  28. sok tahu bagaimana? apakah anda sudah melihat dari segi pandang anak dan orangtua? ataukah anda sekedar membela diri?
    Saya tahu sekarang banyak anak yang melanggar orangtua, tetapi, mengapa anak melanggar? semakin anak dituntut, semakin anak dipaksa, maka anak itu semakin melanggar
    bila anda mengatakan bahwa artikel ini seperti memanjakan anak, berarti anda tak membacanya secara rinci dan teliti, silahkan membaca kembali dan cobalah untuk melihat dari segi anak dan orangtua, seandainya anda tetap ngotot, coba katakan bagaimana cara mendidik anak dengan baik menurut versi anda.

    ReplyDelete
  29. kalau bisa mendidik anak jangan dengan fisik dan membuat nya menangis. pasti akan terbawa sampai dewasa. misalnya dengan berkata kasar kepada anak sehingga membuat menangis.

    ReplyDelete
  30. tapi ini byk benernya koq pak dodo.. anak saya byk saya didik seperti diatas, hasilnya positif, lebih peka, penurut. tergantung anaknya masing2 sih ya.. bukan artikelnya yg sok tau , begitu menurut saya.

    ReplyDelete
  31. Yah ini artikel bagus diberlakukan untuk anak yang bener2 masi dalam pembentukan karakternya. Tapi kalo yang sudah bisa dilepas sampai dikasi ijin pulang main jam 9 malam (sperti salah satu contoh di artikel) ohohoo tidak bisa... Kalo udah pada tahap itu pastinya beda lagi dong. Anak yang udah terbentuk sejauh itu ada kalanya terlalu susah ato malah ga mungkin dengan cara yang lembut penuh pengertian. Ga selamanya anak2 yang kita anggap masih polos dan murni itu baik. Bisa jadi murni jahat. Dan kalo anak sudah jahat, jahatnya ga akan main2, karena dy blom kenal batasan... Menghadapi anak yang begitu, ga bisa deh tanpa main fisik. Cuma bakal dianggap cemen sama si anak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau anak berkelakuan jahat atau tidak baik, sebaiknya pengasuh berintrospeksi kenapa perilaku anak menjadi demikian. Dan sering kali anak yang berulah itu karena ingin mencari perhatian lebih dari orang yang disayang (orangtua). Hukuman fisik bahkan dengan kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah, justru akan terekam ke alam bawah sadarnya sehingga nantinya dia akan berbuat kekerasan tersebut juga entah ke anaknya kelak, ke istrinya ato ke teman2nya. Sebaiknya di bangun komunikasi yang efektif antara orangtua dan anak dan berikan kasih sayang kepada Anak. Mendidik anak memang tidaklah gampang namun pastinya kita ingin yang terbaik buat anak-anak kita.

      Delete
  32. artikel yg sangat bagus untuk mendidik anak2. apalagi anak sy masih kecil2. yg paling penting adalah kedisiplinan dalam menjalankannya.

    ReplyDelete
  33. Asyik,,, mama papa sdh baca tulisan ini, tapi knp perlakuannya sama aja kaya dulu-dulu,,, euh,, orang dewasa memang menybalkan,,, tau teori ga bisa praktek,, masih mending aku,, walo msh kecil tapi aku sllu jujur klo ditanya sapa yg kentut,,, nah, org dewasa, kentut malah cuek,,,, heuh...

    ReplyDelete
  34. Ini dari bukunya Ayah Edy, good lah di jaman sekarang masih ada pemerhati anak seperti Ayah Edy. semoga semakin banyak pemerhati anak dan peduli kepada tumbuh kembang anak. Saya juga baru ngerasain setelah punya anak, repot juga ngurus anak yah, hihihihi

    ReplyDelete
  35. Pendapat boleh berbeda. Semua tergantung mindset dan believe kita. Pada akirnya semua akan bertanggung jawab pada hidup masing2. Klo sy pribadi artikel ini sangat2 bermanfaat. Bagi yg masih perlu banyak2 belajar ilmu parenting spt sy, artikel di atas sangat2 bperlu dibaca dan dipahami. Sebagai referensi bisa juga bergabung di komunitas ayah Edy.

    ReplyDelete
  36. paling bawah tulisan udah ada sumbernya mas, cuma blognya ga langsung ke postingnya. tp gpp, udah mendingan mau nulis sumbernya.

    ReplyDelete
  37. Apakah pernah ada penelitian setelah menjalankan semuanya akan menciptakan pribadi yg sempurna? Mendidik anak itu ga ada ukurannya...yg penting ketika anak dewasa dia hubungannya baik sama Tuhan. Pasti secara vertikal (ke manusia yg lain) juga akan baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. "...Yang penting ketika anak dewasa..." Bukannya yang namanya masa dewasa itu pasti melewati masa anak-anak ya ? gak mbrojol lngsung dewasa kan ? Brarti kan didikan sedari masi anak-anak itu masa paling penting, kalo didikan dr kecilnya aja salah ya besarnya bisa jadi gk bener

      Delete
    2. Tidak ada pribadi yang sempurna, orangtua pun tidak sempurna. Tetapi saya masih pegang prinsip 'ora et labora', bekerja dan berdoa.

      Anak yang terdidik dengan baik merupakan kombinasi dari pendidikan keTuhanan dan disiplin yang baik dari orangtua.

      Mengenalkan anak kepada Tuhan memang baik. Tapi akan percuma kalau orangtua juga tidak tahu cara mendidik anaknya.

      Delete
  38. udah mudah aja kalo anak NAKAL bunuh & buang aja ke kali

    ReplyDelete
  39. saya udah menerapkan itu dari dini sekali.. konsiten sampai skr umur 6 tahun.. tapi tetappp si anak masih sering susahhh diatur. kapan ya kira kira bisa memanennya? karena makin kesini (6 tahun) kok makin kayak abg ngomongnya, makin ketus. jadi ngelus dada. ya walaupun hal lainnya banyak yang baik jg,tp "baik"nya adalah dalam level wajar seusianya. yang pendidikan anak lainnya g seperti poin poin diatas.

    ReplyDelete
  40. artikel2 itu sebenarnya copas dr bukunya Ayah Edy yg judulnya "Mengapa anak saya suka melawan dan susah diatur, 37 kebiasaan orangtua yang menghasilkan perilaku buruk pada anak" terbitan grasindo tahun 2008. bisa dilihat di http://ayahkita.blogspot.com/

    ReplyDelete
  41. lebay artikelnya

    ReplyDelete
  42. anak suka melawan mungkin karena mereka memiliki ide/pikiran beda, maklum beda jaman. tapi orang tua merasa lebih paham sehingga muncul rasa 'dilawan' oleh anak. sepertinya kudu dijelaskan pula usia anak tersebut. kalo masih di bawah 10 tahun suka melawan dan susah diatur itu memang hasil perkembangan pemikiran anak. tapi kalo udah ABG bisa jadi kondisi lingkungan serta orang tua yg memang kurang memahami kehidupan anak-anak jaman sekarang. saya melihat dari segi pandang anak nih.

    ReplyDelete
  43. wakakaka, Bapak "Tidak" Sabar Widodo kemana yaa.....

    ReplyDelete
  44. hahahaaa.....setuju nih. Sebel banget ya, klo liat ortu yang kayak gitu. Sindirannya pas banget!

    ReplyDelete
  45. Jaman skrg susah utk menerapkn pola mendidik anak kyk artikel diatas..habis kbykn ayah bunda sdh trlalu mementingkn uang dgn sama2 bkerja,anak pun wktny lbh byk dihabiskan dgn org lain apkh itu penitipan anak,pengasuh,atau nenekny,atau bhkan sekolah full day..jd wajar ank skrg tdk bgitu mndengarkn prkataan ortuny yg hnya memiliki sedikit wkt utk ank2ny..lagian peran ortu dlm pmbentukan karakter ank sngt sedikit,wajar byk anak yg melawan...jd utk para ortu,kebutuhan materi emg pnting,tp prcuma aja klo kondisi mental anak buruk...

    ReplyDelete
  46. DImana2 yag namanya teori itu pasti "lebay" dan "ideal". tapi saya sangat setuju dengan artikel tsb. namanya juga kita berusaha mendidik anak ke arah yg lebih baik walaupun tidak bisa sempurna. gak ada salahnya kita menerapkan. walaupun yg berdampak baru 50%, tp kita sudah menaruh bibit pendidikan unggul yang kelak anak2 kita pun akan menerapkannya ke keturunan mereka.

    ReplyDelete
  47. sabar ya pak sabar, dari komen bpk sptnya bpk merasa gagal dalam mendidik anak2 bpk, tp mudah2an pendapat saya keliru :) terlepas dari teori pada artikel ini, sikap dan kelakuan anak2 kita sebenarnya merupakan penggambaran sikap org tuanya juga, jd kl kita merasa blm berhasil, ya kita harus byk2 koreksi diri juga, minta maaf ke org tua kita krn saat kecil atau mgkn sampai skrg kita juga msh sering membantah atau "bandel" ke org tua kita

    ReplyDelete
  48. Artikel diatas telah menguraikan sedemikian lengkapnya perihal mendidik dan pendidikan anak bagi Orang Tua. Kenapa tidak dijalankan dan diterapkan dalam lingkungan kehidupan keluarga kita masing-masing. Kedua orang tua harus berupaya memahami pentingnya pendidikan anak sedini mungkin. Sehingga keduanya wajib saling mengingatkan, karena pada sebagian orang tua tidak terjalin kerja sama yang baik dari keduanya dalam menanamkan jiwa anak yang berbakti. Figur tertentu lebih mendominasi pada perilaku kebaikan. Sementara, figur lainnya dikecam menunjukkan perilaku yang buruk bagi sang anak. Kedua figur ini pula yang diharapkan mampu menangkal pihak-pihak ketiga yang dapat membangun kepercayaan anak ke arah yang tidak diinginkan, seperti hadirnyan nenek, kakek, om, tante, saudara, ipar serta pihak luar lainnya.

    ReplyDelete
  49. Waaadduhh..
    Commenters yang pertama itu "bung SABAR WIDODO"
    Anda super sekali.. Kalimat anda menyerang & arogan.

    Saya bisa cermati spertinya anda mengalami 2 hal ini:
    1. Gagal mendidik
    2. Gagal terdidik

    #monggoo pak Sabar , dipilih yg mana.. Sambil di sruput kopinyaa.. :)

    ReplyDelete
  50. dasar orang tua kolot nan begok

    ReplyDelete
  51. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  52. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  53. @Feri: loh loh, dibaca ngga artikel nya mas? secara umum isinya begitu kok :P
    @SabarWirdodo: wkwkwkwk,, ini juga dibaca ngga artikelnya? Di artikel juga dibilang hal yang serupa bagaimana menangani anak marah? cups you Bro. haha.

    ReplyDelete
  54. namanya "sabar,," tapi komentarnya putus asa hehehe

    ReplyDelete
  55. Bermanfaat.. Bisa juga nih perhatikan kebiasaan anak saat mulai dewasa http://bit.ly/1fTKhqE

    ReplyDelete
  56. pak sabar kehabisan kuota intenet mungkin,g muncul lagi. artikel ini sungguh sangat berharga buat saya sebagai seorang bapak muda yang kwatir dan masih buta mendidik anak, secara logika dan nalar dasar kita, artikel ini sudah sangat bagus kok, tinggal kita menyaring dan menerapkannya kepada anak kita, thanks ijin share juga

    ReplyDelete
  57. Dibaca dan dipelajari dulu deh. semoga bermanfaat...

    ReplyDelete
  58. artikel ini ada benarnya, di point yang 'membandingkan', saya sendiri mengalaminya sebagai anak, ibu saya sering membandingkan saya dengan anak tetangga, kadang membandingkan sisi positi saya, dan kadang negatif saya, tapi walopun yang di bandingkan sisi positif dari saya, yang saya rasakan malah gak seneng sama sikap orang tua saya, terlalu membanggakan, dan kalau ada jatuhnya, pasti tetangga langsung membandingkan balik, dan gara2 hal itu saya sekarang jadi tidak suka duduk lama2 dengan ibu saya, tidak suka berdiskusi dengan ibu saya, tidak suka keluar rumah dikarenakan malas ketemu dengan anak yang sering dibandingkan dengan saya,, dan untuk mengubah sikap saya itu sekarang sangatlah susah

    ReplyDelete
  59. Betul itu... itulah yang seringkali tidak disadari oleh para orangtua. Orangtua menganggap apabila mampu memberikan apa saja kebutuhan jasmani c anak itu yang terpenting. Padahal sang anak selain cukup kebutuhan secara materi, kebutuhan yang paling penting adalah emotional bonding kepada orangtuanya, dan itu yang sering tidak didapat. Dan pada kenyataannya anak yang kurang emotional bonding kepada orangtua seringkali berperilaku kurang baik di lingkungan

    ReplyDelete
  60. ya ada benarnya, kita manusia biasa klo saban hari ngemong anak kdg jenuh kesal dan marah. marah pd anak wajar. klo g boleh marah kelakuan anak tambah menjadi". klo anak jaman dlu manut dan nurut tp dokter anak ma psikolog koq sdikit. skrg tambah banyak dokter koq anak" tambah bandel. :) ada hubungannya kah? tp percaya pd tuhan dan petuah org tua jaman dlu. klo kita g percaya petuah ortu jaman dlu apalg anak" sekarang. ya ga?? heheheh..hukum alam...lbh banyak instropeksi diri gmana sih kita wktu kecil? yg baik diteruskan yg g baik jgn sampe anak mengalami deh. salam

    ReplyDelete
  61. Namanya juga berbagi, tentunya artikel ini bisa menjadi rekomendasi tersendiri bagi orang tua dan calon orang tua, terima kasih admin

    ReplyDelete
  62. Alhamdulillah Orang Tua saya telah mengajarkan saya seperti artikel di atas, dan saya pun melakukan hal yang sama kepada anak saya, hasilnya Alhamdulillah anak saya cerdas dan santun. walaupun baru 1,5 tahun tp cepet tanggap.
    Ajarkanlah anak2 kita dengan kasih sayang. Trims Admin

    ReplyDelete
  63. mas fery itu sdh ada keterangan sumber dr mn dibawah sendiri
    ...:)

    ReplyDelete
  64. Didik lah anak sesuai zaman nya. jadi jangan bandingkan kan lagi anak dulu sama anak sekarang, semua nya jelas berbeda!

    ReplyDelete
  65. saya pernah denger kata2 " Jadi Perwira yang baik ada sekolahnya, Tapi JADI IBU dan AYAH YANG BAIK TIDAK ADA SEKOLAHNYA." apa yang diterapkan ke anak nanti adalah benar adanya,,Amin

    *Have a nice long weekend People*

    Jadi Maklum saja kalau orangtua selalu mencari ilmu dalam mengajarkan anaknya, serta tetap meminta bimbingan dari Yang Maha Kuasa, agar

    ReplyDelete
  66. menurut saya artikel ini sangat baik untuk referensi alternatif mendidik anak,,,pengalaman adalah guru yg paling penting,,sebelum menjadi ortu kita jg pernah menjadi anak2 kan. sy banyak belajar dr masa kanak2 saya,,,apa yg saya suka dan tidak suka dari kedua ortu sy,,misalnya,,,dulu ibu saya selalu memukul untuk mendidik anak2 nya,,,sebagai anak saya sangat tidak suka perilaku tsb,,maka kini sbg ortu,,,saya berusaha untuk tidak pernah memukul anak2 saya. yg paling penting menurut saya adalah mendidik dengan contoh bukan dengan kata2,,,dan selalu mendoakan yg baik untuk anak2

    ReplyDelete
  67. Anda nakal? Masih beruntung gak dibunuh sm org tua Anda! Ngeri bpk ini nanti klo sdh jd org tua, ank nakal, bunuh! ank nakal, bunuh! hiiiiiy semoga mendapat pelajaran dr mulutnya yg kotor cakap... #anti seven rizky

    ReplyDelete
  68. Ini comment dari seven rizky:
    "udah mudah aja kalo anak NAKAL bunuh & buang aja ke kali"

    ReplyDelete
  69. Kasian pak Sabar....malah jd korban krn salah komentar ckckckckckk

    anak sy sdh 18 n 15 th. Hampir semua teori di atas sdh sy prakekkan. Msh ada kurang dikit2 namanya jg manusia merdeka yg diatur bukan robot. Tp anak sy gak mau tukar dg org tua lain yg lebih "lunak" atau permissive. Hasilnya anak2 bangga pd diri sendiri krn dimana2 diterima n dipuji org. Pd akhirnya semua akan kembali pada mereka sbg pribadi muda.

    ReplyDelete
  70. artikel yang bagus. penempatan komentar juga bagus pas sekali dengan menempatkan komentar dari pak sabar di urutan pertama jadi tambah rame komentar2 lainnya salut buat penulis.

    ReplyDelete
  71. terima kasih pak sabar jasa anda meramaikan forum ini akan selalu kami kenang wkwkwk.peace

    ReplyDelete
  72. ini rangkuman buku ayah Edy. .judulnya sama, 37 kesalahan org tua dalam mendidik anak..sebaiknya dicantumkan juga judul buku dan pengarangnya ya

    ReplyDelete
  73. Menurut saya, anak2 terbentuk dari rumah dan perilaku orang tua. Saya sering mengamati perilaku anak2 dari teman2 anak2 saya di sekolah. Anak2 yang tenang dan sopan biasanya (salah satu) orang tuanya pun pendiam dan bertutur kata dengan lembut, sedangkan anak2 yang agresif dan aktif, sang orang tua juga bersuara keras dan kasar.
    Artikel ini mengajarkan agar kita sebagai orang tua mendidik anak dari awal dengan sopan, lembut- namun tegas dan selalu bersikap positif...tidak mudah memang, karena saya sebagai anak tidak berasal dari lingkungan seperti ini, tapi kenapa kita tidak segera melakukan perubahan ? Dengan jaman tehnologi tinggi saat ini, anak2 banyak mendapatkan pelajaran dari luar yang sulit dibendung, sehingga jika kita masih menggunakan cara seperti orang2 tua jaman dahulu, anak2 akan semakin frustasi dan kreatifitas mereka terhambat.
    Bagi saya pribadi, anak2 adalah manusia muda yang berhak memiliki pendapat, mengekspresikan perasaan mereka seperti halnya orang dewasa, dan tugas kita lah sebagai orang tua untuk mengarahkan mereka agar dapat bertanggung jawab, dipercaya dan diandalkan atas tindakan yang mereka pilih.

    ReplyDelete
  74. hehehe.. Pasti Mas Feri ini tdk membaca artikel ini dg seksama yah? :smile:
    Sumber artikel ini adalah dari Buku Ayah Edy (Praktisi Anak) yg brjudul "37 Kebiasaan..." (sesuai judul artikel).
    Trus coba liat bagian akhir dr artikelnya.. :)

    ReplyDelete
  75. ini akibat susu formula dan KFC wkwkwk

    ReplyDelete
  76. SABAR WIDODO GOBLOG :thumbsdown: :grin:

    ReplyDelete
  77. Di bagian akhir artikel kan udh dicantumin mas sumbernya darimana. Ga baca sampe selesai yaaa?? Hehehe.....

    ReplyDelete
  78. Menurut saya artikel ini bagus sekali. Krn saya dididik dengan cara2 buruk yg diterapkan diatas.. dan hasilnya??

    Jujur saya menjadi anak yg benci orang tua, pendendam,
    dan sering sakit hati dengan perlakuan orangtua yg kerap melimpahkan kemarahannya pada saya, anaknya.
    Dan menurut saya, mereka sama sekali tidak berusaha untuk menjadi orang tua yang baik untuk anak2nya.
    Kerap saling lempar tanggung jawab dan melampiaskan kekesalan mereka pd anak.
    Sekarang saya kerapkali menghindari orang tua saya, pendiam, murung dan selalu mencari solusi diluar serta saya tidak mau berdiskusi dengan orang tua saya, seberat apapun masalah yang saya alami.

    Semoga ini tidak terjadi ke anda dan anak2 anda semua. Yang saya bisa bilang bahwa artikel ini 99% akurat.
    Saya mengalami perlakuan buruk tersebut selama HAMPIR 10 tahun.

    Anak anda semua merupakan generasi penerus bangsa. Jika ingin merubah bangsa ini menjadi lebih baik, mulailah dari anak anda.

    Untuk pembuat dan penerus artikel ini, terima kasih atas post nya yang bermanfaat.
    Sangat membangun :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh gan, saya juga sama ini, baca artikel KOK ini saya banget yahh. D: Dan saya baca kumen agan, leh ini lebih gw banget, ternyata banyak banget orang yang end-resultnya jadi kaya gini :( Jadi sedih yah, saya bertekad jadi orang tua gk akan mendidik dengan cara sama. Lebih menghargai pendapat anak.

      Delete
    2. Turut prihatin atas kejadian yg mas alami..pastinya menyedihkan untuk tumbuh dalam keluarga yg tdk memahami anaknya.Baiknya mas berkonsultasi ke psikiater utk mengatasi trauma mas yg mendalam..smoga tetap diberikan kesabaran ya mas.salam...

      Delete
  79. Artikel ini benae sekali. Saya mengalami masa kecil yang penuh tekanan, bikin salah remeh temeh dijambak, dipukul, dikata katain kasar oleh bapak saya. Akibatnya saya gak suka bapak saya, males untuk bicra dengan bapak. Ibu saya juga kata orang lembut dan baik, tapi kalo dirumah ngomong kasar, membandingkan saya denganbanak tetangga, bahkan bapak dan ibu saya klo marah audah biasa tuh isi kebun binatang keluar semua. Untungnya saya tidak lari ke hal hal negatif, tapi akibatnya saya tumbuh jadi anak yang minder, tertutup, dan gampang marah. Setelah punya anak, kalo lagi kesal sama anak, anehnya saya mrah dan ngeluarin kata kata yang dulu diucapkan bapak dan ibu ketika memarahi saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banya berdoa bunda sayang,mgk bunda mengalami trauma berat jd bunda cenderung mengulang apa yg bunda dapatkan dulu.saya sarankan bunda berkonsultasi dengan psikiater/ahli terapis utk menyembuhkan traumatis bunda.

      Delete
  80. Berdoa sama Tuhan minta agar kebiasaan mengeluarkan kata2 yg tidak pantas itu agar dihilangkan selamanya. Berdoa terus,hasilnya lama-lama ada. Beri Tuhan waktu untuk bekerja agar proses itu tuntas hilang; dengan kata lain itu tidak dalam 1 hari bisa hilang, tapi dengan pertolongan Tuhan, itu bisa cepat hasilnya kelihatan. Yang terasa adalah pertama-tama perasaan menyesal telah mengeluarkan kata-kata tidak pantas terhadap anak, setelah itu makin sadar kalau anak haruslah disayang bukan untuk dikata-katain,hingga proses selanjutnya makin lama makin berkurang hingga hilang sama sekali semua perbendaharaan kebon binatang. Semua kata-kata menyakitkan itu asalnya adalah dari setan. Anak Tuhan harus memancarkan kata-kata kasih yang tulus dan lembut di dalam keadaan apapun dan dimanapun. Sepertinya susah ? Tidak. Kalau Tuhan sudah bekerja didalam diri kita, maka kita akan diberikan kekuatan untuk menghadapi semuanya.
    Amin.

    ReplyDelete
  81. Utk jd ortu yg baik memang sulit. Harus terus belajar. Yg paling utama adl mengajarkan Firman Tuhan sejak kecil. Spt d kitab Amsal tertulis: takut akan Tuhan adl sumber pengetahuan. Dr kitab suci, orang tua& anak belajar utk hidup kudus menghadapi godaan, kuat menghadapi pencobaan sehebat apapun. Shg menjadi manusia2 yg tangguh, yg berkenan bagi
    Tuhan. Syallom....

    ReplyDelete
  82. Menurut ( maaf) anda sekalian apakah saya salah.
    Saya adalah seorang anak laki-laki
    Dulu saya sewaktu masih sekolah (SMA kelas 2) saya pernah meminta dibelikan laptop sama orang tua saya, dan ketika itu orang tua saya menjawab... Yasudah nanti kalo naik kelas 3beli aja laptop yang harga-nya 10 juta-an. Akhirnya saya pun senang akan perkataan orang tua saya.
    Dan ketika saya sudah naik kelas 3 saya pun menagih orang tua saya untuk membelikan saya laptop dan orang tua saya menjawab nanti aja pas ramadhan. Saya pun mengiya-kan ( walaupun agak sedikit kecewa) dan ketika sudah dibulan ramadhan saya meminta lagi ( pada waktu itu saya sedang tidak ada dij***r**) saya bilang ke orang tua saya: Pah/mah aku beli laptop-nya disini aja deh, aku bisa kok nyari sendiri. Orang tua saya pun menjawab: lah kamu kan sedang tidak ada dij***r**, nanti saja yah kalau kamu sudah di j***r**( saya waktu itu sempet maksa minta uangnya untuk beli sendiri sampai berdebat) dan akhirnya orang tua saya berkata: gini aja deh kamu maunya laptop apa kasih tau merknya spesifikasi-nya Dll, nanti dicariin sama *b**g kamu ( akhirnya saya sebutkan tentang laptop itu yang saya ketahui, dan bilang nyarinya diorang yang jual butuh aja biar dapet murah.) dan ketika saya kembali ke j***r** saya menagih laptop saya ke orang tua saya. Orang tua saya akhirnya menjawab: gak usah yang 10 juta, kemahalan... Kalo mau yang 2,5 juta aja ( saya kesal mendengar itu, padahal dulu saya sudah bermimpi untuk membeli mackbook second dengan uang 10 juta) akhirnya saya meluapkan kekesalan saya dimedia social ( dengan sedikit menyindir
    orang2 yang mendukung pendapat orang tua saya) saya sebenarnya paham mengapa Orang tua saya berkata seperti itu, akan tetapi kebohongan kedua orang tua sayalah yang sejujurnya membuat saya sakit hati akhirnya saya Terkadang cenderung suka kesal dan terkesan kurang sopan sama kedua orang tua saya. Dan masih banyak perkataan orang tua saya yang membuat saya sebenarnya merasa sakit hati, mulai yang berkata: kamu ini gak tau apa2 dalam rumah tangga... *a*a yang udah lama berkeluarga jadi kamu jangan sok tau, Dll
    Walaupun saya sudah mencoba untuk mengerti keadaan, tetapi Terkadang kekesalan itu suka muncul sendirinya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tanya aja sebabnya diundur terus untuk dibelikan laptop kenapa? Coba komunikasikan dengan baik. Jelasin juga kenapa kamu pengen banget laptop dng harga 10jutaan.
      Mungkin keadaan uang papa/mama kamu lagi dibutuhkan untuk yang lain secara mendadak atau tidak terduga. Cari uang itu gak mudah loh.... Saling mengerti satu sama lain.

      Semoga membantu.

      Delete
    2. Terima kasih mba/mas atas perhatian-nya kepada says...
      Saya memang memahami kondisi ekonomi keluarga says ( sekarang ) hanya saja rasa sakit hati saya Karena sudah dibohongin itulah yang terkadang membuat saya menjadi suka kesal...
      Dan juga terkadang kalau saya sedang melihat perlakuan ayah/ibu saya yang kurang benar saya mencoba untuk kasih jalan yang benar... Tapi sering Kali ayah/ibu saya mengacuhkan...
      Padahal bagi saya tidak selamanya seorang dosen itu lebih benar ataupun hebat dari mahasiswa-nya ( maaf kalau pemikiran saya salah )

      Delete
    3. Sepertinya mas tipe yg sensitif,jd kekecewaan yg sedikit saja bisa merubah sudut pandang mas sbg anak ke orang tua.mmg dr segi orangtua jg semestinya menjelaskan sejak awal apabila mmg tdk mampu membelikan yg semahal itu dan mampunya cm yg 2,5 saja.tapi ya sudahlah,ga usah terlalu dipikirkan namax orgtua jg manusia biasa yg bisa khilaf.nanti klo mas udah jd orgtua,mas baru bisa rasain betapa sulitnya kami-kami ini bersikap adil dan lembut dlm wktu yg bersamaan.mengalahkan emosi dan ego sangatlah membutuhkan ketabahan yg berlipat ganda ;)

      Delete
    4. Walaupun saya memang masih belum mengerti bagaimana susahnya menjadi orang tua tetapi saya terkadang merasa ( seperti poin 1) orang tua terkadang juga memang tidak mau mendengarkan perkataan anaknya...
      ( tidak semua memang yang seperti ini)
      Tapi saya merasakan hal ini dikeluarkan saya...
      Hanya abang sayalah yang paling didengarkan perkataan-nya....
      Setiap saya mau sesuatu selalu harus disandingkan dengan dia....
      Dan mengapa saya selalu dibanding-bandingkan dengan dia...
      Memang saya paham abang saya anak yang berprestasi ( tidak seperti saya) tapi saya pun berhak mendapatkan mendapatkan hak dan memberikan segala masukan saya untuk kedua orang tua saya...

      Delete
    5. saya ngerti nih perasaannya, sebenarnya yg bikin sakit kan bukan krn ga di beliin laptop nya.. tp krn di boongin nya... bener spt yg artikel diatas bilang.. walau anak2 msh kecil, kita hrs tetap ngomong jujur sm dia dengan kata2 yg sederhana. jangan boong. saya juga dlu wktu kelas 3 SD tuh pernah dijanjiin bakal dibeliin sepeda kl dapet ranking di kelas. dari kelas 1 sampe lulus SD saya selalu ranking 1, jeblok2 ya ranking 2.. tapi nih smp saya SMA, temen2 udh zaman naek sepeda motor, tuh sepeda ontel kaga dibeliin juga... saya waktu SD, walau msh kecil ngerti koq kl ortu mungkin ga punya cukup uang buat beliin sepeda. tp saya jg msh inget, kecewa nya saya krn dijanjiin, pasti, sure... bakal dibeliin sepeda. gituuu... jadi pelajaran lah...

      Delete
    6. Memang benar apa yang mas/mba katakan....
      Saya memang tidak terlalu mempermasalahkan perihal laptop tersebut. Akan tetapi saya sudah sakit hati karena saya sudah dibohongi kedua orang tua saya ( walaupun sebenarnya saya paham hal ini tidak benar) Memang rasa dan kekesalan saya tidak selalu terasa dihati dan benak fikiran saya. Terkadang pun saya sering bercanda bersama kedua orang tua saya, karena memang saya tipe orang yang suka bercanda. Akan tetapi jika ada hal atau jika satu atau kedua orang tua saya sudah membohongi saya lagi, hal2 negatif selalu muncul dibenak fikiran saya. Seringkali saya menangis menahan amarah dan rasa kesal saya, karena saya masih bisa berfikir hal-hal yang terjadi jika saya menuruti amarah saya. Apa seperti ini yang namanya pendidikan orang tua kepada anaknya yang berasaskan " jangan manjakan anakmu dengan menuruti semua apa yang dia inginkan " Apakah dengan cara berbohong seperti ini untuk mendidik anak? Apakah harus membandingkan anak untuk membuat dia menjadi lebih baik? Apakah anak yang harus " SELALU " mengerti keadaan orang tua atau orang tua yang sadar ketika anaknya menjadi, melakukan atau tertimpa hal2 negatif??

      Delete
  83. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  84. Selamat Datang di Website OM AGUS
    Izinkan kami membantu anda
    semua dengan Angka ritual Kami..
    Kami dengan bantuan Supranatural
    Bisa menghasilkan Angka Ritual Yang Sangat
    Mengagumkan…Bisa Menerawang
    Angka Yang Bakal Keluar Untuk Toto Singapore
    Maupun Hongkong…Kami bekerja tiada henti
    Untuk Bisa menembus Angka yang bakal Keluar..
    dengan Jaminan 100% gol / Tembus…!!!!,hb=085-399-278-797
    Tapi Ingat Kami Hanya Memberikan Angka Ritual
    Kami Hanya Kepada Anda Yang Benar-benar
    dengan sangat Membutuhkan
    Angka Ritual Kami .. Kunci Kami Anda Harus
    OPTIMIS Angka Bakal Tembus…Hanya
    dengan Sebuah Optimis Anda bisa Menang…!!!
    Apakah anda Termasuk dalam Kategori Ini
    1. Di Lilit Hutang
    2. Selalu kalah Dalam Bermain Togel
    3. Barang berharga Anda udah Habis Buat Judi Togel
    4. Anda Udah ke mana-mana tapi tidak menghasilkan Solusi yang

    Jangan Anda Putus Asa…Anda udah
    berada Di blog yang sangat Tepat..
    Kami akan membantu anda semua dengan
    Angka Ritual Kami..Anda
    Cukup Mengganti Biaya Ritual Angka Nya
    Saja… Jika anda Membutuhkan Angka Ghoib
    Hasil Ritual Dari=OM AGUS, 2D,3D,4D
    di jamin Tembus 100% silahkan:
    Hub : (OM AGUS)
    (085-399-278-797) atau klik = togelmalaysia134@gmail.com

    ReplyDelete
  85. Anda ingin anak anda jadi seperti apa? Maka didiklah dia menjadi spt yg anda inginkan.. jika anda berbohong, maka ia akan berbohong... anak akan meniru tindakan orangtuanya... maka dari itu, jadilah orangtua yg bijak dan pintar. Byk cara mendidik anak, yg d share oleh penulis bukannya sok tau atau sok pintar apalagi soknmenggurui, namun masukan bagi para orang tua.. berpikiran positiflah thdp masukan dr org lain.. Terima Kasih Ayah Edy.. artikelnya sgt bermanfaat... smoga yg membaca dpt menerapkan dlm mendidik anak, dan tak lupa dsesuaikan dg keadaan dan kebijakn para org tua...

    ReplyDelete
  86. Saya besar dengan didikan keras dari Ibu saya. Beliau tidak tanggung-tangung mengeluarkan berbagai macam jurus dan kata-kata (seringkali kata kasar). Sampai pernah tetangga saya (tepatnya sepupu jauh yang jadi tetangga) berkata "kamu xxx aja, nanti kalo engga kamu mau dicaci maki lagi sama ibumu?" saya tertegun, berarti selama ini mereka mendengar kata2 Ibu saya ketika marah2. Kebetulan saya memang anaknya agak bandel sepertinya..(saya perempuan). Ibu saya mulai berhenti bertindak kasar itu ketika saya mulai kuliah magister di luar kota.
    dan saya besar dalam ajaran agama yang menekankan bahwa doa ibu itu kuat sekali, dan kita harus menghormati orang tua. Sekarang saya sudah memiliki seorang putra. Sering saya mengingatkan diri sendiri agar selalu berbuat baik termasuk kepada anak saya sendiri. Syukurlah saya tidak suka berkata kasar (sangat jarang sekali saya berkata kasar, saya juga tidak pernah memukul). Namun, yang membuat saya sering bingung adalah saya sangat mudah marah kepada ibu saya (hanya kepada ibu). Bahkan saya seringkali merasa bersalah karena mudah naik pitam jika sudah bicara dengan ibu..
    Dari dulu saya berpikir, pasti hal-hal yang saya alami dari kecil hingga remaja itu pasti ada dampaknya terhadap psikologis saya, hanya saja saya tidak sadar..
    Sekarang saya ingin memastikan bahwa anak saya tidak akan mengalami hal yang sama. Dia akan dididik dengan cara yang lebih baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Didalm anda pahit bu. Mengampuni ibu anda,adalah cara untuk merdeka dan sembuh,org yg terluka pasti akan melukai. :-)

      Delete
  87. Pak Sabar mukenye lumayan Terpelajar tapi otaknye kaga.

    ReplyDelete
  88. Pak Sabar mukenye lumayan cerdas, tapi otaknya tumpul

    ReplyDelete
  89. Kalau menurut pengalaman pribadi saya..kita harus kenali dulu tipe anak kita..krn klu kita sudah tau bagaimana tipe si anak,,kita akan bisa memilih metode atau cara apa yg cocok diterapkan utk mendidik anak kita.
    Terimakasih,,buat penulis artikel ini..saya mau pelajari lagi,,mana yg cocok dgn karakter anak saya.

    ReplyDelete
  90. klo saya setuju, klo mndidik dan mngajarkan disiplin pda anak itu memang harus dri dini bnget, krn makin besar, makin susah utnuk mngajarinya, anak2 udah keburu terpengaruh lingkungannya, tpi klo dri kecil udah pnya basic yg ok, insyaallah gedenya akan ok jg :-)

    ReplyDelete
  91. waaahhh bentar lagi sya bkal pnya anak ni, tgl hitung mundur aj lg, perlu banyak2 belajar dengan yang berpengalaman, bismillah dan berusaha

    ReplyDelete
  92. super sekali, betul brow...ambil yang fositifnya, ga usah diributan sesuai ato tidak karena semua orang beda-beda keadaan kelurganya. gitu aja repot!

    ReplyDelete
  93. Kami persatuan tukang ojek, tukang baso keliling, tukang tambal ban se Indonesia dengan ini menyatakan SAY NO TO SABAR WIDODO!!

    ReplyDelete
  94. Bagi Bapak/Ibu sekalian dan tim toktokwow yang terhormat anggap saja nama saya YA. Saya ingin mengajukan pertanyaan, Bagaimana apabila penyelesaian untuk permasalahan Point ke 8 tetap tidak berhasil dan orang ketiga dalam rumah tangga saya tetap bersikeras berpegang teguh pada dogma dan aturan yang dianggapnya benar (padahal tidak benar) dalam mendidik anak kami meskipun kami sebagai orang tua si anak telah memberikan komunikasi dengan baik-baik dan sopan pada orang ketiga tersebut? Mohon bantuan dan sarannya apakah ada jalan lain? Sebagai informasi kami masih baru berumah tangga dan masih belum memiliki biaya yang cukup untuk beli rumah sendiri sehingga terpaksa harus tinggal serumah dengan pihak ketiga tersebut yang tidak lain adalah kakek dan nenek dari anak kami. Terima kasih sebelumnya atas artikel di atas.

    ReplyDelete
  95. Ya artikel di atas mempunyai isi yang sangat berbobot,saya sebagai anak (17) merasakan betapa tidak enaknya mempunyai orang tua yang kasar,yang selalu merasa benar,selalu membanding bandingkan,selalu menyalahkan,saya benar benar senang membaca artikel ini,karena disaat saya sudah berkeluarga nanti saya tau apa yang harus saya lakukan ke anak saya agar dia tidak sakit hati dan tidak merasakan seperti apa yang saya rasakan,..ARTIKEL YANG SANGAT MENDIDIK

    ReplyDelete
  96. Artikel nya tertuju pada nilai saling mengargai , saling menghormati, dan saling menyayangi..saya kurang setuju dengan cara didik kuno .saya lebih setuju dengan cara didik moderen , atau cara didik yang sesuai dengan zaman.

    ReplyDelete
  97. Referensi yang baik... tidak apalah utk menambah pengetahuan bagi saya yang berencana ingin punya anak...

    ReplyDelete
  98. betul sekali, sama persis dengan buku ayah edy :)

    ReplyDelete
  99. Artikel seperti ini seyogianya bs dicetak dan diberikan di KUA dan Gereja agar anak2 kt yg akan berumah tangga terbekali ilmu mendidik anak.

    ReplyDelete
  100. Knp ga dicantumkan nama penulis. Agar kita sebagai pembaca bisa tahu yang menulis siapa. Tapi artikel ini secara logika memang bisa dipertimbangkan.

    ReplyDelete
  101. jaman dulu anak ketemu guru takutnya minta ampun, tapi anaknya pinter-pinter juga. jaman sekarang ditampar dikit ngadu ke ortu, manja banget. jaman sekarang ketemu guru bukan minjam buku malah minjam korek api, buat nyalain rokok.

    mendidik anak yang paling bener ya apa adanya aja, kalo iya dibilang iya, kalo salah bilang salah, bener bilang bener, marah ya marah aja. di sini yang perlu ditekankan sebenernya bukan pada mendidiknya tapi pengetahuan si ortu itu, kudu paham dulu mana yang benar dan mana yang salah. kalo ortunya bego ya good luck ajalah. anak udah bener dimarahahin, anak salah didiemin. itu semua gegara ortunya bego.

    ReplyDelete
  102. artikel yg bagus nih belajar sebentr lg sy jd ayah

    ReplyDelete
  103. SILA AMBIL MASA ANDA MEMBACA MY TESTIMONI PENDEK YANG MUNGKIN AKAN MENGGUNAKAN Penuh KEPADA ANDA DALAM SATU CARA ATAU LAIN.
    Hello
    Nama saya mawar James. saya ingin berkongsi kesaksian ini pendek dengan orang baik di dunia ini. Ia mungkin berguna kepada anda dalam satu cara atau yang lain. Ini adalah cerita saya.
    Suami saya berfikir poligami tidak salah, dia telah melihat perempuan lain selama 1 tahun yang lalu sekarang, dan saya memberitahu dia perlu berhenti tetapi dia mengatakan dia cinta dengan beliau, mereka telah pun bercakap tentang telah bersama-sama "FOREVER" dan juga dia bergerak ke dengan kami. suami saya masih mencintai saya, dia menyesal masuk ke ini di tempat yang pertama, tetapi tidak bersedia untuk memecahkan-up dengan dia, dia berkata jika dia memecah-up, tidak akan ada hubungan lain di luar perkahwinan mereka. Kemudian saya menerangkan dan mengadu kepada SANGAT BAIK KAWAN saya dipanggil MERCY, dan dia menghubungi saya dengan satu bedak ejaan dipanggil DR SUNNY.this orang besar memberitahu saya bahawa suami saya berada di bawah ejaan wanita itu. Tetapi dia mampu untuk memecahkan sihir tersebut dan suami saya berakhir hubungan dengan wanita itu dalam tempoh 48 jam dan dia kembali kepada saya meminta maaf untuk semua perkara yang dia lakukan dan memohon ampun saya. Saya berdoa agar Allah SWT akan terus menggunakan anda untuk membantu people.Friends lain tidak kekal dalam diam kerana mereka berkata "MASALAH BERSAMA ADALAH MASALAH SETENGAH DISELESAIKAN" Tetapi saya katakan masalah dikongsi dengan orang ini Great ialah "MASALAH KEKAL DISELESAIKAN "kerana seseorang seperti DR SUNNY mempunyai penyelesaian kepada semua masalah anda, tidak kira masalah itu hanya menghubunginya pada E-mel beliau: drsunnydsolution1@gmail.com saya hidup bahagia sekarang dengan suami saya dan 2 kids.DR indah saya SUNNY memberitahu saya i juga boleh menghubungi dia di mana-mana masalah-masalah berikut:

    (1) mahu kembali bekas anda.
    (2) Anda selalu mempunyai mimpi buruk.
    (3) Untuk dipromosikan di pejabat anda
    (4) Ingin anak.
    (5) Adakah anda mahu menjadi kaya.
    (6) mahu mengadakan suami / isteri anda untuk menjadi milik anda sahaja selama-lamanya.
    (7) memerlukan bantuan kewangan.
    8) Adakah anda ingin berada dalam kawalan anda perkahwinan
    9) Want anda tertarik kepada orang-orang
    10) hal tdk beranak
    11) PERLU A SUAMI / ISTERI
    13) CARA MENANG LOTERI ANDA
    14) PROMOSI Eja
    15) PERLINDUNGAN Eja
    16) Eja PERNIAGAAN
    17) Eja KERJA BAIK
    18) Penyembuhan bagi apa-apa penyakit.
    Hubungi DR SUNNY hari ini dan anda akan berpuashati dengan hasilnya. Email: drsunnydsolution1@gmail.com
    THANKS UNTUK MASA ANDA

    ReplyDelete
  104. Artikel yg sangat bagus, kalo ada artikel cara mendidik org tua yg baik ada ga ya

    ReplyDelete
  105. cara mendidik orang tua yang baik ya tinggal jauhi cara-cara yang tidak baik tadi pak :D

    ReplyDelete
  106. Mendidik anak dengan intimidasi / kekerasan akan membentuk anak menjadi pribadi yang arogan dan skeptis. Akan tetapi mendidik anak dengan kasih akan membentuk anak menjadi pribadi yang lemah lembut dan terbuka.

    Jangan pernah salahkan benda ketika si anak ter-antuk sebuah benda, tapi bilang ke si anak lebih hati-hati. Jangan pernah juga berkata "DIAM GAK, KALAU GAK DIAM DIPUKUL" ketika si anak menangis, akan tetapi lebih baik berkata " kenapa kamu menangis nak ? Ortu sayang kamu. Berkatalah kepada Ortu apa yang membuat mu menangis ".

    Karena kata-kata positif dan tindakan positif kitalah yang menentukan pembentukan karakter anak. Ingat buah gak jauh dari pohonnya. Kalau pohonnya berlaku buruk, maka buahnya juga ikut buruk.

    Saya hanya sekedar menyangga artikel diatas. Dan bukan mendukung artikel diatas. Hanya penengga saja

    ReplyDelete
  107. yg komen 'sok tau' pling2 ga diperlakukan dgn baek sm ortux,kurang perhatian,krg ksh syg,lagian anak jaman skrg sm jaman dulu jelas beda,jaman dulu makanx emang beragam ky skrg mo sehat ato ga?dulu jaman batu bukan teknologi canggih ky skrg,byk lah. . .nah yg 'si sok tau' tuh hidupx pasti di JAMAN BATU

    ReplyDelete
  108. Saya sangat sakit,karena semua yg diatas itu berada pada sifat kedua org tuaku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena
      1. Orangtua selalu merasa benar
      2. Jika tidak benar maka kembali lagi ke No.1
      ~

      Delete
  109. benernya anak,salahnya orang tua.. salahnya anak,benernya orang tua..

    ReplyDelete
  110. ada lagi, kalau saya berbuat baik apapun itu ga akan ada artinya dimata ortu, sedangkan kalau berbuat salah pasti kesalahan itu malah dibesar besarkan

    ReplyDelete
  111. SOK tau ya?? emang bener2 nama mas itu pas dengan kelakuannya. mesti sabar!! kalo blm pnya anak ato anak masi kecil jgn SOK tau ya

    ReplyDelete
  112. Betul sekali...artikel ini dicopy dari buku parenting karya ayah edy dan Masih banyak buku2 parenting lain yg sdh ditulis oleh ayah edy. Ayah edy adalah seorang pakar parenting yang sdh malang melintang didunia pendidikan indonesia. Selain sebagai ayah untuk 2 anaknya ayah edy juga seorang pendidik di sekolah yang d dirikannya yang sangat memihak dengan kebutuhan anak. Ayah edy jg seorang pembicara di seminar2 yg sering diadakan di kota2 seluruh indonesia. Ayah edy sangat konsen dengan kemajuan anak bangsa. Program yang terus berlangsung yang digalakan ayah edy sampai saat ini yaitu Indonesia Strong From Home. Untuk mengenal ayah edy lebih dekat silakan kunjungi website resmi ayah di www.ayahbkita.com dan komunitas ayah edy di fb https://m.facebook.com/profile.php?id=141694892568287

    ReplyDelete
  113. Makasih buat artikelnya...udah dishare. Sebagai ibu baru aku bnyk menerapkan hal2 diatas kpd anak saya,hasilnya positif,saya rasa ini tepat krn saya hasil didikan ortu indo jaman dulu yg kebalikan dari artikel diatas,dan hasilnya memang seperti yg ditulis diartikel. Alhamdulilah so far anak saya jdi lebih kuat,mandiri dan mengikuti kata ortu diusia yg masih sngt muda...mudah2an kedepannya semakin lbih baik. Thanks for sharing
    Buat yg komen negative bahkan ga penting,memang perlu ya komen seperti itu?disaat ada yg sharing tentang hal baik,mlh berkomentar negative seperti itu. Coba sedikit lebih aware dan menjdi lbih positive,hasil kebaikannya untuk anda jg kok

    ReplyDelete
  114. Sangat bermanfaat, terima kasih artikelnya bagus. Good Job!

    ReplyDelete
  115. Maaf...ijin share, mungkin sepertinya memang tidak mudah dalam penerapan teori dengan kenyataan. posisi saya ayah dari dua orang anak perempuan, istri sudah tidak bekerja dan mengurus rumah tangga dengan tidak ada pembantu....secara teori kita diharukan untuk bersabar,akan tetapi dalam kenyataan kita sebagai manusia biasa tidak bisa menutupi kekesalan maupun emosi kita jika anak melakukan kesalahan, saya mungkin bisa jadi juga akan sependapat dengan mas sabar yg mengatakan artikel ini "Sok Tau" "Lebay " dst akan tetapi saya juga percaya semua teori berdasarkan penelitian. sebagai seorang yang mungkin sudah banyak mengenyam pendidikan dan pengalaman mungkin kita dihadapkan dengan kemampuan logika berpikir kita jika harus berhadapan dengan anak juga harus mampu berpikir layaknya anak kita. pertanyaan saya :

    1. Bagaimana kita dapat menangkis perkembangan jaman yg mungkin sekarang serba amburadul (InsaAllah dengan agama sudah kami lakukan) akan tetapi logika berpikir anak yg hidup dilingkungan sekitar kita? Bagaimana?
    2. Mengatasi pergaulan anak perempuan lebih berat dengan pergaulan anak laki2? jika ada yg setuju monggo dishare ingat anak merupakan titipan, seorang ayah dari anak perempuan harus menanggung dosa maupun amalan Ibu, Istri, anak Perempuan dan saudara perempuan...
    3. Biasanya yg lebih pemarah dan tidak sabar dalam menghadapi anak itu seorang ibu....bagi saya wajar mengingat seorang ibu harus bekerja nonstop melayani suami,mengerjakan rumah tangga dan membimbing anak2....apakah kita harus melarang seorang ibu untuk meluapkan kekesalannya? asal masih dalam kewajaran saya pikir teori sudah tidak berlaku...setuju? dengan asumsi ibu tidak ada bantuan pihak ketiga (ortu,mertua dan pembantu)
    4. ijin masukan dari semua tentang istilah .."ah Teori" (iklan shampo kalo gak salah) ada dalam artikel ini? adakah yg sudah sukses dalam menjalankan teori dalam artikel ini?

    Maaf saya hanya sharing, saya pegawai swasta, anak 2 perempuan, istri satu...butuh banyak pengalaman dalam mendidik anak2 (mengingat anak saya keduanya perempuan)

    Salam #CHSS (curatan hati seorang suami) :)

    ReplyDelete
  116. Maaf profesi anfa ini apa ya #anonimous

    ReplyDelete
  117. Artikelnya bagus, bisa untuk referensi ortu untuk evaluasi diri.

    Terima kasih

    ReplyDelete
  118. Sabar hanya ngomong satu dua kali kok dihajar terus. Gak kasian? Jangan2 yg menghajar Sabar gitu juga ke anaknya?

    ReplyDelete
  119. Mas Sabar, perlu diketahui bahwa mendidik anak harus penuh inovasi. Jangan menyamakan style mendidik anak puluhan tahun lalu dengan sekarang. Be smart. Karena perkembangan teknologi dan lingkungan sekitar juga pasti jauh berbeda.

    Artikel di atas sangat bagus dan useful terutama untuk orang tua yang open-minded dan selalu mau belajar untuk perbaikan keluarga di masa depan. Tentunya harus diiringi dengan bekal agama dan moral yang baik juga.

    Never stop learning and don't be judgmental.

    Kalau anak-anak Indonesia pintar dan santun, maka Indonesia pasti bisa jauh lebih maju di masa depan.

    ReplyDelete
  120. Intinya bagaimana pun cara kita mendidik itu bukan suatu permasalahan yang penting anak bisa menjadi pribadi yang BAIK...karena tiap orang memiliki pola pikir yang berbeda...

    ReplyDelete
  121. TErima kasih ..masih ada orang yg mau berbagi pengetahuan & pengalaman..gratis pula.. ILMU yg berMANFAAT untuk menyikapi lingkungan yg ada sekarang...
    Jangan lupakan Tuhan Allah sang Pencipta yaaa... :)

    ReplyDelete
  122. Suka sama artikelnya.saya seorang anak ngerasain bgt dgituin dan mbuat sy jd prilaku ngtif

    ReplyDelete
  123. Tujuan penulis baik agar kita sebagai orang tua mampu membentuk generasi yang berakhlak. Saya sendiri sering emosi saat menghadapi kesalahan anak. Tapi disadari atau tidak kekhilafan itu mungkin akan merusak kepribadian anak. Dengan adanya artikel seperti ini kita jadi selalu diingatkan atas kekeliruan kita. Jika boleh jujur memang sulit untuk menjadi orang tua yang baik dan menerapkan semua teori diatas. Tapi jika terus diingatkan membuat kita lebih waspada. Karena baik buruk anak memang bergantung dari didikannya, terutama orang tua. Jadi bukan artikelnya atau penulis yang salah. Yang salah diri kita sendiri yang memang merendahkan diri sendiri dengan mengatakan tidak akan sanggup mendidik lebih baik dan santun karena tingkat kesabaran kita yang rendah. Tidak ada salahnya dicoba. Toh dalam islam pun mengajarkan agar kita dapat mendidik dengan sabar, lemah lembut namun tegas. Tidak dengan kekerasan dan nada yang kasar atau membiarkan anak melakukan apapun tanpa aturan tegas. Semoga kita bisa terus membenahi diri untuk menjadi orang tua yang lebih baik dan menjadi teladan bagi anak2 kita. #Menyesal rasanya atas pengendalian diri yang minim selama ini.#

    ReplyDelete
  124. Anak kita butuh keteladan nyata dari orang tuan, guru, masyarakat dan para pemimpin negeri ini. maka mendidiklah dengan keteladanan. Jauhkan anak-anak dari Tontonan Televisi yang tidak Mendidik, Kita sebagai orang tualah yang harus memulainya. Mari kita terus pantaskan diri jadi orang tua dengan cara belajar sepanjang hayat. Semoga Allah menanugerahkan anak-anak yang soleh dan solehah.Amin..

    ReplyDelete
  125. Ya klo merasa artikel ini ada yang kurang yang di koreksi. bukan di JUDGE.
    Be Smart Readerlah.

    ReplyDelete
  126. Wow...saya sangat suka dgn artikel ini, wkt kecil ketika saya d marahin ortu, saya berkata dlm hati "aku besok gak bakal ginikan anakku", walah setelah jd ortu malah ngulangi seperti ortu saya dulu, (maafin mama ya nak) skrg dgn artikel spt ini saya tau harus berbuat apa dan elajar cara memperbaiki diri. Walaupun sering salah juga,namun saya merasa ada perlakuan pksitif sejak saya mencoba untuk menerapkan ilmu parenting yg saya dapat, jdi konsekwesinya ya saya harus menata diri, dan legowo kalo posisi saya sebagai ortu salah....wong saya yg jadi orang tua alias yg sdh lebih dulu melewati masa perkembangan d bandingkan anak saya....hahahaha jd curhat...tapi terimakasih sekali......ilmunya sangat bermanfaat bagi saya....dan masih banyak yg harus saya pelajari dalam mendidik anak

    ReplyDelete
  127. ini artikel GG BANGET NDRO thanks yak

    ReplyDelete
  128. Menurut saya artikel ini ada baiknya, gimana kita menyikapi / membaca nya aja .. Kita gak bisa menilai orgtua a/b benar atau salah, masing2 anak berbeda dan tiap orgtua juga berbeda

    Tetapi alangkah baiknya kita sbg orgtua juga membekali ilmu dengan banyak membaca artikel2 spt yg jika memang menurut kita ada yg patut kita contoh ya monggo, kalopun tidak sependapat ya tdk usah dikutin. Gampang kan?

    Jd jangan langsung menJUDGE baik atau tidaknya, krn kita sbg orgtua juga belum tentu mempunyai bekal ilmu yg baik, akan selalu belajar bersama anak sampa seterusnya.

    Saya sendiri dulu bukan tipe anak nya bisa akrab dengan orgtua makanya skg saya berusaha mencoba menjadi yg terbaik bagi anak.

    Berhasil atau tidaknya kita mendidik anak hasilnya adalah nanti saat anak dewasa

    Salam!

    ReplyDelete
  129. Artikel apapun, selama isi dan tujuannya baik, mau sdh punya anak atau belum, semua dikembalikan kepada si pembaca (sbg orang tua) utk dicerna mana yg perlu disampaikan dilakuakan atau tidak terhadap anak. masing2 orang tua punya keinginan berbeda, mau jd spt apa si anak nantinya ya tergantung si orang tua tsb & penerimaan si anak terhadap didikan orang tuanya.
    Jaman boleh berganti, akses apapun semakin mudah, dan resiko anakpun semakin besar, tetapi akan menjadi seperti apa si anak itu semua tergantung KEMAMPUAN orang tuanya, jangan salahkan si anak, tanya kepada diri sendiri "SUDAH BENARKAH SAYA MEMBESARKAN MENDIDIK & MEMBERIKAN CONTOH DALAM KELUARGA..?" artikel diatas sangat spesifik sekali menggambarkan realita2 kehidupan di rumah..

    Soo..
    Jangan salahkan siapapun selain salahkan diri sendiri atas ketidakmampuan & ketidaktahuan kita dalam mendidik anak..!! Anak adalah cerminan pribadi orang tuanya..!!
    tengkyu atas sharing infonya mr/miss admin TokTokWow :D

    ReplyDelete
  130. Klo orang2 bilang "Ah itu teori"..... menurut saya ya ada benarnya, tapi teori nya masuk akal koq, Ini adalah sebuah teori mendidik anak, dalam prakteknya ya kita sebagai orang tua yang harus pinter2 mengatur strateginya....... Saya sebagai orangtua yg punya 2 orang putra & putri yg hyperaktif (kebayangkan repotnya), sudah melakukan teori tersebut dan dipraktekan (tdk hanya teori).... dan seperti teorinya, 85 % terbukti koq....... memang teori diatas "Tidak bisa diterapkan 100 % ke setiap individu anak", karena masing2 anak berbeda, So kitalah sebagai orang tua yg harus dinamis mendidik anak..... Sekali lagi (dan menurut saya yg paling penting) jika ingin mendidik anak, cobalah berpikir seperti anak2 (Anda ingat2 20,30 or 40 tahun yg lalu, waktu anda dimarahin sama bpk or ibu) gimana rasanya dan ingat2 lagi waktu anda merasa bersalah jaman itu, marah/didikan/tuntunan seperti apa yg anda harapkan dari ortu anda............... Balik lagi perilaku anak itu tergantung dari siapa yg mendidik/mengurusnya (bukan ortu) dan lingkungannya............. Hmmmmfhh capek juga nulis komentar ya......

    ReplyDelete
  131. Mendidik anak secara islami itu jauh lebih berkharisma.

    ReplyDelete
  132. Artikel yang bagus, bisa buat tambahan pengetahuan buat orang tua muda seperti saya yang baru punya anak 2.
    Buat mas Sabar Widodo yang wow banget, yang sabar ya, melihat komentar anda maka dapat saya simpulkan kalau anda masih single atau belum punya anak, atau mungkin anda punya masalah dengan orangtua anda.. (maaf kalau saya SOK TAU tentang pribadi anda)

    ReplyDelete
  133. Teori itu hanya landasan, nah kalau sudah dipraktekkan pasti akan ada improvisasi. Soalnya yang kita hadapi adalah anak (makhluk hidup). Dan setiap keluarga pasti punya kondisi yang berbeda, jadi cara mendidik anak juga berbeda. Karakter anak dan orang tua pun juga pasti berbeda di setiap keluarga. Dan saya rasa cara mendidik anak harus disesuaikan dengan kondisi masing masing meskipun menggunakan teori yang sama.

    ReplyDelete
  134. Artikel yg bagus !! Setuju dgn semua poin2 diatas, artikel (atau buku kah ?) ini dibuat berdasarkan apa yg umum orang Indonesia lakukan kepada anak2nya.. Saya percaya kalau semua tips diatas dituruti, anak akan tumbuh menjadi pribadi yg dewasa, logis dan bertanggung jawab.. Jangan sampai tumbuh menjadi seperti Sabar Widodo..

    ReplyDelete
  135. Mudah2an jadi seperti Joko Widodo..

    ReplyDelete
  136. TO ALL :
    Yang jelas anak adalah FOTO COPY dari ORANG TUANYA
    jadi apapun yang akan atau telah di lakukan anak itu adalah citra dari orang tuanya
    makanya mari kita didik anak-anak kita menjadi orang yang lebih baik dari kita sendiri dan bukan lagi menjadi FOTOCOPY dari ORANG TUANYA tapi lebih menjadi PENGEMBANGAN YANG LEBIH MAJU DARI ORANG TUA ITU SENDIRI.

    ReplyDelete
  137. Teman - teman kesulitan untuk Belajar Komputer karena kesibukan? kini kami memfasilitasi kursus komputer jarak jauh via online, silahkan kunjungi website kami di asianbrilliant.com, Master Komputer, Kursus Online, Kursus Jarak Jauh, Kursus Programming, Kursus Desain Grafis, Ilmu Komputer

    Ayah, Bunda..butuh guru untuk mengajar anak-anak dirumah ? kami memfasilitasi 1000 guru untuk anak-anak ayah dan bunda datang kerumah, silahkan kunjungi website kami di smartsukses.com, Bimbingan Belajar, Les Private, Les Privat, Les Private Mata Pelajaran, Guru Datang Ke Rumah, Guru Private

    ReplyDelete
  138. betul betul setuju sekali sama artikel ini, jadi punya referensi tambahan, maklum baru mau punya anak :D
    mungkin yang disini bisa mencoba referensi majalah intisari edisi extra bln November disitu bagus banget cara untuk mendidik anak mulai dr bayi agar anak diarahkan untuk suka membaca, makan sayur, sopan santun, dll.

    ReplyDelete
  139. artikel yg sngt bagus, komen2 nya jg luar biasa, pas bgt sm aku yg br marahin anakku..... jd sangat menyesal, ntar pulang sekolah aku akan minta maaf, tank's ilmunya...

    ReplyDelete
  140. Beberapa dari artikel diatas ada yg pernah saya lakukan dalam mendidik anak. kelihatan bedanya perlakuan anak saya terhadap saya(bapaknya) dan Ibunya. ibunya kurang konsisten dgn hukuman karena ancamannya terlalu berlebihan, sedangkan saya konsisten dengan hukuman, namun ancaman hukumannya harus dipikirkan dan yakin bisa kita lakukan dan dilakukannya. begitu pengalaman saya yg sdh punya anak 3 org. :)

    ReplyDelete
  141. hmm pantas aja
    kelakuan anak-anak kayak gitu
    thanks bget infonya
    nambah ilmu nih :D
    bisa di terapin ke sepupu2 aq yg lgi masa2 nakal2nya
    (3-5 thun)

    ReplyDelete
  142. artikel ini ada benernya, wlaupun menurut saya tidak semuanya benar. krn setiap anak punya karakter yang beda, jadi harus kita hadapi dengan cara yang beda pula.... bagi orang tua harus sabar dalam mendidik anak, berikan keteladanan, jangan lupa mohon doa pada Allah
    by: muslimah :)

    ReplyDelete
  143. Anak itu punya zaman sendiri-sendiri. Zamanya anak beda dengan zamannya orang tua. Orang tua hrs banyak memperhatikan anak, bukan sebaliknya. Orang tua pernah menjadi anak dan anak belum pernah jadi orang tua

    ReplyDelete
  144. Halo semua...untuk teman2 yang suka nonton berita, bola, dll di TV streaming, yuks nonton gratis di: www.indostreaming.tv (disalin linknya)
    - Channel: Rcti, Global TV, Sindo TV, dll

    Untuk yang suka musik, gabung dan berbagi cerita di forum musik online Musikpedia di: www.musikpedia.co.id

    ReplyDelete
  145. Halo semua...untuk teman2 yang suka nonton berita, bola, dll di TV streaming, yuks nonton gratis di: www.indostreaming.tv (disalin linknya)
    - Channel: Rcti, Global TV, Sindo TV, dll

    Untuk yang suka musik, gabung dan berbagi cerita di forum musik online Musikpedia di: www.musikpedia.co.id

    ReplyDelete
  146. #Menjadi Orang Tua , sudah pasti sangatlah tidak mudah .Jika asal bisa punya anak , ABG juga bisa ..............

    ReplyDelete

:ambivalent:
:angry:
:confused:
:content:
:cool:
:crazy:
:cry:
:embarrassed:
:footinmouth:
:frown:
:gasp:
:grin:
:heart:
:hearteyes:
:innocent:
:kiss:
:laughing:
:minifrown:
:minismile:
:moneymouth:
:naughty:
:nerd:
:notamused:
:sarcastic:
:sealed:
:sick:
:slant:
:smile:
:thumbsdown:
:thumbsup:
:wink:
:yuck:
:yum:

Next Post
Newer Post
Previous Post
Older Post